{"id":887,"date":"2022-07-21T12:47:47","date_gmt":"2022-07-21T12:47:47","guid":{"rendered":"https:\/\/valueconsulttraining.com\/blog\/?p=887"},"modified":"2022-07-21T12:47:47","modified_gmt":"2022-07-21T12:47:47","slug":"romeo-juliet-dan-komunikasi-perusahaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/valueconsulttraining.com\/blog\/pengembangan-sdm\/romeo-juliet-dan-komunikasi-perusahaan\/","title":{"rendered":"Romeo-Juliet dan Komunikasi Perusahaan"},"content":{"rendered":"\r\n\r\nSiapa yang tak kenal kisah Romeo dan Juliet. Ini kisah tragedi komunikasi karya William Shakespeare yang tak lekang oleh waktu. Awalnya \u00a0dibuat berdasarkan cerita di Italia, lalu tahun 1562 diubah jadi sajak dalam <em>The Tragical History of Romeus and Juliet<\/em> oleh Arthur Brooke. Kemudian diceritakan kembali dalam <em>Palace of Pleasure<\/em> karya William Painter tahun 1582 dan menjadi hits di seluruh dunia. Perspektif komunikasi mengatakan bahwa Romeo Juliet gagal mencapai tujuan karena faktor komunikasi yang salah!\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nMengapa disebut sebagai tragedi komunikasi? Karena awalnya,\u00a0 Juliet samasekali tidak berencana nekad \u00a0bunuh diri. Ia hanya ingin\u00a0 minum obat yang akan membuatnya koma sementara, bukan bunuh diri. \u00a0Rencananya, Friar &#8211; yang ingin kedua keluarga melakukan rekonsiliasi &#8211; \u00a0berjanji akan mengirim pesan mengenai skenario \u201dbunuh diri pura-pura\u201d ini kepada Romeo. Jadi mereka dapat bertemu kembali setelah Juliet\u00a0 terbangun.\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nSialnya Friar &#8211; sang pembawa pesan &#8211; tidak berhasil bertemu Romeo. Malah Romeo mendapat informasi yang salah bahwa Juliet telah meninggal dunia! Patah hati karena tak menyangka Juliet tega meninggalkannya, akhirnya Romeo minum racun. Saat Juliet terbangun dan melihat Romeo meregang nyawa, ia memutuskan bunuh diri dengan pisau. Inilah contoh klasik <em>miscommunication<\/em> yang berujung pada maut.\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nNah, m<em>iscommunication<\/em> juga sering terjadi di banyak perusahaan. Berdasarkan observasi kami, 70% masalah di kantor disebabkan oleh <em>misscommunication<\/em>. Baik di level corporate, antar department, maunpun di level antar individu. Tidak aneh kalau apa yang dimaksudkan dan diinginkan \u00a0oleh manajemen puncak seringkali diterjemahkan secara berbeda di level operasional.\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nBaru-baru ini kami menangani masalah yang disebabkan oleh <em>miscommunication <\/em>di salah satu perusahaan besar<em>. <\/em>Seperti biasa, manajemen puncak selalu berfokus pada pencapaian target perusahaan dan mengharapkan lapisan dibawahnya juga mempunyai tujuan yang sama. Mereka ingin agar karyawan lebih peduli terhadap kemajuan perusahaan dan berusaha berkontribusi lebih kepada keuntungan perusahaan.\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nSayangnya karena komunikasi internal yang kurang tepat, di lapisan bawah justru terjadi keresahan. Sebelum saat pulang (jam 5 sore), para karyawan sudah pada antri di depan mesin absensi. Jarang ada yang berusaha berkontribusi lebih, misalnya dengan menghabiskan lebih bayak waktu bekerja di kantor. Ketika ditanya mengapa,\u00a0 mereka memberikan jawaban yang mungkin anda sering dengar. \u201cTeng-Go\u201d. Maksudnya sudah saatnya pulang, ngapain lama-lama di kantor. Nggak bakal dibayar lebih deh. Rupanya kalau pulang lebih larut, dianggap hanya buang-buang waktu dan dijadikan \u201csapi perah\u201d. Wah apa yang sedang terjadi ?\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nManajemen puncak perusahaan ini \u2013 yang banyak terdiri dari ekspat &#8211; pun terheran-heran dengan fenomena ini. Kok para karyawan sudah antri ingin clock-out sebelum jam pulang berakhir? Akhirnya kami dipanggil untuk menemukan akar masalahnya. Ternyata&#8230;\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nTernyata telah terjadi <em>miscommunication <\/em>antara manajamen dengan karyawannya.