Corporate Communication Training

Good Corporate Governance (GCG) Implementation

Good Corporate Governance (GCG) Implementation

Training Good Corporate Governance (GCG) Implementation mempelajari bagaimana GCG di Indonesia: Peluang dan Tantangan, bagaimana Konsep dan Tujuan GCG, apa saja Prinsip-prinsip GCG, Studi kasus BUMN yang sukses melaksanakan GCG, dan hal – hal lain terkait GCG. Deskripsi Indonesia terlambat dalam memahami, implimentasi Good Corporate Governance (GCG). Konsep GCG diperkenalkan oleh International Monetary Fund (IMF) dalam rangka pemulihan ekonomi pasca krisis moneter tahun 1998. Pada tahun 2001 Komite Nasional Indonesia untuk Kebijakan Tata Kelola Perusahaan yang Baik, mengeluarkan panduan, arahan bagi perusahaan bisnis Indonesia yang antara lain berkaitan dengan: Pemegang Saham; Fungsi Dewan Komisaris; Fungsi Direksi; Sistem Audit; Sekretaris Perusahaan; Stakeholders;  Prinsip Transparansi; Prinsip Kerahasiaan; Etika Bisnis; Perlindungan Lingkungan Hidup. Dengan usaha, kemauan mantap, Indonesia berusaha mempraktekan konsep GCG, dapat dikatakan sebagian besar telah berhasil melalui Gerakan Moral Bersih, Transparansi, Profesionalism yang merupakan perwujudtan dari Revolusi Mental, sehingga banyak perusahaan BUMN, beberapa perusahaan nasional besar, lembaga/organisasi lainnya telah berhasil dalam implementasi GCG. POKOK BAHASAN Implementasi konsep GCG menyagkut pengembangan 2 (dua) aspek: hardware dan software.  Aspek pertama merupakan teknis pembentukan atau perubahan struktur sistem organisasi; sedang aspek kedua mencakup perubahan paradigma: visi, misi, nilai-nilai etika;  sikap (attitudes and behavioral conducts). Di dunia bisnis lebih mudah, memang merasa perlu untuk mengikuti, memperbaharui penyusunan system, prosedur serta pembentukan sistem organisasi menurut kebutuhan perkembangan dunia usaha. Untuk perubahan software skills & behavioral conducts,peran penting adalah di pucuk pimpinan, leadership. Pucuk pimpinan akan menularkan tindakan manajemen, kemampuan manajemen yang harus dapat mengelola keteraturan, kelancaran proses organisasi serta ketaatan anggota perusahaan terhadap kebijakan, sistem yang dirancang untuk melaksanakan prinsip GCG. Indonesia boleh bangga bahwa yang melopori  tetap memajukan GCG adalah beberapa perusahaan BUMN, berkat ketentuan, arahan Kementerian BUMN, pengembangan serta pemahaman pucuk pimpinan beberapa BUMN. Dalam Penjelasan UU No. 19 tahun 2003 disebutkan Tujuan GCG yang meliputi: Memaksimalkan Nilai BUMN dengan cara meningkatkan prinsip keterbukaan; Mendorong Pengelolaan BUMN secara Profesional; Mendorong agar organisasi dalam membuat keputusan, menjalankan tindakan dilandasi Nilai Moral, Kepatuhan; Meningkatkan Kontribusi BUMN; Meningkatkan Iklim Investasi, Mesukseskan Program Privatisasi. Menjadi contoh nyata juga Pasar Modal mengajarkan  mengharuskan Korporasi Terbuka (Go Public) menjalankan GCG. Dalam implimentasi GCG bagi perusahaan Tbk tentu harus menguasai Manajemen Risiko, Pengelolaan Informasi Teknologi, Pemahaman Regulasi Audit  Praktek Audit yang Transparan, Benar. Contoh keberhasilan menerapkan GCG oleh perusahaan BUMN, korporasi Tbk  yang masuk pasar modal yang nyata-nyata memberi manfaat “lebih” ; haruslah dapat diikuti oleh perusahaan lain baik menengah maupun yang sedang merintis usaha baru. Tidak kalah penting dalam implementasi GCG adalah pemahaman Ilmu Komunikasi yang antara lain berupa penyampaian Informasi, Komunikasi. Informasi bisnis, ekonomi, politik harus difahami, dikomunikasikan dalam bentuk,kerangka waktu yang tepat agar manajemen memungkinkan melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Hal yang perlu diperhatikan: mengikuti dan mendapat informasi eksternal, internal yang penting sehubungan dengan bisnis perusahaan. Menyediakan informasi yang tepat bagi institusi/mereka yang harus diinformasikan. Informasi yang disampaikan terperinci, tepat waktu dapat memberdayakan dalam melaksanakan tanggung jawab secara efektif, efisien. Komunikasi yang efektif harus terjadi dalam pengertian : mengalir kebawah, melintas dan naik ke atas dalam suatu organisasi.  Memahami pentingnya komunikasi demikian mrempermudah untuk pelaporan terjadinya ketidakwajaranyang diduga terjadi, semisal kecurangan: fraud. Dengan sistem komunikasi yang baik dapat dipastikan efektifitas keterbukaan: tranperancy. Tentu ada juga hambatan implementasi Tata Kelola Perusahaan yang Baik (GCG) dan kemungkinan terjadi kegagalan. Kegagalan dapat diindentifikasi dan diperbaiki antara lain: karena terjadinya pengendalian internal yang tidak dihiraukan; karena pengendalian rumit atau terlalu kompleks; karena informasi dan komunikasi tidak berjalan (jelek); karena seringnya terjadi perubahan/modifikasi; dan karena terjadi kebosanan ataupun penolakan. Target Peserta Direksi, Pucuk Pimpinan, Company Secretary Manajemen Level 1 dan 2 Manajemen Pelaksana dan Supervisors Level Metode Pelatihan Bahasan Makalah Ilmiah dan Presentasi Power Point Presentasi Video Studi Kasus Perusahaan yang sukses melaksanakan GCG Interaktif: Diskusi dan pembahasan Problem Solving Bahasan per kelompok dan presentasi dari Brain Storming Sessions Result Oriented Outline Materi GCG di Indonesia: Peluang dan Tantangan Konsep dan Tujuan GCG Prinsip-prinsip GCG: Transparansi, Akuntabilitas, Responsibilitas, Independensi  dan Kemitraan Studi kasus BUMN yang sukses melaksanakan GCG Hardware: Struktur Organisasi, Direksi dan Komisaris, Komite Audit, Sekretaris Perusahaan. Software: Vision, Mission & Values;corporate ethics; attitudes and behavioral conducts; corporate responsibility & sustainable company. Sistem Pengendalian Internal Studi kasus GCG di Perbankan Pelaporan Keuangan dan Persaingan Usaha Tender secara Elektronik Selintas Manajemen Risiko Tanggung Jawab Sosial, Budaya, Moral dan Etika Perusahaan Facilitator Drs. Ludwig Suparmo, MSi & Amirullah MM Lead Trainer: Drs. Ludwig Suparmo, MSi; berpengalaman 30 tahun sebagai supervisor, Manager, General Manager hingga Account Director. Dosen Ilmu Komunikasi, Integrated Marketing Communication, Corporate Social Responsibility, Corporate Ethics & Culture, Issue & Crisis Management. Menulis buku referensi akademik, aktif menulis Jurnal Ilmiah. Berpengalaman 10 tahun sebagai trainer, termasuk untuk institusi pemerintah dan BUMN. Co-Trainer: Amirullah MM, berpengalaman dalam industri perbankan dan dosen manajemen di beberapa PTS.

