Operation Training

Training Physical Protection System

Latar Belakang Training Physical Protection System Ada kalimat yang sampai sekarang masih sangat relevan di dunia pengamanan yang berbunyi “ Kalau anda ingin menjadi polisi yang baik, berpikirlah seperti cara berpikir pecuri”. Hal yang sama yang harus menjadi paradigma seorang anggota Satuan Pengamanan adalah menggunakan cara berpikir “lawan” yang merupakan ancaman perusahaan dengan memperkirakan dari mana kemungkinan datangnya ancaman di perusahaan, apa bentuknya, factor-faktor apa yang dapat menjadi indikator ancaman dan sebagainya.

Permit to Work System (PTWS)

Deskripsi Izin untuk bekerja sistem atau sistem surat ijin kerja harus di bangun dan di jalankan di setiap industri. Karena berbagai data statistik banyak sekali kecelakaan kerja di sebabkan karena kelemahan dari sistem ijin kerja yang tidak tersusun dengan benar. Penilaian risiko dari setiap pekerjaan akan menentukan besaran proteksi yang harus disiapkan dari pemilik pekerjaan untuk memastikan pekerjaan bisa dilakukan dengan seefektif dan pelaut mungkin. Ijin Menyusun untuk sistem kerja sangat diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan rutin yang telah ada di sampul melalui SOP dan pekerjaan tidak rutin yang mencakup ijin untuk sistem kerja ini. Izin umum PTW, izin kerja panas, izin masuk ruang terbatas dan beberapa jenis izin yang lebih spesifik penggalian, penanganan bahan berbahaya dll. Untuk melengkapi sistem PTW harus dilengkapi dengan sistem isolasi baik proses maupun elektrikal, yang dikenal dengan sistem LOTO (penguncian tag out) untuk memastikan standarisasi sistem LOTO dan memastikan efektifitas sistem berjalannya di lapangan. Mempersiapkan sistem izin keselamatan menjadi hal yang WAJIB dilakukan oleh industri untuk membebaskan angka kecelakaan kerja serendah mungkin. Sistem yang sederhana namun harus dijalankan oleh semua lini departemen, agar tujuan dapat diperoleh secara optimal. Tujuan Pelatihan Setelah mengikuti Pelatihan Sistem Izin Kerja (PTWS) ini, peserta diharapkan memiliki pengetahuan untuk: 1. Pengenalan dasar sistem izin keselamatan 2. Memahami bahaya yang akan timbul dari pekerjaan 3. Mengenalkan dokumentasi “izin untuk bekerja” sistem 4. Memahami cara menyiapkan pekerjaan dengan aman 5. Memahami sistem isolasi, pengujian gas 6. Memahami cara kerja perlindungan dengan aman 7. Memahami tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat 8. Memahami cara log sheet / sistem catatan dari sebuah pekerjaan 9. Mengerti jenis sistem izin dan aplikasinya Outline Materi Materi pelatihan yang akan di bahas topik Ijin Kerja Sistem (PTWS) adalah: Hari I : Dasar kecelakaan kerja Sistem izin dasar Sistem proses isolasi dan listrik LOTO (kunci keluar) Hari II : Izin umum Izin masuk ruang terbatas Izin kerja panas Penanganan bahan kimia, penggalian lainnya Studi kasus Fasilitator Ir. Dwi Handaya, MK3 Praktisi Industri berpengalaman lebih dari 20 tahun, baik di industri petrokimia, manufaktur, minyak & gas, perkebunan, konsultasi dll. Mempunyai latar belakang pendidikan Teknik Kimia, Universitas Tirtayasa dan Magister K3, Universitas Indonesia, Jakarta. Pertemuan konsultasi dan pelatihan di perusahaan besar seperti BP, Cargill, grup Sinarmas, Mayora, Indofood dan lain-lain. Semenjak 2008 juga berperan sebagai instruktur EPCM Manajer Pengendalian Pencemaran Lingkungan, sebagai salah satu program sertifikasi manajer lingkungan, BPLHD Jawa Barat dan kementrian LH secara nasional.

