Category Archives: HR Series

Human Resource Business Partner

Background

Fakta menunjukkan dibalik perusahaan yang memiliki profit-sustainability (kemampulabaan yang berkesinambungan) ialah yang memiliki Manajemen Manusia yang baik. Hanya 2 hal yang membuat suatu bisnis dapat meraih visi dan misi-nya, yaitu: Sisi Teknis dan Sisi Manusia. Sisi Teknis berbicara mengenai strategi bisnis. Namun, bila hal tersebut tidak diikuti oleh penyelarasan (alignment) Sisi Manusia maka seberapa canggihpun strategi bisnis yang ada tentu tidak akan berjalan dengan baik.

Regulasi Ketenagakerjaan Di Sektor Pertambangan

DESKRIPSI

Dinamika operasional di sektor pertambangan mempunyai pekerjaan yang berisiko tinggi dan tingkat stress yang tinggi. Adanya aktivitas drill & blasting, manuver alat berat, cuaca panas atau dingin, maupun medan geografis yang berat mempunyai risiko bahaya yang mengintai keselamatan para pekerjanya. Hal itu ditambah dengan target produksi yang harus tercapai sehingga mengakibatkan para pekerja tambang rentan mengalami tingkat stress yang tinggi. Oleh karena itulah, para pekera tambang memiliki hak untuk istirahat selama beberapa periode tertentu.
Kementerian Tenaga Kerja RI sudah menerbitkan peraturan perundangan di bidang ketenagakerjaan di sektor pertambangan yakni Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. 234/MEN/2003 mengenai Waktu Kerja dan Istirahat pada Sektor Usaha Energi dan Sumber Daya Mineral pada Daerah Tertentu. Pasal 2 ayat 1 Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. 234/MEN/2003 mengatur tentang waktu kerja pada perusahaan yang bergerak pada sektor energi dan sumber daya mineral pada daerah tertentu.
Disamping itu, Kementerian Tenaga Kerja RI sudah menerbitkan peraturan perundangan di bidang ketenagakerjaan di sektor pertambangan yakni Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. 15/MEN/2005 mengenai Waktu Kerja dan Istirahat pada Sektor Usaha Pertambangan Umum pada Daerah Operasi Tertentu. Pasal 2 ayat 1.b  Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. 15/MEN/2005 menyebutkan bahwa pekerja mendapatkan hak cuti rooster/istirahat setelah periode kerja maksimal 10 minggu berturut-turut bekerja, dengan mendapatkan 2 minggu berturut-turut istirahat dan setiap 2 minggu dalam periode kerja diberikan 1 hari istirahat.

General Affair (GA)

DESKRIPSI

Peran General Affair (GA) dalam suatu perusahaan pada umumnya masih kurang diperhatikan, bila dibandingkan dengan peran departemen produksi yang secara langsung menghasilkan profit bagi perusahaan. Padahal sebagai supporting unit, General Affair memiliki peran yang tidak kalah penting bila dibandingkan dengan departemen lain. Tanpa General Affair yang professional, organisasi tidak dapat menghasilkan performance yang optimal.
Supaya tugas operasional perusahaan berjalan lancar, general affair harus memahami semua tugas dan dapat melaksanakan secara efektif dan efisien. General Affair adalah supporting unit yang bertujuan memberikan pelayanan- pelayanan kepada unit-unit kerja lain. Bahkan pada umumnya, GA melayani seluruh unit kerja di perusahaan (bersifat shared service) dalam hal administrasi dan pengelolaan pelayanan rutin kantor. Tugas seorang GA sungguh sangat kompleks karenanya biasa disebut “Job Matrix” yang mana biasanya dalam satu waktu seorang GA dituntut menyelesaikan beberapa permasalahan. 
Karakteristik pekerjaan dari General Affair adalah banyaknya variasi tugas sehingga membutuhkan pengetahuan luas dan keterampilan teknis yang umum dan dituntut memiliki kompetensi yang baik, yang mampu menjalankan semua tugas dan tanggung jawab secara baik. Training General Affair ini akan membekali peserta agar kinerja dari departemen GA dapat diandalkan untuk menangani beragam tugas, berinteraksi dan berkoordinasi baik internal maupun eksternal, sehingga sangat mendukung tercapainya visi dan misi perusahaan secara efektif dan efisien.

