Kiat Mengukur Kesuksesan Perusahaan

Sungguh menarik menelisik sejarah kesuksesan Romawi. Romawi disebut sebagai republik dan kekaisaran  yang terbesar di dunia karena mampu menguasai Laut Tengah dan Eropa. Disebut terlama karena mampu bertahan selama 21 abad lamanya!. Dari 7 abad sebelum masehi sampai abad ke 14 setelah masehi (saat kejatuhan Konstantinopel).  Romawi adalah contoh  bagaimana suatu organisasi dapat diukur kesuksesannya berdasarkan parmeter luas daerah dan waktu.

Tetapi bagaimana cara menentukan  derajat kesuksesan perusahaan ? Sejatinya semua perusahaan tentunya ingin sukses. Sukses mencapai laba yang lebih tinggi, sukses menggapai pertumbuhan keuntungan yang cepat. Aaah…betapa menyenangkan kalau itu terjadi. Coba kita bertanya pada diri sendiri: Apakah perusahaan saya sudah tergolong sukses? Apa parameternya? Apakah dengan mencetak profit setinggi-tingginya sudah dapat dikategorikan sukses. Apakah jika perusahaan bertahan lebih dari limapuluh tahun sudah bisa dibilang berhasil? Seandainya ada parameter yang dapat diukur, tentunya keberhasilannya dapat ditingkatkan !

Mengukur kesuksesan memang susah-susah gampang, karena sejatinya tidak ada kriteria yang jelas mengenai definisi kesuksesan bisnis. Ada ahli manajemen yang mencoba mendefinisikan kesuksesan perusahaan dengan menganalisa dua paramater yakni : Survive (bertahan lama dengan empirisnya adalah 50 tahun) dan Growth (pertumbuhan). Jadi sekedar bertahan lama saja tidaklah cukup, namun juga harus ada pertumbuhan. Contoh konkritnya adalah grup Kompas Gramedia yang sudah berusia 50 tahun. Awalnya dimulai dari majalah Intisari, namun saat ini memiliki banyak usaha. Mulai dari percetakan, media TV sampai hotel.

 Sebagai perbandingan, ada usaha penjual bakwan di jalan Mayjen Sungkono Surabaya yang sudah berusia diatas 70 tahun, namun tidak ada pertumbuhan signifikan. Jumlah cabangnya begitu-begitu saja. Karenanya perusahaan tersebut tidak layak disebut sukses.

Ada juga konsultan yang menyarankan empat faktor sebagai penentu kesuksesan perusahaan, yakni: growth (misalnya pertumbuhan sales revenue atau volume unit), liquidity (cash flow yang lancar), efficiency (perbandingan antara cost dengan revenue), serta profitability (ROI-ROE-ROTA dan lainnya). Ke empat faktor ini disingkat menjadi GLEP akan mudah diingat.

Cara tergampang lainnya adalah dengan membandingkan kinerja perusahan kita dengan perusahaan lain. Referensinya dapat menggunakan media bisnis yang terkemuka sebagai sumber informasi. Setiap tahun, majalah bisnis terkemuka baik di tingkat internasional maupun lokal mempublikasikan peringkat perusahaan terbaik. Kesuksesan perusahan dapat ditentukan oleh peringkatnya. Dasar penyusunan peringkat adalah berdasarkan pencapaian perusahaan dalam beberapa pengukuran bisnis tertentu.

Jika perusahaan kita bertarung di tataran internasional, kita bisa merujuk ke beberapa media terpercaya seperti Business Week, Fortune dan Forbes.

Business Week (melalui WORLD’S BEST COMPANIES), mengukur pertama: pertumbuhan nilai perusahaan, kedua: pertumbuhan penjualan, ketiga: kapitalisasi pasar  dan  keempat: penjualan ke pasar internasional, untuk memeringkat kesuksesan perusahaan. Salah satu yang terbaik adalah Nintendo, perusahaan teknologi yang terus berinovasi. Perusahaan game asal Jepang itu mampu berlari diatas gelombang kondisi ekonomi. Walaupun dihajar masa sulit dan sempat hampir tenggelam, Nintendo bangkit melalui inovasi produk seperti Wii. Produk Wii  terjual lebih banyak dari produk Sony maupun Microsoft. Jangan lupakan  si raksasa mesin pencari Google yang memang ”gila” berinovasi. Setelah meluncurkan Google Glass, diyakini akan banyak lagi produk inovatif yang dilempar ke pasar.