Peran Sistem Mutu Dalam Peningkatan Produktivitas

Narasi Dalam proses produksi, sistem mutu sering diposisikan sebagai hambatan. Dalam arti, para pelaku produksi memiliki paradigma bahwa adanya sistem mutu malah membuat target produksi tidak tercapai. Investasi bidang sistem mutu kadang juga dianggap sebagai cost yang tidak perlu.

Penyusunan SOP PHPL dan SVLK

Deskripsi Pentingnya SOP dalam PHPL, CoC FSC dan SVLK Dalam persyaratan Pengelolaan Hutan Lestari (PHPL) / Sustainable Forest Management, CoC (Chain Of Custody)  dan SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu)  Peraturan Menteri Kehutanan, perusahaan diharuskan menetapkan dan menjalankan  prosedur atau SOP. Dengan SOP akan dicapai pengaturan agar tidak terjadi salah komunikasi, menghindari konflik antar fungsi (yang kadang berkepanjangan) atau bahkan saling melepaskan tanggung jawab, yang pada akhirnya dapat berakibat pada menurunnya kinerja organisasi itu sendiri. Tujuan Pelatihan Melalui pelatihan Penyusunan SOP PHPL dan SVLK ini diharapkan: Memahami pentingnya PHPL/SFM, COC DAN SVLK Peraturan Menteri Kehutanan Republik Memahami Peran dan pentingya SOP   dalam Perusahan Kehutanan Memahami persyaratan  SOP yang efektif dan efesien Memahami prinsip, metode, dan teknik penyusunan SOP Memberikan pedoman dalam pembuatan SOP yang efektif dalam rangka meningkatkan kinerja dan wawasan perusahaan Mampu menyusun SOP  sesuai Visi, Misi, Kebijakan Dan Persyaratan PHPL/SFM, CoC Dan SVLK Sasaran Pelatihan Setelah mengikuti Pelatihan Penyusunan SOP PHPL dan SVLK ini, peserta diharapkan memiliki pengetahuan untuk: Peserta memahami CoC FSC Dan SVLK Peserta memahami metoda dan tahapan Penerapan CoC FSC dan SVLK Metode Pelatihan Training Penyusunan SOP PHPL dan SVLK dilaksanakan dengan metode: Penyampaian materi Diskusi Contoh Penerapan Workshop/simulasi Outline Materi Materi training yang akan di bahas topik Penyusunan SOP PHPL dan SVLK adalah : Peran  SOP dalam PHPL/SFM,  SVLK dan CoC : Masalah pengelolaan PHPL, SVLK Dan CoC Kebutuhan SOP Peran SOP dalam organisasi PHPL, SVLK Dan CoC Manfaat Dan keuntungan adanya SOP Pengertian dan Persyaratan SOP : Pengertian SOP Pengertian sistem dokumentasi Konsep Dan Persyaratan SOP Model Dan Bentuk SOP Atribut SOP Teknik Penyusunan dan Pengembangan SOP PHPL/SFM, SVLK dan CoC : Tahapan Penyusunan Dan Pengembangan SOP Teknik identifikasi Dan evaluasi   Kebutuhan SOP Teknik Menentukan Judul Dan Lingkup SOP Teknik penentuan Tim Penyusun Teknik Penyusunan pendekatan Pemetaan Bisnis Proses Pengertian Model Dan konsep Bisnis Proses Teknik Penyusunan Pendekatan PHAPL, SVLK Dan CoC FSC Isi dan Komposisi SOP Teknik Penyusunan Kalimat Efektif, sederhana dan aplikatif Teknik editing/ review SOP Penentuan Format SOP Pengesahan SOP Metodologi Sosialisasi  Dan Training SOP Metodologi Uji Coba SOP Metodologi penyerpurnaan/Revisi SOP Strategi Penerapan SOP Monitoring, evaluasi danAudit SOP Pengembangan SOP Wokshop penyusunan SOP : Tip dan Trik SOP yang efektif Penyampaian Contoh SOP Workshop penyusunan SOP secara personal Workshop penyusunan SOP secara tim Fasilitator Thomas Hidayat Kurniawan, Ir, MM. Thomas Hidayat Kurniawan, Ir, MM. Seorang  Trainer dan konsultan yang Berpengalaman dalam Sistem Manajemen Mutu, Lingkungan dan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), RSPO, ISPO, COC FSC, SFM FSC, SCCS, dll selama 12 tahun. Pengalaman sebagai trainer dan konsultan telah   menangani berbagai perusahaan dan lembaga, baik swasta Nasional, Multinasional dan pemerintah, sebanyak lebih dari 80   perusahaan/Lembaga.  