Meng Optimalkan Peran HUMAS

PENDAHULUAN Permulaan bulan Oktober 2017 ini, Staf Khusus dan Juru Bicara Presiden, Johan Budi, ketika menjadi narasumber dalam Forum Merdeka Barat 9 di Bandung, menyatakan belum optimalnya peran hubungan masyarakat (humas). Banyak capaian Pemerintah kurang terekspos, menganjurkan Kementerian terkait bersama Pemda perlu mengoptimalkan peran humas. Informasi perlu dikemas dengan baik agar menarik bagi masyarakat. Ditambahkan bahwa humas sekarang juga harus mengikuti perkembangan media social. Tujuan Workshop Memahami dan melaksanakan Strategi Kehumasan yang tepat Membina hubungan yang efektif dengan Media (Media Relations) Menyiapkan Program-program kehumasan: penulisan Press Release, penulisan artikel, perencanaan dan mengadakan kunjugan ke tempat-tempat yang harus lebih diekspos (site visits), mengadakan Press Coference Memahami Komunikasi Eksternal yang Efektif Menyiapkan berita yang bermakna dan penting untuk disiarkan oleh Media (news worthy) Membentuk tim Humas yang Percaya Diri dan Trampil Memahami Media Konvensional dan Digital PR – termasuk Media Sosial Mengevaluasi Program untuk Revisi dan Perbaikan Berikut tinjaun ilmiah Strategi PR (Kehumasan) yang akan diperdalam untuk pemahaman dan pelaksanaan lapangan: Proses PERENCANAAN STRATEGI PR Langka Empat Langkah MEndefinisikan Masalah Perencanaan dan peograman Mengambil tindakan dan komunikasi Mengevaluasi program Langkah Perencanaan Strategis dan Outline Program Problem, perhatian atau peluang apa yang sedang terjadi Analisis situasi (Internal dan Eksternal) Tujuan Program Publik Sasaran Sasaran apa yang harus dicapai Startegi aksi Strategi komunikasi apa isi pesan yang harus di sampaikan Rencana Implementasi Rencana evaluasi Umpan Balik dan Penyesuaian program Yang Wajib Menhadiri Workshop Kepala Divisi Humas (Komunikasi) dengan seluruh jajaran stafnya; Sekretaris Kementerian/Pemda/Instansi pemerintah; Bupati/Wakil Bupati; Walikota/Wakil Walikota; Wakil Gubernur. Facilitator  Drs. Ludwig Suparmo, M.Si praktisi Humas, Akademisi Ilmu Komunikasi selama 30 (tigapuluh tahun) lebih. Membaktikan  Pelatihan dan Penyertaan bagi perusahaan swasta dan instansi Pemerintah.

Good Corporate Governance – Best Practice (BUMN)

Good Corporate Governance – Best Practice (BUMN)

Good Corporate Governance – Best Practice (BUMN) mempelajari mengenai Visi, Misi dan Value ke Corporate Culture, bagaimana pembinaan Corporate Culture ke Good Corporate Governance dan hal lainnya terkait Good Corporate Governance – Best Practice. Deskripsi GCG atau Tata kelola Perusahaan yang Baik merupakan “Conditio sine Quanon” bagi perusahaan BUMN/organisasi bisnis, baik dibidang finansial/perbankan/asuransi maupun industri modern menghadapi globalisasi dan tuntutan masyarakat serta arahan pemerintah. Outline Materi Dari Visi, Misi dan Value ke Corporate Culture Pembinaan Corporate Culture ke Good Corporate Governance Studi Kasus perusahaan yang melaksanakan GCG dengan berhasil sangat baik Best Practice Code of Conduct sebagai pelaksanaan GCG Facilitator Ludwig Suparmo Ludwig mendapat undangan presentasi untuk BI Jawa Tengah di Magelang; membahas kasus Ibu Miranda Gultom sebagai imbas Issue komunikasi; turut serta sebagai pelatih berkomunikasi dengan baik bagi wajib pajak di Dirjen Pajak Pusat ketika sosialisasi kesadaran bagi wajib pajak. September 2017, memberikan problem solving dalam mengajag karyawan dalam pelaksaan Code of Conduct.

Pelatihan Percaya Diri (PD)

Latar Belakang Pelatihan Percaya Diri Menimbulkan dan membina Percaya Diri (PD) merupakan hal utama dalam membawakan diri didalam pergaulan masyarakat; baik itu secara terbatas diantara keluarga dan teman-teman, lebih lagi jika keluar dari lingkungan zona nyaman, diantara orang banyak.

Strategi Pembentukan Opini Publik

Training  Strategi Pembentukan Opini Publik mempelajari bagaimana fungsi dan peran opini publik, dinamika opini publik, bagaimana proses terjadinya opini, bagaimana pengaruh kelompok dan pemimpin opini, bagaimana komunikator terpercaya dan penyampaian pesan yang efektif, dan hal – hal lain terkait Strategi Pembentukan Opini Publik . Pemahaman secara komprehensif Opini Publik yang bertumpu pada ilmu Public Relations sangat penting dikuasai bagi manajer/kader/pimpinan. Opini Publik atau Public Opinion merupakan fenomena dalam kehidupan sosial, politik, dalam dua dekade terakhir menjadi sorotan pinting di Indonesia.

Training Integrated Corporate Communication

Training Integrated Corporate Communication bertujuan memberikan mindset dan pemahaman tentang Integrated Corporate Communication. Deskripsi Pelatihan Komunikasi yang berjalan terpisah di masing-masing departemen, berarti proses komunikasi perusahaan tersebut tidak terintegrasi. Padahal jika proses komunikasi tersebut berjalan terintegrasi, akan ada banyak benefit yang bisa diperoleh suatu organisasi/perusahaan. Praktek Komunikasi Perusahaan Terintegrasi tidak hanya bertujuan untuk memajukan rencana pemasaran – seperti yang telah banyak dilakukan melalui IMC (Integated Marketing Communication). Lebih dari itu komunikasi perusahaan yang terintegrasi juga bertujuan untuk memajukan rencana operasional perusahaan secara keseluruhan dan menyelaraskan antara merek (brand) dengan reputasi. Dengan demikian, perusahaan dengan segenap potensi yang dimiliki harus mulai memikirkannya untuk keberlanjutan bisnis perusahaan. Tujuan Pelatihan Melalui pelatihan Integrated Corporate Communication ini diharapkan peserta: Memahami konsep dan membangun mindset mengenai Integrated Corporate Communication. Mampu merancang dan mengembangkan strategi komunikasi perusahaan yang terintegrasi. Memahami peran komunikasi perusahaan dalam mendukung kebutuhan organisasi secara menyeluruh. Mampu mengidentifikasi stakeholder dan isu yang dapat memengaruhi komunikasi perusahaan. Memahami proses perencanaan dan pengembangan komunikasi perusahaan yang terintegrasi. Peserta Pelatihan Pelatihan ini ditujukan bagi: Profesional yang bekerja di bidang Corporate Communication. Corporate Secretary yang terlibat dalam pengelolaan komunikasi perusahaan dan stakeholder. Profesional Public Relations/Humas yang bertanggung jawab terhadap komunikasi internal maupun eksternal. Profesional External/Internal Relations yang terlibat dalam membangun dan mengelola hubungan dengan stakeholder. Profesional atau pihak lain yang memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan komunikasi perusahaan. Outline Materi Konseptual Corporate Communication Ruang Lingkup Corporate Communication dan Job Description Pemahaman dan Pemetaan Stakeholder (pemangku kepentingan) Identifikasi Isu Organisasi (Internal / Eksternal) Menilai Intensitas Isu dan Penetapan Isu Prioritas Perencanaan dalam Mengintegrasikan Komunikasi Perusahaan Pendekatan dan Corporate Communication Strategy Proses dan Pengembangan Komunikasi Perusahaan Leadership & Communications Skill Metode Pelatihan Pelatihan dilakukan melalui pendekatan interaktif dan aplikatif dengan metode: Praktik untuk membantu peserta menerapkan konsep komunikasi perusahaan dalam konteks organisasi. Presentasi untuk memberikan pemahaman mengenai konsep dan pendekatan Integrated Corporate Communication. Diskusi untuk membahas berbagai kondisi dan kebutuhan komunikasi perusahaan. Studi kasus untuk membantu peserta memahami penerapan strategi komunikasi dalam situasi organisasi. Sharing experience untuk memperkaya pemahaman peserta berdasarkan praktik komunikasi perusahaan. Facilitator Ujang Rusdianto, S.I.Kom, M.IKom Ujang Rusdianto, S.I.Kom, M.IKom, memiliki pengalaman lebih dari lima tahun dalam bidang Komunikasi Perusahaan dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan/CSR. Sebelumnya aktif sebagai praktisi CSR di PT Newmont Nusa Tenggara (2009), Bank Muamalat (2012), dan Sinarmas Pulp & Paper (2014). Selain itu, ia aktif sebagai staf ahli di PT Cinggarindo Galba (Konsultan Komunikasi dan CSR) dan Dosen di program studi Ilmu Komunikasi, Universitas Paramadina. Publikasi buku yang pernah ia tulis antara lain; Driver for Integrated Marketing Communication/IMC (2012), CSR Communication for PR Practitioners (2013), Cyber CSR (2014) dan Periklanan Korporat (2015).