\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nDalam sebuah Focus Group Discusssion,\u00a0 ada pegawai yang menyampaikan unek-uneknya: \u201c Mau meningkatkan kinerja perusahaan? Pulang lebih malam? Ini ibaratnya seperti mendorong mobil yang mogok. Kami diminta untuk mendorongnya rame-rame. Namun kalau mobilnya sudah jalan apakah kami juga diajak masuk? Kami kawatir kalau ujung-ujungnya malah ditinggal begitu saja&#8230;.\u201d.\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\u201d Mereka enak duduk di mobil ber-AC yang sudah jalan, kami hanya menghirup bau knalpot-nya saja&#8230;.\u201d, wakil dari karyawan menimpali. Tragis kalau pegawai sampai berkata begitu. Kalau dibiarkan terus menerus, ujung-ujungnya perusahaan bakal bisa menyerempet maut, seperti tragedi komunikasi Romeo Juliet diatas.\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nSusahnya, \u00a0ruang untuk berkomunikasi juga terbatas dan sering salah pendekatan. Jarang bahkan hampir tidak pernah perusahaan berdialog dengan <em>internal customers<\/em>-nya sendiri. Pemimpin puncak lebih giat \u00a0mencari <em>customer insight<\/em>, tetapi lupa <em>menggali employee insight<\/em>. \u00a0Mungkin karena dilandasi pemikiran bahwa mengejar <em>customer insight<\/em> lebih cepat mendatangkan fulus bagi perusahaan, sedangkan menggali <em>employee insight<\/em> hanya akan menambah <em>cost<\/em> dan beban pikiran bagi perusahaan.\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nPemimpin puncak karenanya juga lebih sibuk mencoba tampil di depan publik ekternal dengan mengkomunikasikan betapa bonafidnya \u00a0perusahaan tersebut, dengan fakta, data dan angka-angka profit. Juga mengkomunikasikan kepada publik seakan-akan perusahaan sangat peduli dengan lingkungan sekitarnya dalam bentuk CSR (Corporate Social Responsibility). Pemimpin puncak tidak sungkan-sungkan mengeluarkan biaya yang besar dalam berpartisipasi di kegiatan tersebut, namun pelit mengeluarkan investasi untuk meningkatkan komunikasi dengan pegawainya sendiri. &#8230;\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nBisa ditebak akan terjadilah rumor-rumor yang meresahkan dan mengganggu produktifitas kerja. Ujung-ujungnya jelas akan mengganggu pelayanan kepada konsumen. Kalau konsumen tidak puas, mana ada yang bersedia membeli produk\/jasa perusahaan! Akibatnya dalam jangka panjang tentunya mempengaruhi\u00a0 profitabilitas.\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nHal diatas bukan hanya terjadi di satu perusahaan. Kasus nyata ini juga \u00a0terjadi di salah satu bank yang sudah di-komplain oleh banyak nasabahnya. Untungnya tahun ini bank tersebut sadar dan mulai bergerak. Mereka mulai mencari tahu\u00a0 mengapa komplain itu terjadi dengan cara memanggil konsultan. Hasil akhir menunjukkan bahwa komplain nasabah dimulai dari pegawai yang tidak puas dan merasa tidak didengar oleh manajemen. Masalah klasik komunikasi internal&#8230;!!\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nRiset pengaruh \u00a0komunikasi internal terhadap \u00a0efisiensi \u00a0kerja karyawan pernah dilakukan di PT. Perkebunan Nusantara III Medan. Berdasarkan riset tersebut didapat pengaruh komunikasi internal terhadap efisiensi kerja karyawan, yakni sebesar 73,6%. Wow, suatu angka yang cukup signifikan. Ini berarti jikalau komunikasi internal ditingkatkan, efisiensi kerja karyawan juga akan meningkat secara signifikan.\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nBagaimana mencegah miskomunikasi sebelum parah? Simak pemaparannya pada edisi berikut&#8230;\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nPenulis\u00a0 :\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Daniel Saputro, MM., MBA. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Senior Corporate Advisor<\/strong><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nDaniel Saputro dan tim BusinessBuddy Int memiliki pengalaman 21 tahun dalam perbaikan kinerja perusahaan. Kami aktif memberikan pembekalan maupun konsultasi terutama di bidang transformasi dan manajemen perubahan di 4 area yakni: Business Model (termasuk Balanced Scorecard dan Strategy Map)\u00a0 \u2013 People Development\u00a0 \u2013 Process \u2013 Culture Internalization, yang mengarah ke Auto Pilot System.\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nNuqul Group (Yordania) dan Banpu (Thailand) adalah contoh perusahaan internasional yang telah menggunakan jasa konsultasinya. Di dalam negeri, Daniel menjadi konsultan bagi banyak perusahaan maupun institusi pemerintah. Di antaranya Jamsostek, Bea Cukai, Sekretariat DPR, Jasa Sarana BUMD Jabara, BioFarma Bandung, Kementerian Keuangan PUSINTEK, Pertamina, LPP BUMN di Jogja dan BTN.\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nPerusahaan swasta nasional sering menunjuk Daniel sebagai konsultan. Sebut saja Indocement, Triputra, Bosowa (Makasar), Tunas Ridean Group, MusimMas (Medan), Capella (Medan), CPSSoft, ILP, Darya Varia, KPUC (Samarinda), Medifarma, Prafa. Indospring (Surabaya) dan Acer (Jakarta) , Infomedia dan Sentul City. Beliau juga aktif memberikan pelatihan di Chevron, Astra, Commonwealth Bank, TOTAL EP, Holcim dan banyak lainnya\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nDi sisi lain, Daniel Saputro juga memiliki minat yang besar terhadap dunia pendidikan. Karena itu, kini, dia aktif menjadi fasilitator MiniMBA serta pengajar mata kuliah bisnis dan pemasaran di program S2. Daniel juga menggunakan tulisan sebagai sarana untuk membagikan ilmunya. Ia menjadi kontributor untuk Tabloid KONTAN, Swa, dan Jakarta Post.\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nUntuk Family Business, kami membantu suksesi dan transformasi menuju\u00a0 perusahaan yang lebih professional. Dengan cara membentuk Leadership yang profesional dan menggunakan KPI\u00a0 berbasis balanced Scorecard.","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Siapa yang tak kenal kisah Romeo dan Juliet. Ini kisah tragedi komunikasi karya William Shakespeare yang tak lekang oleh waktu. Awalnya \u00a0dibuat berdasarkan cerita di Italia, lalu tahun 1562 diubah jadi sajak dalam The Tragical History of Romeus and Juliet oleh Arthur Brooke. Kemudian diceritakan kembali dalam Palace of Pleasure karya William Painter tahun 1582 &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/valueconsulttraining.com\/blog\/pengembangan-sdm\/romeo-juliet-dan-komunikasi-perusahaan\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Romeo-Juliet dan Komunikasi Perusahaan<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-887","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pengembangan-sdm"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/valueconsulttraining.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/887","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/valueconsulttraining.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/valueconsulttraining.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/valueconsulttraining.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/valueconsulttraining.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=887"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/valueconsulttraining.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/887\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":892,"href":"https:\/\/valueconsulttraining.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/887\/revisions\/892"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/valueconsulttraining.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=887"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/valueconsulttraining.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=887"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/valueconsulttraining.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=887"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}