Perusahaan yang sudah ditangani sebagai trainer sebanyak lebih dari 80 perusahaan. Sebagai Konsultan sudah menangani  70 perusahaan. Untuk proses audit pernah melakukan audit pada 60 perusahaan. Selain itu memilki  jaringan dengan beberapa Lembaga Sertifikasi karena pernah melakukan proses audit   atas nama Lembaga Sertifikasi  BMTRADA,  Mutu Agung Lestari, TUV Rheinland International, Smartwood Rain Forest Alliance, BSI Management System (Verificator SOP RSPO).  Sebaga Auditor pernah bergabung di PT TUV Rheinland International,dan  PT Mutu Agung Lestari (BM Trada). Memiliki pengalaman bekerja dengan konsultan International South Pole Carbon Asset Management AG Swizerland , dalam proyek Crabon Trade REDD di Papua Nuigini dan Proyek AF RF di Philipina.Pendidikan formal S1 Dan S2 dari Institut Pertanian Bogor. Perusahaan yang pernah menjadi klien pelatihan diantaranya : PT Bakri Sumatera Plantation, PT Dharma Satya  Nusantara (Pam Oil and CPO), PT Swakarsa Sinar Sentosa (Palm Oil and CPO), PT BW Plantation, PT Sahabat Mewah Makmur PT ANJ AGRI, Belitung, PT Eramitra AGROLESTARI, PT Sumatera Bakrie Plantation, PT JAMBI AGRO WIJAYA,PT Sumatera Bakrie Plantation , PT Kalimantan Sawit Abadi, (Citra Borneo Indah Group), , PT Sawit Sumbermas sarana, (Citra Borneo Indah Group), PT Mitra Mendawai Sejati, (Citra Borneo Indah Group), PT Sawit Multi Utama, (Citra Borneo Indah Group), PT Tanjung Sawit abadi. (Citra Borneo Indah Group), PKS Sulung (Citra Borneo Indah Group), PKS Suayap (Citra Borneo Indah Group), PT PLN SEKTOR BUKITTINGG (PLTA Maninjau, PLTA Singkarak), PLTA Batang Agam), PT PLN Sektor Pandan Sibolga Sumatera Bagian Utara (PLTA Renun / Danau Toba, PLTA Sipan Sihaporas, 8 PLTM PLTM), PT Cipta Kridatama (Mining Company- Trakindo Group), PT BP Berau Ltd  ( LNG Gas), PT Total Kalimantan Timur  (Oil and Gas) , PT Kota Minyak Internusa (Oil and gas, PT Lematang Coal Industri (Mining), PT AKR Corporindo Tbk (Mining),   PT Angkasa Pura 2 (Pengelola Bandara ),PT PT Nike Indonesia, PT Nikomas Gemilang ,PT Pantjatunggal Knitting Mill,PT Trasindo Permai, (Transportaion service) , PT Grand Best (garment) , PT Gunung Garuda (Steel Manufacture) , Bank Resona Perdania (Bank) PT Cahaya Forx (Forex Trading), PT Garuda Indonesia (Air ways), PT Sucofindo (certification body, inspection), PT Tanjung Indah Plantation (sawit), PT Asuransi MSIG, (Insurance company), PT Thiess Contractor Indonesia (General Contractor), PT Tirta Gajah Mungkur (Water management),PT Indonesia Power PLTU  Uboh Banten (Power Plant), PT Trimegah Bangun Persada   (Nickle Mining), PT Indomining (Coal Mining), PT Antam Divisi Logam Mulia (pengolahan dan pemurnian Emas),PT Jakarta Container Terminal (PT JICT), PT Tripatra (Engeneering, Procurement, Construction),PT Eagle Burgman Indonesia (Manufacture Trading of Seal)

