Training saja tidak cukup

Saat produktifitas organisasi berjalan datar dan cenderung tidak ada terobosan baru, biasanya dengan cepat sang direktur menyalahkan para karyawannya yang tidak mau dan tidak sanggup mendukung kebijakannya. “Buat orang kita capable dan mampu berpikir kreatif dan inovatif,” pesannya singkat dan jelas kepada sang Manajer HRD. Training segera diadakan sebagai solusi. Lamanya bisa sampai 5 hari. Para peserta diberikan materi yang benar-benar bagus dan sesuai dengan kebutuhan organisasi. Semua peserta merasa senang dan mengaku dapat banyak manfaat.

Masalahnya beberapa bulan kemudian tak ada perubahan berarti. Produktifitas organisasi tetap datar dan ide-ide yang keluar saat training  pada menghilang. Apa ada yang salah? Tidaklah salah jika sang manajer mengirimkan karyawannya untuk ikut training. Training memang WAJIB untuk membuka horizon baru. Namun training bukanlah solusi jangka panjang. Selain faktor: pendampingan berkelanjutan, perlu juga diperhatikan:

Pertama, suasana dan budaya kerja. Banyak sekali peserta yang sehabis training merasa sangat bersemangat untuk menerapkan pengetahuan yang diperolehnya di training. Mereka segera membuat rencana kerja dan mengusulkan kepada atasan. Awalnya atasan merasa senang-senang saja, namun di kemudian hari timbul pertanyaan: jika anak buah saya sukses, jangan –jangan….. dia bisa menggeser posisi saya kelak.

Rupanya karena sistem karir yang tidak jelas, maka setiap kemajuan individu merupakan ancaman bagi atasannya. Kalau begitu, buat apa memelihara anak singa? Demikian pendapat atasannya. Maka program program yang diusulkan sang peserta training, secara perlahan ditinggalkan begitu saja. Sang peserta training juga lama kelamaaan merasa kecewa karena merasa tak didengar, lalu mulai pasif tidak mau lagi mengeluarkan ide….Tragis bukan.

Ada juga peserta yang awalnya bersemangat, namun saat tiba kembali di kantor malah diketawain teman-temannya. “Emang kalau kamu kerja keras, bisa naik gaji dengan cepat. Udah, kerjakan apa yang disuruh saja. Jangan cari penyakit,” demikian temannya “mensemangati”.  Lambat laun akhirnya si peserta training kembali ke kebiasaan lama mengikuti “budaya” perusahaan.

Yang lebih memprihatinkan adalah jika suasana kerja penuh dengan rumor dan sikut menyikut. Yang baru pulang training dicurigai sebagai sosok yang “sok pintar” dan  akan membantah atasan, sehingga perlu segera ”dibina” agar tahu sopan santun. Dalam jangka panjang kalau perlu “dibinasakan”. Karenanya segera dimutasikan ke departemen lain. Lalu timbul rumor: setelah dia kapan kita ya? Peserta training yang masih berjuang akhirnya juga pasrah, setelah menyadari betapa sulitnya mengubah sistem organisasi yang penuh dengan politiking dan saling tikam.

Solusinya: disamping mengirimkan orang kita ke training, BOD perlu melakukan perbaikan sistem yang berkelanjutan. Budayakan suasana kerja yang kondusif dan mendorong karyawan memberikan ide terbaiknya. Penggunaan KPI yang terhubung ke remunerasi, sangat membantu untuk mencegah like and dislike.

Kedua, ada perbaikan infrastructure. Jikalau sistem sudah bagus, maka cobalah memperhatikan infrastructure yang ada. Banyak peserta training yang awalnya ingin serius menerapkan ilmu yang dipelajari, namun saat memasukkan data ke komputer ternyata komputernya ngadat. Saat ingin mencheck daftar harga terbaru, ternyata server-nya down. Ketika ingin berkunjung ke klien, tak diduga mobilnya mogok. Malah tak dibekalin ongkos taksi, sehingga harus naik kendaraan umum ke klien.

Bisa diduga sang klien merasa terganggu akan bau “matahari” saat si sales peserta training masuk ke ruangannya. Ditambah dengan aroma tubuh yang tak sedap karena berdesak-desakan, maka lengkaplah kejengkelan si klien. Merasa mau muntah, si klien berkata: “Saya tidak tertarik dengan produk anda. Pintu tidak dikunci. Silahkan keluar.”

Solusinya: cek kembali seluruh tools dan infrastructure yang ada. Bedakan antara tools yang bersifat investasi atau konsumtif. Pemakaian teknologi memang investasi yang mahal di awal, namun akan sangat berguna dalam jangka panjang. Penggunaan software Accounting seperti Accurate dan pembuatan SOP (Standard Operating Procedure) jelas akan meningkatkan produktifitas dan menjaga konsistensi pelayanan.