Hukum Ketenagakerjaan Dan Hubungan Industrial

Acapkali terjadi perselisihan antara Employer (majikan) dengan Employee (pekerja) di dalam satu perusahaan di dalam sebuah hubungan kerja, karena berbagai hal di antaranya adalah karena kekurang pengetahuan para pihak akan aspek aspek ketenagakerjaan terutama dalam bidang hukum. Seharusnya para pihak “ngeh” akan aspek aspek tersebut sejak saat Perjanjian Kerja ditandatangani atau bahkan sebelumnya dengan demikian perselisihan pada saat berlangsungnya atau terlaksananya hubungan kerja dapat dihindari atau diminimalisir.

Competency Based Assessment Center

Latar Belakang dan Tujuan

Salah satu tahapan paling krusial dalam proses manajemen untuk menetapkan seseorang yang akan menduduki suatu posisi atau jabatan tertentu ialah Proses Seleksi.

Proses seleksi ini biasanya terjadi dalam rekrutmen, promosi, maupun penentuan dan pengembangan talent.

Dalam beberapa penelitian, Metode Assessment Centre merupakan metode yang paling akurat sebagai prediktor untuk meramalkan apakah seseorang akan sukses atau tidak  dalam melakukan pekerjaannya kelak.

Namun, kesuksesan Assessment Centre sebagai prediktor tidaklah berdiri sendiri. Tanpa kriteria yang jelas tentang kompetensi apa yang dipersyaratkan untuk dapat sukses melakukan suatu pekerjaan maka boleh jadi Assessment Centre mengukur sesuatu yang salah.   

Untuk itu, training ini dirancang untuk memahami dan terampil  dalam melakukan 3 hal sekaligus, yaitu: Assessment Centre sendiri sebagai metode, Competency Profiling, dan Competency Based Interview dengan approach Behavioral Event Interview.

Sasaran 

  1. Pemahaman tentang Assessment Centre dan prosesnya
  2. Manajemen Program Assessment Centre
  3. Memahami tools yang dipakai pada Assessment Centre
  4. Sarana dan prasarana Assessment Centre
  5. Pemahaman tentang kompetensi
  6. Keterampilan memprofile kompetensi
  7. Pemahaman dan keterampilan BEI
  8. Pemahaman dan keterampilan pembuatan laporan
  9. Pemahaman dan keterampilan melakukan feedback assessment

Facilitator

Agus Mauludi, Psi.

Memiliki pengalaman hampir 20 tahun sebagai praktisi dalam memimpin Bagian Human Resources di Astra Group, Napan Group, dan salah satu perusahaan energi di Indonesia, Senior Konsultan di salah satu Konsultan Manajemen Internasional, dan Senior Trainer di Value Consult. Beberapa klien yang pernah ditangani, antara lain: Adaro Indonesia, Pertamina Persero, Telkomsel, Excelkomindo, Jamsostek, Freeport, Pemerintah Brunei, Pemerintah Timor Leste, dan lain-lain.
Agus Mauludi berlatar pendidikan sebagai Psikolog dari Universitas Indonesia. Beberapa topik yang biasa dibawakan dengan sangat baik, antara lain: Leadership, People Management, HR Management, Communication, Negotiation, Training for Trainer, Corporate Culture, dan training-training soft skill lain.
Agus Mauludi perna menjadi saksi ahli Psikologi dalam persidangan kasus pembunuhan Mirna Wayan Salihin dengan terdakwa Jessica