Pengukuran dan Pengembangan Kinerja Supplier

Bagi sebagian industri, Supplier ataupun Vendor hanyalah perusahaan penyuplai produk ataupun jasa yang berada diluar organisasi yang perannya terkadang kurang diperhitungkan. Tetapi dengan semakin ketatnya kompetisi global, maka peran supplier ataupun vendor adalah hal yang begitu esensial bagi kesuksesan organisasi.

Training Penanganan Limbah B3

Hazard

Training Penanganan Limbah B3 mempelajari mengenai bagaimana memahami B3, limbah B3 dan jenis-jenisnya sesuai ketentuan-undangan yang berlaku, memahami karakteristik B3 dan limbahnya dengan komposisi bahaya dan hal – hal lainnya terkait limbah B3. Deskripsi Menurut Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2001 dan No. 18 tahun 1999, Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dan limbah B3 adalah bahan / limbah yang disebabkan oleh sifat, pengangkutan atau sumber daya berbahaya untuk tenaga kerja dan dapat digunakan untuk lingkungan. Upaya pengelolaan dan pengendalian B3 dan limbah B3 harus dilakukan untuk mencegah dan mengendalikan lingkungan yang akan muncul sebagai akibat atas penggunaan bahan ini. Berbagai cara yang diterapkan dari setiap lembaga / industri mungkin sudah rutin dilakukan dan dilakukan yang berkaitan dengan B3 ini, tetapi mungkin tetap saja dapat memperoleh tantangan dari pihak-pihak yang berkepentingan. Tak jarang, aparat hukum dan media massa ikut terlibat dengan isu B3 ini yang berakibat pada konflik demi kepentingan. Bagaimana mengatasi masalah non-teknis Pelatihan ini sedikit membahas B3, limbah B3 dan porsi terbesarnya untuk mempelajari teknik pengendalian B3 ditinjau dari segi hukum. Dalam pelatihan ini juga akan diberikan panduan teknis untuk menyelamatkan B3 dengan aman, efisien dan berkenan dengan peraturan yang diperlukan agar keuangan dapat dikontrol dengan lebih terperinci. Selama sesi pelatihan, peserta juga akan menerima contoh-contoh kasus untuk memperdalam pengetahuan dalam mengelolah B3 dan limbahnya. Target peserta: Staf / Operator produksi, Petugas Lingkungan, K3 / petugas keselamatan, pembelian staf, petugas laboratorium dan profesional lainnya yang terlibat dalam pengelolaan administrasi dan teknis B3 dan limbah B3. Sasaran Pelatihan Setelah Mengikuti Pelatihan Penanganan Limbah B3 ini, peserta diharapkan memiliki pengetahuan untuk: Memahami B3, limbah B3 dan jenis-jenisnya sesuai ketentuan-undangan yang berlaku Memahami karakteristik B3 dan limbahnya dengan komposisi bahaya Memahami dan memahami cara penerapan simbol dan label B3 dan limbah B3 menurut standar yang berlaku Mengetahui teknik pengelolaan dan pengendalian B3 dan limbah B3 dengan efektif dan berbiaya murah. Memahami MSDS dan cara memperbanyaknya dengan cara yang lebih sederhana. Mengetahui jenis-jenis alat K3 yang terkait dengan pengelolaan B3 dan limbah B3. Metode Pelatihan Pelatihan Penanganan Limbah B3 dilaksanakan dengan metode: Pelatihan ini akan dilakukan dengan metode interaktif yang membahas semi-lokakarya dimana peserta akan langsung membahas topik yang disajikan, diberi contoh aplikasi yang diperbarui dan telah teruji, serta berbagi informasi tentang hal-hal yang praktis dan mudah digunakan dalkam usaha pengelolaan B3 dan limbah B3 . Outline Materi Pelatihan Materi yang akan membahas topik Penanganan Limbah B3 adalah: Diskusi dan pemahaman singkat: Penanganan Limbah B3 B3 dan limbah B3 menurut peraturan perundang undangan Peraturan lain yag terkait Simbol dan label Karakteristik B3 dan limbah B3 dan bagaimana Identifikasi bahayanya. Teknik da metoda Pengendalian B3 dan limbah B3 : Pengendalian teknis / operasional Kisah sukses penerapan metode ramah serta tidak mencemari Lingkungan Pengendalian dokumen B3 dan limbah B3 Pemahaman dan Cara Pemakaian Alat Pelindung Diri yang benar Lembar Data Safety Sheet (MSDS) : Memahami MSDS Informasi apa saja yang dimengerti dan dipahami cara penginformasiannya yang efektif. Contoh-contoh Penanganan Limbah B3 : Persyaratan teknis dan administrasi pengelolaan limbah B3 Penanganan limbah B3 menurut konsep “dari cradle ke kuburan” Informasi bisnis terkait Pengelolaan Limbah Industri di Indonesia Facilitator Adrianus Tanari, ST Adalah menjawab Lingkungan, SMK3 dan Tanggung Jawab Sosial. Bekerja sebagai perencana dan penerapan AMDAL, SMK3, ISO 14001: 2004 dan CSR-ISO 26000 diberbagai jenis operasional industri. Saat ini sebagai Manajer Lingkungan di perusahaan pulp dan kertas terbesar di Asia yang lebih banyak dari 8 perusahaan di Indonesia. Memperoleh gelar Sarjana Teknik dibidang Teknik Kimia dari ITS Surabaya, beliau memiliki pengalaman khusus di bidang pengelolaan Lingkungan. Saat ini beliau sedang membangun sistem ISO 26000 di tiga tempat yang berbeda dalam sebuah perusahaan besar yang diharapkan akan membantu peserta dalam memperoleh nilai banding yang cukup dalam mempersiapkan pengelolaan CSR.

