Mendengarkan dengan Benar, Merespons dengan Bijak
Deskripsi Training
Di dunia kerja, tidak semua masalah karyawan terlihat dari performanya. Ada karyawan yang tetap bekerja tetapi sedang menghadapi tekanan, konflik, kehilangan motivasi, masalah relasi, burnout, atau persoalan pribadi.
Leader dan HR sering menjadi pihak pertama yang melihat perubahan tersebut.
Namun, mendengarkan bukan berarti menghakimi, counseling bukan berarti menasihati, dan membantu bukan berarti mengambil alih masalah orang lain.
Training ini membekali Leader dan HR dengan keterampilan dasar untuk melakukan percakapan counseling secara empatik, terstruktur, profesional, dan tetap memiliki batasan peran.
TUJUAN TRAINING
Setelah mengikuti training, peserta diharapkan mampu:
- Memahami konsep dasar counseling di lingkungan kerja.
- Mengenali perubahan perilaku dan emotional signals pada karyawan.
- Membedakan counseling, coaching, mentoring, advising, dan disciplinary conversation.
- Membangun suasana percakapan yang aman dan tidak menghakimi.
- Menggunakan active listening secara efektif.
- Mengajukan pertanyaan yang membantu tanpa menginterogasi.
- Merespons emosi karyawan dengan tepat.
- Menghadapi percakapan sulit secara lebih tenang.
- Menentukan kapan masalah dapat ditangani oleh Leader/HR dan kapan perlu dirujuk.
- Menjaga batasan, kerahasiaan, dan profesionalitas dalam counseling.
SILABUS UTAMA
MODUL 1 : UNDERSTANDING COUNSELING AT WORK
Memahami Peran Leader & HR dalam Counseling
Materi:
- Apa itu counseling di lingkungan kerja?
- Mengapa karyawan membutuhkan ruang untuk didengarkan?
- Counseling : menggurui
- Counseling : memberikan ceramah
- Counseling : menjadi “penyelamat”
- Counseling : terapi klinis
- Peran dan batasan Leader & HR
- Etika dasar counseling di tempat kerja
Aktivitas:
Reflection:
“Ketika karyawan datang membawa masalah, biasanya saya…”
MODUL 2 : READING THE SIGNAL
Mengenali Karyawan yang Sedang Tidak Baik-Baik Saja
Peserta belajar membaca perubahan yang mungkin muncul dalam perilaku kerja.
Materi:
- Perubahan mood
- Menurunnya performa
- Menarik diri
- Mudah tersinggung
- Konflik meningkat
- Absensi meningkat
- Kehilangan motivasi
- Overthinking dan kecemasan
- Perubahan pola komunikasi
Latihan: Peserta diberikan beberapa case study karyawan kemudian menentukan:
Apa yang terlihat?
Apa yang mungkin terjadi?
Apa yang belum kita ketahui?
MODUL 3 : CREATE THE SAFE SPACE
Membuat Karyawan Berani Bicara
Materi:
- Psychological safety dalam percakapan
- Bahasa tubuh
- Tone of voice
- Posisi dan suasana percakapan
- Privacy
- Non-judgmental attitude
- Empathy vs sympathy
- Hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan saat counseling
Latihan:
“Kalimat yang Membuka vs Menutup Percakapan”
Contoh:
(salah) “Kamu terlalu baper.”
vs.
(Benar) “Saya melihat akhir-akhir ini kamu terlihat berbeda. Kalau kamu bersedia, saya ingin memahami apa yang sedang kamu alami.”
MODUL 4 : THE ART OF ACTIVE LISTENING
Mendengar untuk Memahami, Bukan untuk Menjawab
Materi:
- Listening vs hearing
- Active listening
- Attending
- Paraphrasing
- Clarifying
- Reflection
- Summarizing
- Silence
Formula sederhana:
LISTEN, UNDERSTAND, CLARIFY, RESPOND
Praktik:
Listening Pair Exercise
Peserta berpasangan dan berlatih mendengarkan tanpa langsung memberikan solusi.
MODUL 5 : POWERFUL QUESTIONING
Bertanya Tanpa Membuat Karyawan Merasa Diinterogasi
Peserta belajar membedakan pertanyaan yang membuka percakapan dengan pertanyaan yang membuat seseorang defensif.
Materi:
- Open-ended questions
- Clarifying questions
- Reflective questions
- Solution-focused questions
- Pertanyaan yang perlu dihindari
Latihan:
Peserta mengubah:
“Kenapa kamu tidak bisa menyelesaikan pekerjaan ini?”
menjadi pertanyaan yang lebih konstruktif.
MODUL 6 : HANDLING EMOTIONS
Ketika Karyawan Menangis, Marah, Diam atau Defensif
Ini bisa menjadi salah satu modul signature Ibu.
Materi:
- Ketika karyawan menangis
- Ketika karyawan marah
- Ketika karyawan diam
- Ketika karyawan defensif
- Ketika karyawan menyalahkan perusahaan
- Ketika karyawan mengatakan “Saya sudah tidak kuat”
- Bagaimana menjaga emosi diri sebagai counselor
Praktik Role Play:
Case 1: Karyawan menangis.
Case 2: Karyawan marah kepada perusahaan.
Case 3: Karyawan diam dan tidak mau bicara.
Case 4: Karyawan defensif terhadap feedback.
MODUL 7 : DIFFICULT CONVERSATION
Berbicara tentang Hal Sulit Tanpa Memperburuk Situasi
Materi:
- Performance issue
- Konflik interpersonal
- Masalah kedisiplinan
- Motivasi kerja
- Burnout
- Keluhan terhadap atasan
- Konflik antaranggota tim
- Percakapan sebelum tindakan disipliner
Framework:
OBSERVE, ASK, LISTEN, CLARIFY, AGREE, FOLLOW UP
Peserta kemudian melakukan role play counseling conversation.