Training CSR Communication Management

csr-4

Training CSR Communication Management mempelajari mengenai bagaimana konseptual CSR dan komunikasi, bagaimana proses komunikasi CSR Ideal, bagaimana pemahaman dan pemetaan stakeholder sebagai target khalayak, bagaimana mengemas pesan CSR berorientasi Stakeholder, dan hal – hal lain terkait CSR Communication Management. Deskripsi Corporate Social Responsibility (CSR) kini telah menjadi bagian penting dalam menjalankan bisnis Perusahaan. Banyak perusahaan yang kemudian aktif mengkomunikasikan Corporate Social Responsibility, baik yang dilakukan secara langsung maupun melalui media. Corporate Social Responsibility Communication menjadi sama pentingnya dengan pelaksanaan Corporate Social Responsibility itu sendiri. Setiap Public Relations menginginkan komunikasi Corporate Social Responsibility yang efektif. Sayangnya, upaya mengkomunikasikan Corporate Social Responsibility seringkali dijawab hanya dengan menambah media advertising. Perusahaan mungkin bertanya-tanya, apakah media yang banyak ini masih belum cukup? Sebenarnya komunikasi Corporate Social Responsibility yang sukses tidak boleh hanya sekadar dimaknai sebagai proses transmisi informasi dari perusahaan pada stakeholder. Melainkan harus dapat menciptakan pemaknaan yang sama antara perusahaan dan stakeholder. Pelatihan CSR Communication ini akan mengupas tuntas tentang mengkomunikasikan CSR perusahaan. Tujuan Pelatihan Memberikan mindset terkait Komunikasi CSR yang efektif dan efisien Peserta mampu mengkomunikasikan CSR melalui multimedia terintegrasi Target Peserta Corporate Communication Corporate Secretary Public Relations/Humas Administrasi Metode Pelatihan Praktik Studi Kasus Presentasi Diskusi Outline Materi Hari ke-1 Konseptual CSR dan Komunikasi Proses Komunikasi CSR Ideal Pemahaman dan Pemetaan Stakeholder sebagai target khalayak Mengemas Pesan CSR berorientasi Stakeholder Pemilihan media komunikasi CSR dan teknik komunikasinya; Corporate Website Corporate Advertising In-House Magazine Teknik Publikasi CSR melalui media massa Penetapan Tujuan Komunikasi Teknik Penulisan media Creative Communication Media Placement Strategy Hari ke-2 Komunikasi CSR melalui Laporan Keberlanjutan (Sustainable Reporting) GRI-G4 sebagai Panduan Laporan Prinsip-prinsip Pelaporan Kriteria yang harus diterapkan oleh organisasi dalam laporan Pengungkapan Standar Umum dan Khusus Penetapan Material dan Boundary Format Laporan Keberlanjutan Facilitator Ujang Rusdianto, S.I.Kom, M.IKom Ujang Rusdianto, S.I.Kom, M.IKom, memiliki pengalaman lebih dari lima tahun dalam bidang Komunikasi Perusahaan dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan/CSR. Sebelumnya aktif sebagai praktisi CSR di PT Newmont Nusa Tenggara (2009), Bank Muamalat (2012), dan Sinarmas Pulp & Paper (2014). Selain itu, ia aktif sebagai staf ahli di PT Cinggarindo Galba (Konsultan Komunikasi dan CSR) dan Dosen di program studi Ilmu Komunikasi, Universitas Paramadina. Publikasi buku yang pernah ia tulis antara lain; Driver for Integrated Marketing Communication/IMC (2012), CSR Communication for PR Practitioners (2013), Cyber CSR (2014) dan Periklanan Korporat (2015).