Sedangkan Fortune (melalui Fastest-growing companies in the world) lebih fokus menyusun tingkat kesuksesan perusahaan berdasarkan pertama: pertumbuhan EPS, kedua: pendapatan dan ketiga: total return. Perusahaan yang pernah masuk radarnya Fortune antara lain adalah: Apple, Baidu, Cirrus Logic, amazon.com, dan salesforce.com.

Lain halnya dengan  Forbes (melalui World’s Biggest Companies) yang mengukur kesuksesan perusahaan di tingkat global berdasarkan pertama: penjualan, kedua: keuntungan , ketiga: total aset dan keempat: nilai pasar. Nama nama yang masuk antara lain ICBC China, GE, Exxon dan JP Morgan.

Media Regional dan Lokal

Jika perusahaan kita bersaing di tingkat regional, terdapat nama Wall Street Journal. Melalui Asia’s Leading Companies disusunlah peringkat perusahaan terbaik berdasarkan persepsi dari eksekutif dan profesional terhadap kelima faktor yakni: pertama: reputasi perusahaan, kedua: kondisi finansial, ketiga: kualitas produk dan servis, keempat: visi manajemen dan  kelima: inovasi dalam memenuhi kebutuhan konsumen.

Untuk tingkat lokal, setiap tahunnya – melalui majalah bisnis terkemuka seperti SWA – kita bisa membandingkan kinerja perusahaan sukses melalui pengukuran: EVA, Good Corporate Governance dan lainnya. Perusahaan seperti Astra, BCA, Telkom, Mandiri sudah menjadi langganan tetap pemeringkatan ini.

Nah, dengan bercermin dari parameter penilaian perusahaan diatas, sekarang anda bisa melihat derajat kesuksesan  perusahaan anda…

Yang perlu diperhatikan dari faktor-faktor diatas adalah: hampir semua paramater tersebut bersifat lagging indicator. Artinya paramater diatas adalah hasil dari suatu proses. Karenanya untuk mencapai kesuksesan perusahaan, perlu juga diperhatikan faktor leading indicator seperti Customer Loyalty Index, Jumlah defect unit dan jumlah training per tahun. Hal ini juga diamini oleh risetnya 4DX (4 disiplin eksekusi) dan Balanced Scorecard yang fokus tidak hanya di financial perspective.

Bagaimana pendapat anda?  

Penulis  :

Daniel Saputro, MM., MBA.

Senior Corporate Advisor

Daniel Saputro dan tim BusinessBuddy Int memiliki pengalaman 21 tahun dalam perbaikan kinerja perusahaan. Kami aktif memberikan pembekalan maupun konsultasi terutama di bidang transformasi dan manajemen perubahan di 4 area yakni: Business Model (termasuk Balanced Scorecard dan Strategy Map)  – People Development  – Process – Culture Internalization, yang mengarah ke Auto Pilot System.

Nuqul Group (Yordania) dan Banpu (Thailand) adalah contoh perusahaan internasional yang telah menggunakan jasa konsultasinya. Di dalam negeri, Daniel menjadi konsultan bagi banyak perusahaan maupun institusi pemerintah. Di antaranya Jamsostek, Bea Cukai, Sekretariat DPR, Jasa Sarana BUMD Jabara, BioFarma Bandung, Kementerian Keuangan PUSINTEK, Pertamina, LPP BUMN di Jogja dan BTN.

Perusahaan swasta nasional sering menunjuk Daniel sebagai konsultan. Sebut saja Indocement, Triputra, Bosowa (Makasar), Tunas Ridean Group, MusimMas (Medan), Capella (Medan), CPSSoft, ILP, Darya Varia, KPUC (Samarinda), Medifarma, Prafa. Indospring (Surabaya) dan Acer (Jakarta) , Infomedia dan Sentul City. Beliau juga aktif memberikan pelatihan di Chevron, Astra, Commonwealth Bank, TOTAL EP, Holcim dan banyak lainnya

Di sisi lain, Daniel Saputro juga memiliki minat yang besar terhadap dunia pendidikan. Karena itu, kini, dia aktif menjadi fasilitator MiniMBA serta pengajar mata kuliah bisnis dan pemasaran di program S2. Daniel juga menggunakan tulisan sebagai sarana untuk membagikan ilmunya. Ia menjadi kontributor untuk Tabloid KONTAN, Swa, dan Jakarta Post.

Untuk Family Business, kami membantu suksesi dan transformasi menuju  perusahaan yang lebih professional. Dengan cara membentuk Leadership yang profesional dan menggunakan KPI  berbasis balanced Scorecard.

JADWAL TRAINING

Tanggal
(Belum Ada Jadwal)

Lokasi
Hotel di Jakarta

Biaya

-

Bagikan Outline :
Close Menu