Penulis jadi ingat akan salah satu business owner yang awalnya enggan menggunakan program Akuntansi. Namun saat menyadari bahwa uangnya telah digelapkan selama 6 tahun terakhir (senilai 600 juta – itupun yang ketahuan – karena pembukuan yang kacau) oleh orang kepercayaannya sendiri, akhir dibeli juga program akunting (yang cuma senilai 10 juta). Sayangnya nasih sudah jadi bubur.

Ketiga, adanya  4C dari para pemegang saham. C yang pertama adalah Consensus. Harus ada kesepakatan bersama diantara seluruh pemegang saham dan BOC untuk pembuatan keputusan.  Masalahnya sering kali pemegang saham malah berantem yang berujung lambatnya pembuatan keputusan. Apalagi jika masing-masing pemegang saham mempunyai prosentase yang sama. Namun ada juga yang berhasil seperti di Jababeka dengan 10 pemegang saham.

 C yang kedua adalah Commitment . Setelah “palu diketuk” maka keputusan tersebut harusnya sudah dapat dieksekusi. Masalahnya seiring dengan berjalannya waktu, seringkali ada pemegang saham yang “ingkar janji”. Awalnya berkata YA, lalu berubah menjadi TIDAK karena perbedaan kepentingan. Ingat kasusnya Bakrie dan Rothschild? Karenanya BOC pun perlu berkumpul bersama dalam jangka waktu tertentu untuk saling menguatkan. Kalau perlu didampingi oleh konsultan atau orang yang dipercaya.

C yang ketiga adalah Cash. Setiap program-program yang digelar oleh organisasi perlu CAPEX, OPEX dan STRATEX (Strategic Expenditure). Nah yang terakhir ini seringkali “dilupakan” oleh para pemegang saham. Maunya dapat hasil namun enggan menyuntik dana STRATEX. Masih ingat kasus Mandala sebelum berkolaborasi dengan Tiger?

C yang terakhir adalah Communication. Walau bukan tugas utamanya BOC untuk hadir saat training, namun untuk level tertentu (Senior Manager  keatas), kehadiran BOC sangat mampu mendongkrak semangat para peserta training.

Nah, terlihat bahwa training memang perlu namun bukan segalanya. Bagaimana pendapat anda?

Penulis  :

Daniel Saputro, MM., MBA.

Senior Corporate Advisor

Daniel Saputro dan tim BusinessBuddy Int memiliki pengalaman 21 tahun dalam perbaikan kinerja perusahaan. Kami aktif memberikan pembekalan maupun konsultasi terutama di bidang transformasi dan manajemen perubahan di 4 area yakni: Business Model (termasuk Balanced Scorecard dan Strategy Map)  – People Development  – Process – Culture Internalization, yang mengarah ke Auto Pilot System.

Nuqul Group (Yordania) dan Banpu (Thailand) adalah contoh perusahaan internasional yang telah menggunakan jasa konsultasinya. Di dalam negeri, Daniel menjadi konsultan bagi banyak perusahaan maupun institusi pemerintah. Di antaranya Jamsostek, Bea Cukai, Sekretariat DPR, Jasa Sarana BUMD Jabara, BioFarma Bandung, Kementerian Keuangan PUSINTEK, Pertamina, LPP BUMN di Jogja dan BTN.

Perusahaan swasta nasional sering menunjuk Daniel sebagai konsultan. Sebut saja Indocement, Triputra, Bosowa (Makasar), Tunas Ridean Group, MusimMas (Medan), Capella (Medan), CPSSoft, ILP, Darya Varia, KPUC (Samarinda), Medifarma, Prafa. Indospring (Surabaya) dan Acer (Jakarta) , Infomedia dan Sentul City. Beliau juga aktif memberikan pelatihan di Chevron, Astra, Commonwealth Bank, TOTAL EP, Holcim dan banyak lainnya

Di sisi lain, Daniel Saputro juga memiliki minat yang besar terhadap dunia pendidikan. Karena itu, kini, dia aktif menjadi fasilitator MiniMBA serta pengajar mata kuliah bisnis dan pemasaran di program S2. Daniel juga menggunakan tulisan sebagai sarana untuk membagikan ilmunya. Ia menjadi kontributor untuk Tabloid KONTAN, Swa, dan Jakarta Post.

Untuk Family Business, kami membantu suksesi dan transformasi menuju  perusahaan yang lebih professional. Dengan cara membentuk Leadership yang profesional dan menggunakan KPI  berbasis balanced Scorecard.

JADWAL TRAINING

Tanggal
(Belum Ada Jadwal)

Lokasi
Hotel di Jakarta

Biaya

-

Bagikan Outline :
Close Menu