Risiko, Issue, Crisis & Problem Solving

Tujuan Pelatihan Memahami Ilmu Risiko, Deteksi Dini, Issue & Crisis Manangement Memahami Metode Pengukuran dan Analisa Risiko & Issue Siap & Mampu Mengumpulkan Informasi dalam Menghadapi Issue & Krisis Memahami Mitigasi Risiko, Issue dan Krisis melalui Creative Problem Solving Dapat Mempraktekan Problem Solving & Decision Making Memahami dan Merespons bila program CSR menghadapi Issue Memahami Ilmu CSR & Corporate Communication Memahami Strategi Pengendalian Situasi melalui Media Relations Siap dan Mampu Berkomunikasi secara Efektif Metode Pelatihan Presentasi & Pembahasan Interaktif Pembahasan Presentasi Power Point Pembahasan Audio dan Video Pemahaman Makalah Ilmiah Pembahasan Studi Kasus Kerja Kelompok: Problem Solving & Crisis Simulation Pembahasan Kasus Risiko Bisnis, Issue & Crisis yang sesungguhnya dapat/pernah terjadi di perusahaan atau organisasi dimana para peserta pelatihan bertanggung jawab. Outline Materi Dalam berbisnis tidaklah mungkin menghindar, sewaktu-waktu terjadi terpaan issue karena adanya risiko bisnis. Selain penting mengetahui adanya potensi risiko kita harus siap menghadapi issue dan mempunyai pengetahuan mengatasinya. Mengelola dampak issue karena risiko ke tingkat minimum agar kelancaran berlangsungnya produksi dan distribusi, tetap dapat mengikuti target yang telah ditetapkan sesuai budget merupakan pemikiran dasar dalam manajemen perencanaan menghadapi issue dan risiko. Memahami apa yang dimaksud dengan manajemen risiko atau risk management dalam kegiatan komunikasi korporasi, berdasarkan manajemen ilmu komunukasi menghadapi kemungkinan terjadinya issue yang dapat berlanjut menjadi krisis, dan upaya­upaya yang harus disiapkan dan dikerjakan. Di dalam praktek banyak kejadian kekurangan pengertian sehingga karena komunikasi tidak lancar, terjadi miss-communication, krisis berlanjut, menjadi lebih parah atau lambat penyelesaiannya. Para ahli manajemen risiko sependapat bahwa ilmu manajemen risiko bukanlah seperti ilmu matematika, tetapi lebih pada diskursus, mendalami pengertian tantangan kedepan yang tidak dapat diperhitungkan secara pasti. Disinilah pentingnya komunikasi pembicaraan, pengertian mendalami tentang sesuatu yang harus diperhatikan dan dipersiapkan. Dalam ilmu manajemen risiko, ilmu komunikasi memegang peran, agar kejelasan maksud dan tujuan yang disepakati bersama dapat dimaterialisasikan sebagai dokumen dan check-list serta daftar isian dan format baku yang disepekati manajemen pelaksana dan pucuk pimpinan. Formulir demikian dewasa ini dengan tersedianya perangkat teknologi informasi dapat disimpan sebagai template yang sewaktu dibutuhkan dapat diakses. Manajemen Risiko dalam ilmu komunikasi berupaya mengetahui dan mengelola early warning signs, yaitu deteksi dini, tanda­tanda kemungkinan bisa terjadinya krisis, sehingga komunikasi dapat dikelola secara efektif dan efisien. Kelanjutan korporasi/institusi bisa terhambat bahkan reputasi korporasi/institusi bisa rusak jika komunikasi tidak dirancang dan dikerjakan secara professional. “A risk assessment is a form of strategic planning and strategy methodology. The worst risk assessment is the one that denies the reality of unpredictability. The best risk assessment is the one that prepares and focuses on resilience.” Industri strategis sesungguhnya memiliki Risk Management Policy and Procedure Manuals, Emergency Preparedness Checklists, Bomb & Terrorism Checklists, Fleet related Company Policies, Workers Compensation Forms, Safety and Inspection Forms, Lease Agreement, Risk and Insurance Audit Checklist, juga Business Continuity Plan Checklist. Acuan yang disetujui sebagai guidelines dalam Risk Management dan Risk Measurement  dibakukan dalam ISO 31000-2009. Acuan dalam dokumen tersebut merupakan disain dan cara implimentasi untuk perencanaan manajemen risiko dan rangka kerja bagi kebutuhan setiap organisasi perusahaan. ISO 31000-2009 merupakan harmonisasi proses manajemen risiko, yang dapat dijadikan standar operasi. ISO 31000-2009 bukanlah suatu sertifikasi. Pengukuran risiko bidang finansial biasanya diadakan oleh auditor keuangan dan aktuaria yang sering juga melibatkan audit pajak dan bagian legal. Pengukuran risiko bidang finansial dan asuransi dapat dihitung dengan metode kuantitatif, antara lain dengan menggunakan Risk Metrix. Namun, risiko diluar bidang finansial merupakan “coping with uncertainty” yang menurut Robert Kreitner dari Arizona State University bahwa jajaran manajemen harus dapat membuat keputusan terbaik, tentang keadaan sekarang dan keadaan yang akan datang. Karena itu diperlukan ilmu problem solving & decision making. Dalam penelitiannya Kreitner menyimpulkan bahwa terdapat korelasi antara ketidak-pastian dan keputusan mantap, rasa percaya diri, yang dibuat oleh seorang manajer. Semakin tinggi rasa percaya diri (confidence), semakin tinggi tanggapan terhadap keadaan yang tidak pasti. Atau sebaliknya: “The more uncertain a manager is about the principal factors in a decision, the less confident he or she will be about the successful outcome of that decision. Decision confidence is lowest when a condition of uncertainty prevails because decisions are then based on educated guesses rather than on hard factual data.” Ketidakpastian (Uncertainty) Manajemen tidaklah bisa berkelit menghindar dari keadaan ketikdakpastian, sebaiknya manajemen harus dapat belajar dan mengatasi ketidakpastian dalam kadar yang dapat diterima. Keadaan ketidakpastian terjadi bila information factual yang dapat dipercaya tidak atau kurang tersedia. “Decision making under condition of uncertainty can be both rewarding and nerve-racking for managers.” Keadaan yang pasti (Certainty) Keadaan yang pasti ialah bila tidak ada keragu-raguan atas basis fakta sehingga suatu keputusan yang mau diambil dalam keadaan pasti dan hasil keputusan itu dapat dipastikan akurat/tepat tidak salah. Risiko Keadaan berisiko atau keadaan dalam risiko dimana suatu keadaan perlu diputuskan atas dasar informasi faktual tetapi tidak lengkap (ada kekurangan tertentu/tidak dapat dikatakan “OK 100%”.) Perhitungan risiko dapat didasarkan pada 2 (dua) propabilitas: objektif dan subjektif. Propabilitas objektif bila berasal dari perhitungan matematis dari data historis. Propabilitas subkjektif berdasarkan pengalaman dan nalar penyampaian pandangan (judgement). Meskipun tidak ada tersedianya data base atas dasar mana dapat diperhitungkan propabilitas objektif, judgemental atau propabilitas subjektif tetap dapat diperhitungkan /di-estimasi. Perhitungan menghadapi risiko disebut juga risk assessment, yang merupakan strategic planning berdasarkan strategy methodology. Strategi adalah  Sarana bersama  dengan tujuan jangka panjang yang hendak dicapai. Manajemen Strategi memungkinkan korporasi/organisasi lebih produktif, inovatif mengarahkan berbagai aktivitas, termasuk  mengontrol dan memelihara citra dan identitas perusahaan/institusi. Risk Mitigation Mitigasi mengacu pada mengurangi dampak issue dan risiko agar tidak berdampak buruk. Contohnya: menarik kembali barang produksi yang di-issuekan atau memang terbukti telah terjadi kesalahan atau kekurangan; namun harus diperhitungkan biaya dan akibat tindakan menarik kembali atau yang dikenal dengan sebutan product recall. Tentu lebih baik menyiapkan diri mengurangi dampak buruk melalui manajemen prudent, Good Corporate Governance, Quality Assurance ataupun kesiapan Keamanan, Keselamatan Kerja (K3 – HSES) dan Customer Relationship Management (CRM). Transfer of Risk Melimpahkan risiko kepada badan usaha/institusi lainnya yang berwenang. Untuk melaksanakan demikian harus diperhitungkan pembayaran premi sebagai imbal balik proteksi yang diberikan: asuransi. Pengetahuan ini harus dikuasi oleh divisi keauangan dengan tetap prudent dan waspada agar tidak terjadi errors and omissions insurance; juga divisi

Crisis Management & Media Relations Simulation For The Airports And Airlines

PENDAHULUAN Berita dari Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) disebar-luaskan di media cetak tanggal 1 Desember, 2016, dengan judul “Rekomendasi KNKT Cenderung Diabaikan”: kecewa bahwa rekomendasi kecelakaan transportasi tidak melakukan tindak lanjut perbaikan. Angkutan darat cuma melaksanakan sembilan (9%) persen rekomendasi. Namun menurut Kepala Sub Komite Investigasi Kecelakaan Transportasi Udara, Kapten Nurcahyo Utomo, sepanjang 2016 terjadi 15 kecelakaan dan 26 insiden serius di Indonesia. Berdasarkan catatan KNKT sektor angkutan udara yang rajin melaksanakan rekomendasi perbaikan. Sepanjang 2010 – 2016, KNKT menyidik 212 kecelakaan dan insiden penerbangan dengan mengeluarkan 404 rekomendasi. Pelaksanaanya mencapai sembilanpuluh lima (95%) persen. Kendati sektor udara paling cepat melaksanakan rekomendasi, jumlah kecelakaan dan insiden penerbangan masih tinggi. Memang, siapa yang dapat memprediksi apakah akan ada kecelakaan? Tidak seorangpun dapat mengetahui terlebih dulu. Karena itu dalam ilmu komunikasi manajemen issue & crisis setiap maskapai penerbangan dan bandara harus selalu siap menghadapi “kejaran” jurnalis dan reporter untuk berita “hangat” suatu kecelakaan. Bagi dunia media Bad News is Good News. Berita KNKT itu termasuk kecelakaan pesawat Sukhoi dalam penerbangan promosi menabrk G. Salak pada tanggal 9 Mei, 2012. Bagaimana derasnya berita-berita kecelakaan, termasuk satu seri ber-bulan-bulan berita Air Asia, Airbus

Manajemen Krisis (Komunikasi) dan Simulasi Hubungan dengan Media bagi Industri Maritim