MODUL 8 : FROM PROBLEM TO AWARENESS
Membantu Karyawan Menemukan Insight, Bukan Memberikan Ceramah
Ini yang dapat membedakan training Ibu dari training counseling biasa.
Peserta belajar membantu karyawan menemukan:
- Apa yang terjadi?
- Apa yang saya rasakan?
- Apa yang saya pikirkan?
- Apa yang saya butuhkan?
Apa yang bisa saya lakukan?
Jadi Leader/HR tidak selalu menjadi orang yang memberikan jawaban.
Karyawan dibantu menemukan kesadarannya sendiri.
MODUL 9 : BOUNDARIES & REFERRAL
Kapan Leader/HR Harus Berhenti dan Merujuk?
Ini wajib ada dalam training agar corporate counseling tidak keluar dari batas profesional.
Materi:
Batas peran Leader
Batas peran HR
Confidentiality
Documentation
Situasi yang membutuhkan bantuan profesional
Kapan perlu referral
Bagaimana melakukan referral tanpa membuat karyawan merasa “dibuang”
Prinsip:
“Kita tidak harus mampu menyelesaikan semua masalah seseorang. Tetapi kita harus tahu kapan harus membantu mereka menemukan bantuan yang tepat.”
MODUL 10 : COUNSELING PRACTICUM
From Knowledge to Skill
Peserta melakukan simulasi counseling dari awal sampai akhir.
Skenario:
- Case A : Performance Drop
- Karyawan mengalami penurunan performa.
- Case B : Conflict
- Karyawan mengalami konflik dengan atasannya.
- Case C : Emotional Distress
- Karyawan terlihat sangat tertekan.
- Case D : Demotivation
- Karyawan merasa pekerjaannya tidak lagi bermakna.
- Case E : Difficult Employee
- Karyawan defensif dan sulit diajak bicara.
- Peserta bergantian menjadi:
- Counselor : Employee : Observer
- Observer memberikan feedback menggunakan checklist.
FRAMEWORK KHUSUS TRAINING
PULIH-C™
Framework Counseling Conversation
P — PAHAMI
Pahami situasi dan konteks.
U — UNDANG BICARA
Ciptakan ruang aman untuk berbicara.
L — LISTEN
Dengarkan tanpa buru-buru memberi solusi.
I — IDENTIFIKASI
Bantu menemukan emosi, kebutuhan dan akar persoalan.
H — HADIRKAN LANGKAH
Bantu menentukan langkah realistis berikutnya.
C — CHECK & CONTINUE
METODE TRAINING
- Training sebaiknya 30% teori + 70% praktik.
- Metode:
- Interactive presentation
- Self-reflection
- Case study
- Group discussion
- Pair exercise
- Role play
- Counseling simulation
- Feedback
- Experiential learning
- Guided reflection
OUTPUT PESERTA
Setelah training, peserta tidak hanya membawa materi, tetapi mendapatkan:
- Counseling Conversation Framework
- Active Listening Checklist
- Powerful Question Bank
- Difficult Conversation Guide
- Employee Observation Sheet
- Counseling Practice Sheet
- Referral & Boundary Guide
- Personal Action Plan
Counseling Skills For Leaders & HR
Membangun Leader dan HR yang Mampu Mendengarkan, Memahami, dan Merespons Karyawan dengan Tepat.
Karena terkadang karyawan tidak membutuhkan orang yang langsung memberikan solusi.
Mereka membutuhkan seseorang yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi, membantu mereka memahami apa yang sedang terjadi, dan mengarahkan mereka pada langkah yang tepat.
Facilitator
Annisa Nurul Rahma
Beliau adalah Trainer, Certified Hypnotist, Certified Hypnotherapist, dan Konselor dengan lebih dari 25 tahun pengalaman di bidang pengembangan diri, modeling, event organizing, dan terapi. Sejak 1998 hingga kini, ia menjabat sebagai Owner MD Star Modelling sekaligus Instruktur Model & Event Organizer. Ia juga pernah menjadi Trainer Kepribadian khusus sekretaris (1999–2004) untuk perusahaan seperti Unilever, Gudang Garam, Sophie Martin, Faber-Castell, dan Wall’s, serta aktif sebagai Counselor & Trainer sejak 1999 hingga sekarang.
Pada 2024, Annisa meraih sertifikasi Certified Hypnotist dan Certified Hypnotherapist, memperkuat perannya dalam terapi dan pelatihan hipnoterapi serta soft hypnosis, baik individu maupun kelompok. Ia juga bersertifikat BNSP Competency Certified Trainer. Keahliannya mencakup modelling, hipnoterapi & soft hypnosis, penyembuhan diri & pelepasan emosi, public speaking & kepercayaan diri, pengembangan kepribadian, event organizing, serta coaching & konseling.
Annisa telah dipercaya oleh berbagai institusi, di antaranya Politeknik Negeri Jakarta, Universitas Indonesia (Vokasi UI), Ortholight Medika Rehabilitation Center, serta Saraswanti Indo Genetech (SIG), salah satu Founder gerakan AKSI (Arsitek Karir Siswa) untuk program kesehatan mental, soft hypnotherapy, public speaking, hingga leadership training — selain aktif menangani terapi privat dan pemulihan diri melalui Publik Training ANR. Dengan pendekatan praktis dan penuh empati, ia berkomitmen membantu setiap individu menemukan potensi terbaiknya dan hidup lebih bermakna.