PENDAHULUAN Ikut serta dalam program Pemerintah meningkatkan dunia kemaritiman perlu perhatian lebih serius dalam mengahadapi, dan lebih penting lagi menyiapkan, agar bila terjadi musibah terhadap kapal/pelayaran dan pelabuhan; komunikasi interen dan eksteren dapat dilaksanakan dengan baik, mantap dan berdayaguna. Daftar panjang kecelakaan dan musibah yang terjadi di dunia pelayaran dan berimbas di berbagai pelabuhan di Indonesia diberitakan secara luas oleh media. Bagamana penanganan komunikasi oleh pimpinan perusahaan pelayaran dan manajemen pelabuhan? Sering kejadian demikian tidak/kurang diperhatikan; dengan demkian akan menurunkan citra dan reputasi maskapai pelayaran, otoritas pelabuhan bahkan juga Kemeneterian dan Badan Pemerintah terkait. Secara frisk tentu akan dilakukan simulasi penangana/pencegahan kecelakaan pelayaran atau kebakaran di kapal dan di pelabuhan; namun menangani komunikasi yang benar dan baik melalui Media Relations secara bersamaann harus diperhatikan dan dilatih. Sejumlah musibah pelayaran juga kebakaran di beberapa area pelabuhan harus kita sadari bahwa penanganan komunikasinya perlu diperhatikan. Kejadian yang tidak diinginkan berimbas pada dunia transportasi laut, industri yang berkaitan dan kepuasan pelayan penumpang kapal. Apalagi bila itu terjadi atas kapal pesiar bagi turis, dimana Kementerian Pariwisata sedang menggalakan destinasi laut dan kepulaun bagi peningkatan pendapatan devisa. Ilmu terapan komunkasi kejadian demikian termasuk dalam Manajemen Krisis Divisi Komunkasi (KeHumasan), sehingga berita yang akan disiarkan tidak merugikan ciitra perusahaan dan pemerintah untuk menaikan kedatangan turis manca negara dan tdak merugikan kepuasan

Program Pembinaan Pengusaha Tempatan

Deskripsi Alternatif program Corporate Social Responsibility (CSR) yang telah teruji untuk pengembangan ekonomi masyarakat lokal Melalui Program Pembinaan Pengusaha Tempatan, Perusahaan dapat mengimplementasikan tanggung jawab sosial perusahaan di daerah operasi secara efektif. Program ini menyediakan pelatihan kewirausahaan bagi masyarakat local (peserta program) dan sekaligus kesempatan terlibat di dalam proyek-proyek Perusahaan sebagai bahan praktikum berbisnis. Tidak hanya pekerjaan proyek, tetapi peserta juga didorong dan dibina untuk memiliki produk bisnis tersendiri. Jadi, peserta tidak hanya belajar teori tetapi juga praktek dan mengembangkan produk bisnis masing-masing secara terpadu. Adapun tujuan dari program ini yaitu menghasilkan pengusaha lokal yang mampu berbisnis secara professional dan mandiri. Dibandingkan dengan program CSR lainnya, program ini memiliki keunggulan yaitu mampu membuat peserta program tidak terus-menerus bergantung kepada Perusahaan. Di beberapa perusahaan besar, program serupa dikenal dengan nama Local Business Development (LBD) dan telah mampu meraih rating tertinggi Emas dalam Program Penilaian Peringkat Perusahaan (disingkat PROPER) yang diselenggarakan setiap tahun oleh Kementerian Lingkungan Hidup sejak tahun 2007. Program ini telah teruji dan terbukti keberhasilannya. Tidak hanya bertujuan untuk pengembangan ekonomi, program ini dapat bersinergi dengan bidang program CSR lainnya seperti Kesehatan, Pendidikan dan Lingkungan. Perusahaan juga akan mendapat keuntungan dalam hal ketersediaan mitra lokal yang mampu memenuhi kebutuhan Perusahaan di daerah operasi baik barang maupun jasa. Juga secara tidak langsung, para mitra lokal binaan ini dapat menjadi agent of change bagi Perusahaan yang mendukung keberlangsungan operasi di daerah secara kondusif. Tujuan Pelatihan Setelah mengikuti Pelatihan Program Pembinaan Pengusaha Tempatan ini, peserta diharapkan memiliki pengetahuan untuk: Memahami bagaimana sebuah program CSR (Community Development) bisa berhasil Memahami peran program pembinaan pengusaha tempatan dalam bersinergi dengan bidang-bidang program Community Development lainnya Memahami seluk-beluk program pembinaan pengusaha tempatan Memahami skema kontrak kerjasama dengan pihak ketiga (konsultan provider) yang menjamin keberhasilan program Bermanfaat untuk mengoptimalkan program-program CSR yang telah dijalankan sebelumnya Bermanfaat untuk ikut serta dalam program PROPER KLH Bermanfaat untuk mendukung kelancaran operasi perusahaan di daerah operasi Metode Pelatihan Training Program Pembinaan Pengusaha Tempatan dilaksanakan dengan metode: Selain pemaparan materi, pelatihan akan dijalankan dengan banyak diskusi dan sharing pengalaman dari para peserta. Di kelas pelatihan juga akan dihadirkan salah seorang pengusaha binaan yang telah sukses mengikuti program ini. Outline Materi Materi training yang akan di bahas topik Program Pembinaan Pengusaha Tempatan adalah : Kesalahan yang biasa terjadi dalam pelaksanaan program CSR Visi program CSR yang mandiri dan berkelanjutan Hubungan antara program CSR dengan pelatihan keterampilan bisnis Tujuan dan peran program pembinaan pengusaha tempatan Stakeholder program pembinaan pengusaha tempatan Alur, persyaratan, seleksi dan tes peserta program Skema program pembinaan pengusaha tempatan Bentuk-bentuk pembinaan dan cakupan materi yang diberikan Kompetensi dan indikator keberhasilan program Indikator keberhasilan program menurut kriteria PROPER Macam-macam materi kewirausahaan dan kisi-kisinya Hubungan dengan dasar-dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) Pelaksanaan pelatihan dan coaching yang efektif Jenis proyek yang bisa diberikan sebagai bahan praktikum Skema kontrak kerjasama dengan pihak ketiga untuk implementasi program Key Performance Indicator kontrak yang menjamin kemandirian peserta program Facilitator Agustinar Ginanjar & Sri Purwadi, St., Mm Agustinar Ginanjar Praktisi dan konsultan pengembangan sumber daya manusia selama lebih dari 15 tahun. Pengalaman konsultan antara lain di IPMI Management Development Center (Institut Pengembangan Manajemen Indonesia) dan MUC Consulting Group. Pengalaman praktisi antara lain sebagai pembina (coaching & counseling) dari lebih 100 perusahaan lokal binaan Chevron Indonesia (program pembinaan ini telah berhasil meraih penghargaan tertinggi tahunan PROPER Emas dari Kementrian Lingkungan Hidup sejak tahun 2010). Juga sebagai tim penulis Buku : A Journey To Gold, KLH Juni 2013, bagian Local Business Development. Menamatkan pendidikan Psikologi dari Universitas Indonesia dan menerapkan gaya belajar yang participant centered serta Visual-Auditori-Kinestetik untuk proses belajar yang optimal. Pakar dalam interpretasi DISC test dan penerapan langsung di tempat kerja. Klien yang pernah ditangani antara lain, Indosat, DHL, Trelleborg, Saraswanti Indo Genetech dan YMPG Matsushita Gobel. Sri Purwadi, St., Mm Tenaga ahli dengan latar belakang praktisi selama lebih dari 15 tahun di berbagai industri seperti manufacturing, fabrication, petrochemical dan dengan posisi terakhir sebagai praktisi HSE di Chevron Geothermal Indonesia. Menangani konsultasi, training dan audit di berbagai perusahaan besar seperti Nusa Halmahera, Gold Mining, Pertamina Talisman, Krakatau Engineering, Total Indonesia, Gobel Darma Sarana Karya, Agung Concern, PLTGU-PLN Cilegon, Commonwealth Steel, VICO dan lain-lain. Beliau pernah berhasil membawa Amoco meraih rating Green (kriteria Health, Safety, dan Environment) dalam program PROPER KLH Tahun 2011.

Effective Communication in Hospitals

Keberhasilan sebuah komunikasi antara Perawat dan Pasien atau Perawat dengan dokterdapat di ukur dengan peningkatan index kepuasan pasien di Rumah Sakit. Angka kesalahan prosedur di Rumah Sakit juga akan menurun secara signifikan saat  penyampaian atau penerimaan pesan dari dokter ke Perawat atau sebaliknya dapat berjalan dengan baik, benar dan akurat. Masih dijumpai adanya persepsi bahwa semua pasien itu sama karakternya sehingga akan menerima informasi dengan cara yang sama, padahal dilapangan Perawat akan bertemu dengan pasien yang menggunakan persepsinya masing – masing serta latar belakan pengalamannya dalam mengolah informasi medis. Situasi ini mengharuskan Perawat untuk mengenali gaya komunikasi pribadinya, mengenali dirinya termasuk mengetahui bagaimana pihak lain melihat dirinya (Pasien/dokter), sehingga para perawat tahu kekuatan dan kelemahan dirinya dalam berkomunikasi. Para Perawat juga akan dilatih untuk mampu mengenali karakter pasien/dokter yang dihadapinya dan menggunakan gaya komunikasi yang sesuai. Kemampuan adaptasi bias terus dilatih sehingga para Perawat akan mahir dalam menyesuaikan gaya komunikasinya dengan pasien/dokter untuk mencapai efektifitas yang optimal. Pada akhirnya, kemampuan komunikasi ini akan meningkatkan kepatuhan pasien dalam pengobatan dan membantu Rumah Sakit dalam menurunkan LOS pada umumnya Program pelatihan ini dikemas untuk melengkapi kompetensi para Perawat dalam berkomunikasi sesuai dengan keputusan menteri kesehatan tanggal 01 Maret 2012 di mana terjadi perubahan paradigma standar akreditasi baru yang diaplikasikan pada pelayanan kesehatan yaitu berfokus kepada keselamatan Pasien (patient safety)

Komunikasi Internal : Strategi Menuju Reputasi

Deskripsi Terminologi “reputasi” menjadi populer dan reputasi konteksnya adalah reputasi yang baik. Dalam pelatihan ini yang dimaksud reputasi yang baik adalah reputasi yang harus dibangun dan dipertahankan bagi suatu organisasi/perusahaan atau institusi. Reputasi tidak dapat muncul secara instan, memerlukan proses, tetapi harus dimulai dan harus ada komitmen dari dalam organisasi perusahaan/korporasi. Bagaimana membangun atau memperbaiki ataupun merubah dari reputasi kurang baik, bahkan dari reputasi buruk menuju reputasi prima? Tentu lebih baik lagi bagi suatu organisasi/korporasi yang baru didirikan untuk langsung memikirkan mengetrapan strategi komunikasi internal. Komunikasi internal bisa direncanakan oleh pendiri atau investor perusahaan, dimulai dari pucuk pimpinan; namun strategi komunikasi harus juga ditanamkan dari para peserta modal, para pelaksana dan karyawan industri keatas, yaitu kepada pucuk pimpinan dan investor atau pendiri perusahaan. Bahkan komunikasi internal akan dirasakan juga dampaknya sebagai harmonisasi kesamping antar karyawan. Setelah pucuk pimpinan menentukan strategi komunikasi internal, perlu dilibatkan para pemeran, yaitu seluruh jajaran manajemen yang kemudian melibatkan seluruh karyawan. Strategi merupakan rancang bangun utama jangka menengah atau lebih baik lagi jangka panjang yang akan lebih menjamin keberlangsungan bisnis industri. Dari pokok strategi dijabarkan berbagai taktik, yaitu pelaksanaan program-program komunikasi internal. Berbagai program komunikasi internal konvensional yang masih memberi manfaat akan dipresentasikan; namun program komunikasi internal yang lebih canggih menggunakan perangkat teknologi informasi terkini juga akan dibahas lebih mendalam. Strategi komunikasi internal menyiapkan juga audit komunikasi, dari monitoring hingga evaluasi untuk revisi perbaikan tindakan. Pelatihan ini tidak hanya memaparkan teori ilmu komunikasi; namun lebih banyak implimentasi teori kedalam praktek nyata yang membawa keberhasilan, termasuk transformasi budaya perusahaan melalui komunikasi internal. Untuk itu akan di-diskusikan studi kasus suksesnya perusahaan/korporasi di Indonesia menjalani komunikasi internal berdasarkan mutual respect communication, sehingga reputasi baik mereka menjadi terkenal dan diakui masyarakat luas. Bahasan teori praktis membicarakan juga nilai komunikasi dan komunikasi berbasis kepemimpinan. Juga tips bagaimana menciptakan komunikasi internal yang harmonis. Pada setiap sesi para peserta diberikan kesempatan mendiskusikan kasus internal perusahaam, menganalisanya serta menngusulkan strategi perbaikan dan jika mungkin memberikan jalan keluarnya (problem solving). Karena cukup banyak materi yang dibahas secara interaktif maka peserta perlu mendalaminya selama 2 hari (8 sesi). Target Peserta Pelatihan Komunikasi Internal : Strategi  Menuju Reputasi ini ditujukan untuk para: Investor – Pemodal – Pendiri/Pemilik Perusahaan – Pucuk Pimpinan – PresDir/CEO/GM – Direktur – Manajer Senior/Junior – Kepala Divisi – Calon Pimpinan – Karyawan setingkat Penyelia. Outline Materi Materi training yang akan di bahas topik Komunikasi Internal : Strategi  Menuju Reputasi adalah : Sesi 1: Teori Komunikasi Utama – Manajemen Pemberdayaan Karyawan (sekilas) – Trknik Komunikasi Internal – Tugas dan Objektif Komunikasi Internal – Strategi Komunikasi Internal Sesi 2: Berbagai Program Komunikasi Internal (Presentasi – diskusi interaktif – studi kasus) Sesi 3: Pembentukan Nilai Komunikasi menuju Reputasi Korporasi (yang prima) Sesi 4: Pembentukan Komunikasi Internal berbasis Kepemimpinan yang handal Sesi 5: Komunikasi Internal dalam Transformasi Budaya (studi kasus perusahaan terkenal dalam negeri) Sesi 6: Komunikasi Pribadi menuju Komunikasi Internal Sesi 7: Komunikasi Internal menuju Komunikasi Organisasi Sesi 8: Monitoring, Audit dan Evaluasi Komunikasi Internal Facilitator Drs. Ludwig Suparmo, M.Si Ludwig Suparmo: Menyelesaikan studi S 2 Manajemen Ilmu Komunikasi dalam waktu singkat dengan kelulusan cum laud setelah bekerja selama 30 tahun dimulai dari Sales Promotion Rep., menaiki jenjang Supervisor, Manajer Lapangan, Direktur Agency, hingga ke GM dan Konsultan di berbagai perusahaan ternama internasional maupun perusahaan  nasional.  Sejak 30 tahun lalu diundang menjadi pembicara/trainer dan memberi kuliah di berbagai institusi dan perusahaan ternama. Mendapat pelatihan dan pendidikan manajemen di Manila, Filipina dan London, UK.

Grievance Mechanisme – 4 Day

Grievance Mechanisme – 4 Day

Membangun Grievance Mechanisme Sebagai Langkah Mitigasi  Konflik  Sosial Antara Perusahaan dan Masyarakat Konflik sosial kerap kali terjadi antara perusahaan dan masyarakat sekitar, bahkan sering kali menimbulkan gangguan pada operasional perusahaan atau bisa menimbulkan kerusakan. Berbagai faktor menjadi akar masalah terjadinya konflik sosial, yang salah satunya tidak tersalurkannya aspirasi dan permasalahan yang ada di masyarakat hingga bereksalasi menjadi konflik social.

Training Strategic Public Relations

Deskripsi Di kalangan pembisnis dan pengusaha di Indonesia, Public Rerlations  masih salah dipersepsi bahwa kegiatan Public Relations merupakan sekedar “pemadam kebakaran” bila terjadi krisis di perusahaan dan mengaggap ilmu dan profesi Public Relations di luar manajemen serta sekedar tambahan dalam memajukan marketing sebagai usaha persuasi dan penampilan yang apik bagi organisasi perusahaan. Dalam pelatihan 2 hari ini akan dipelajari dan dipraktekan perlunya  merancang strategi agar ilmu dan kecakapan melaksanakan kegiatan Public Relations agar pesan-pesan yang dsampaikan akan diikuti oleh publik yang dituju dan bermakna sebagai bagian manajemen perusahaan. Arti Public Relations bukanlah sekedar usaha persuasif, dalam pelatihan ini arti Public Relations akan diuraikan lebih luas dan disampaikan dengan cara yang ilmiah namun praktis dengan banyak studi kasus, agar peserta dapat memahami kemudian dapat menyusun strategi Public Relations bagi organisasi perusahaan lebih mantap sehingga mencapai hasil yang dapat diukur. Public Relations harus dirancang secara sistematis; maka Public Relations merupakan salah satu bagian manajemen yang strategis dan dapat menjadi koalisi dominan dalam organisasi, mengacu pada James Grunig dalam bukunya yang sangat terkenal Manager’s Guide in Excellent Public Relations & Communications. Konteks koalisi dominan dalam manajemen perusahaan dipelajari dalam pelatihan ini dan  peserta dilatih dalam pengetrapannya dalam kasus yang sedang dihadapinya. Sesungguhnya Public Relations bukanlah sekedar Media Relations, meskipun pengetahuan Media Relations harus dikuasi oleh praktisi Public Relations. Tuntutan pemilik perusahaan dan investor skarang di Indonesia, agar manajemennya harus mampu berkomunikasi sebaik mungkin menghadapi saingan dan sanggup berkiprah mempertahankan serta mengembangkan nilai ekonomis perusahaan. Hal ini dapat terlaksana antara lain bila Public Relations ditempatkan dan diikutkan penuh dalam pengelolaan perusahaan. Terapan Ilmu Komunikasi yang merupakan induk Public Relations dituntut mengikuti perkembangan sehingga para pemain yang berperan dalam Public Relations tidak lagi disebut Public Relations Officers, namun VP Communication; yang berkantor di Divisi Komunikasi. Pelatihan singkat dua (2) hari ini berusaha memberikan pemahaman ilmiah yang dapat langsung dilihat seperti bagaimana pelaksanaannya dalam praktek dan juga siap membahas masalah yang dibawakan oleh peserta akan meliputi: Outline Materi Training Strategic Public Relations yang akan dibahas adalah : Pemahaman Ilmu Komunikasi sebagai pokok pohon Public Relations Pengertian Public Relations dalam Manajemen Perusahaan Manajemen Strategis Public Relations Peran Public Relations dan Transformasi Budaya Perusahaan di Indonesia Peran Public Relations dalam mempertahankan dan meningkatkan Citra dan Reputasi Media Relations dan PR Writing Peran Public Relations dalam Corporate Social Responsibility (CSR) Manajemen Issue dan Manajemen Krisis dalam penanganan Public Relations Bagaimana Monitoring & Evaluating Public Relations Programs Facilitator Drs. Ludwig Suparmo, M.Si Sejak umur 23 tahun bekerja sebagai Sales & Sales Promotion, termasuk menjadi Field Manager di sektor Farmasi, baik Nasional maupun perusahaan International. Di tahun 1975 menjadi Product Manager pertama uuntuk Indonesia dari Colgate Palmolive berkedudukan di Surabaya. Pindah ke Jakarta sebagai, Marketing Manager Beirsdorf, Marketing Services Mananger, dipromosikan sebagai Group Product Manager Richardson Vicks, Marketing Manager PT Trebor dan GM Cadburry, yang ketika itu dikelola oleh Kalbe Farma Group. Selama 30 tahun terakhir aktif dalam bidang Public Relations dimulai ketika bekerja di McCann Erickson, kemudian sebagai Account Director Burson Marsteller, salah satu PR Agency terbesar didunia. Diundang oleh PT Fortune Indonesia, kemudian bergabung dengan Indo Pacific Reputation Management Consultants. Projek-projek yang pernah ditangani antara lain untuk Johnson & Johnson, CitiBank dan GM Opel. Juga Social Marketing Program dari DepKes,  BKKBN dan Komunikasi Pencegahan Flu Burung. ic Relations. Sambil bekertja di perusahaan memperdalam Ilmu Bisnis Niaga dan Ilmu Komunikasi dan ikut serta berbagai pelatihan, seminar dan workshop baik di Jakarta maupun di berbagai Negara lain, termasuk UK dan Philippines. Ikut serta dalam berbagai proyek Product Launches dan Marketing Planning. Mengajar dan memberikan pelatihan dalam bidang Sales, Marketing dan Public Relations. Bidang yang dikuasai meliputi Sales & Marketing Planning, Integrated Marketing Communication, Strategic Brand Management, Public Opinion, Corporate Communication, Good Corporate Governance, Crisis Management dan Corporate Social Responsibility.

Optimalisasi Cyber Public Relations

Deskripsi Konsekuensi penggunaan web dalam perusahaan tidak berhenti hanya pada penyampaian informasi kepada publik saja, tetapi pada akhirnya memunculkan konsep-konsep baru dalam aplikasinya. Yang paling populer dan menjadi euforia pada tahun 2006 adalah munculnya istilah e-PR (electronic Public Relations) atau kemudian juga disebut sebagai cyber PR.  Sejalan dengan perkembangan website dan situs jejaring social (facebook, twitter dan lainnya) yang difasilitasi Internet, inovasi kegiatan Public Relations mutlak di perlukan. Beragam alat dan teknologi yang berkembang sekarang ini, pada intinya memang dibutuhkan Public Relation agar apa yang mereka buat menjadi lebih efisien dan efektif. Lalu bagaimana kegiatan ini harus dilakukan? Tujuan Pelatihan Melalui pelatihan Optimalisasi Cyber Public Relations ini diharapkan: Memberikan mindset dan pemahaman tentang Program Cyber PR Efektif dan efisien. Peserta mampu merancang dan mengembangkan Program Cyber PR perusahaan. Target Peserta Pelatihan Optimalisasi Cyber Public Relations ini ditujukan untuk para: Praktisi Public Relations/Humas Corporate Communication Media Relations Marketing Communications Metode Pelatihan Training Optimalisasi Cyber Public Relations dilaksanakan dengan metode: Presentasi Diskusi Case Study Dialog Informal Outline Materi Materi training yang akan di bahas topik Optimalisasi Cyber Public Relations adalah : Cyber PR Virtual communication Prinsip dan Etika komunikasi virtual/Nettiket Menganalisis khalayak online dan efek komunikasi Menyusun dan mengembangkan strategi komunikasi online Marketing Public Relations Online Teknik Penulisan Online Mengelola konten Website Resmi Perusahaan Mengelola jejaring sosial korporat dan penggunaan tools Menciptakan Publikasi Online Berorientasi Karyawan PR Campaign di Media Sosial Mendeteksi komentar dan strategi menyikapinya Mengukur efektivitas komunikasi di media sosial Mengukur Citra dan Reputasi On-line Korporat Durasi Training ini akan dilaksanakan selama 2 hari (08.00 – 16.00 WIB). Facilitator Ujang Rusdianto, S.I.Kom, M.IKom Ujang Rusdianto, S.I.Kom, M.IKom, memiliki pengalaman lebih dari lima tahun dalam bidang Komunikasi Perusahaan dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan/CSR. Sebelumnya aktif sebagai praktisi CSR di PT Newmont Nusa Tenggara (2009), Bank Muamalat (2012), dan Sinarmas Pulp & Paper (2014). Selain itu, ia aktif sebagai staf ahli di PT Cinggarindo Galba (Konsultan Komunikasi dan CSR) dan Dosen di program studi Ilmu Komunikasi, Universitas Paramadina. Publikasi buku yang pernah ia tulis antara lain; Driver for Integrated Marketing Communication/IMC (2012), CSR Communication for PR Practitioners (2013), Cyber CSR (2014) dan Periklanan Korporat (2015).

Best Practice : Corporate Event Management

Tujuan Training Best Practice : Corporate Event Management salah satunya adalah memahami  mengenai acara manajemen, bagaimana bentuk dan karakteristik acara korporat, mengenai aktivasi merek, kampanye PR, pemasaran acara, bagaimana acara tahap-manajemen, bagaimana cara mendesain acara kreatif dan penggalian tema, bagaimana menentukan tujuan dan target acara dan hal – hal lainnya terkait Corporate Event Management. Deskripsi Acara Perusahaan merupakan program yang dilakukan perusahaan untuk tujuan, baik untuk tujuan promosi, keputusan, penghargaan dan lainnya. Namun berbeda dengan kegiatan yang spontan, Acara Perusahaan dilakukan sesuai rencana yang dibuat sebelumnya dan sesuai dengan visi misi korporat. Untuk menghasilkan suatu acara korporat yang berhasil, dibutuhkan manajemen acara yang baik. Sasaran Training Melalui Pelatihan Manajemen Acara Perusahaan ini diharapkan: Mengetahui dan memahami manajemen acara korporat. Peserta yang diundang dan mengimplementasikan acara korporat. Metode Pelatihan Corporate Event Management dilaksanakan dengan metode: Presentasi, Studi Kasus, Diskusi dan Dialog Informal Target Peserta Hubungan Eksternal Komunikasi Perusahaan / Humas Hubungan Stakeholder Petugas CSR / Comdev Durasi Pelatihan ini akan dilaksanakan selama 2 hari (08.00 – 16.00 WIB). Outline Materi Materi  yang akan dibahas adalah: Acara manajemen Bentuk dan karakteristik Event Korporat Aktivasi merek, Kampanye PR, Pemasaran Acara Acara Tahap-manajemen Manajemen Mendesain acara kreatif dan penggalian tema Menentukan tujuan dan target acara Acara menganalisis khalayak Menyusun pesan dalam acara Mengelola acara yang efektif (Tim Kerja, Logistik Acara) Mengefisienkan anggaran acara Acara promosi dan publikasi teknik Melakukan evaluasi acara Testimoni “Isi bahan, pelatih pembawaan dirasa cukup” “Materi & resentasi baik & sangat mudah dipahami” “Bagus, berpengalaman, berwawasan luas” Facilitator Ujang Rusdianto, SIKom, M.IKom Ujang Rusdianto, SIKom, M.IKom, memiliki pengalaman lebih dari lima tahun dalam bidang Komunikasi Perusahaan dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan / CSR. Sebelumnya aktif sebagai CSR di PT Newmont Nusa Tenggara (2009), Bank Muamalat (2012), dan Sinarmas Pulp & Paper (2014). Selain itu, ia juga aktif sebagai staf ahli di PT Cinggarindo Galba (Konsultan Komunikasi dan CSR) dan Dosen di program studi Ilmu Komunikasi, Universitas Paramadina. Publikasi buku yang pernah ia tulis antara lain; Driver untuk Komunikasi Pemasaran Terpadu / IMC (2012), Komunikasi CSR untuk Praktisi PR (2013), Cyber ​​CSR (2014) dan Periklanan Korporat (2015).

Training VIP Etiquette

Latar Belakang Training VIP Etiquette Apakah Anda pernah merasa tidak yakin diri dalam situasi sosial? Apakah Anda prihatin tentang bagaimana untuk menangani orang, bagaimana dengan make-up anda atau bagaimana untuk bersulang dan masih banyak lagi hal penting yang akan kita pelajari dalam waktu dekat ini? Dimana untuk kursi VIP, minyak wangi apa yang harus digunakan atau bahkan garpu mana yang harus digunakan?

Transformasi Budaya Perusahaan Menuju Keberhasil Berbisnis Secara Etis

Sudahkah perusahaan dimana anda menyumbangkan tenaga dan pikiran berbisnis secara etis? Bagaimana berbisnis secara etis seharusnya dijalankan? Dari dasar pemahaman filosofis apakah etika dan apakah moral, kita akan mempelajari dan mendalami dasar-dasar beretika dalam berusaha mengejar keuntungan dan membaktikan jasa serta produk pabrik kita bagi kelangsungan dan pengembangan ekonomi. Beberapa kasus sukses  (success stories) dan kegagalan perusahaan karena berbisnis secara etis atau tidak etis akan didiskusikan. Ditarik manfaat agar berbisnis itu mengikuti landasan amar ma’ruf nahi mungkar. Setelah mendalami secara filosofis arti etika dan moral, diberikan petunjuk sederhana: berbisnis secara etis mengikuti anjuran Good Corporate Governance sehingga lebih tepat dan lebih mudah menyusun Business Strategic Planning.

Teknik Dan Skill Mengelola Corporate Identity

Identitas perusahaan merupakan manivestasi aktual dan realita perusahaan seperti yang disampaikan melalui nama, logo, moto, produk, layanan, gedung, seragam dan lainnya yang ciptakan perusahaan dan dikomunikasikan pada beragam konstituen. Dari komunikasi yang disampaikan, stakeholder perusahaan membentuk persepsi berdasarkan pesan-pesan yang perusahaan kirimkan dalam bentuk nyata. Jika citra-citra ini akurat mencerminkan realita perusahaan, maka dapat dikatakan program komunikasi identitas perusahaan tersebut berhasil. Sebaliknya, jika tidak berhasil maka penting bagi perusahaan untuk melakukan modifikasi.   OBJEKTIF Memberikan mindset dan pemahaman terkait Manajemen Identitas Korporat. Peserta dapat mengelola dan mengkomunikasikan identitas perusahaan.   MATERI Manajemen Identitas. Strategi Diferensiasi melalui Identitas dan Citra. Kiat Membentuk Identitas. Merancang Visi dan tagline yang menginspirasi. Menggabungkan dan konsisten dalam strategi. Menetapkan tujuan identitas. Keterampilan mengaudit identitas. Keterampilan mengembangkan desain, nama dan prototype. Keterampilan mengkomunikasikan Identitas Perusahaan. Implementasi Program Komunikasi Identitas. Menyusun Corporate Identity Guideline. Marancang Marketing Communications Tools.   PESERTA TRAINING Corporate Communication Public Relations/Humas   ALOKASI WAKTU Kegiatan ini akan dilaksanakan selama 1 hari (mulai pukul 08.00 s.d 17.00 WIB)   FACILITATOR Ujang Rusdianto, S.I.Kom, M.IKom Ujang Rusdianto, S.I.Kom, M.IKom, memiliki pengalaman lebih dari Delapan tahun dalam bidang Komunikasi Perusahaan dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan/CSR. Sebelumnya aktif sebagai praktisi CSR di PT Newmont Nusa Tenggara (2009), Bank Muamalat (2012), dan Sinarmas Pulp & Paper (2014). Selain itu, ia aktif sebagai staf ahli di PT Cinggarindo Galba (Konsultan Komunikasi dan CSR) dan Dosen di program studi Ilmu Komunikasi, Universitas Paramadina. Publikasi buku yang pernah ia tulis antara lain; Driver for Integrated Marketing Communication/IMC (2012), CSR Communication for PR Practitioners (2013), Cyber CSR (2014) dan Periklanan Korporat (2015).