Pemahaman Penerapan Integrasi RSPO dan ISPO

Deskripsi Perusahan perkebunan kelapa sawit dan pabrik Kelapa sawit, dituntut harus menerapkan dan bersertifikat RSPO dan ISPO. Hal tersebut berdasarkan tuntutan pembeli / buyer (Supermarket terbesar di Swiss “Migros”) , LSM  (miasl Sawit Watch ) dan pemerintah. Memenuhi kewajiban menerapkan ISPO sesuai dengan PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 19/Permentan/OT.140/3/2011, bahwa Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit dalam waktu paling lambat sampai dengan tanggal 31 Desember 2014 harus sudah melaksanakan usaha sesuai dengan ketentuan Peraturan ISPO. Tujuan Pelatihan Setelah mengikuti Pelatihan Pemahaman Penerapan Integrasi RSPO dan ISPO ini, peserta diharapkan memiliki pengetahuan untuk: Memahami pentingnya RSPO dan ISPO Memahami persyaratan persyaratan RSPO dan ISPO Metode Pelatihan Training Pemahaman Penerapan Integrasi RSPO dan ISPO dilaksanakan dengan metode: Penyampaian materi Diskusi Contoh Penerapan Workshop/simulasi Outline Materi Materi training yang akan di bahas topik Pemahaman Penerapan Integrasi RSPO dan ISPO adalah : No Judul Materi Silabus 1 Pemahaman Dasar – dasar RSPO Dan ISPO Kebutuhan Dan Masalah Perdagangan CPO , Sejarah RSPO Dan ISPO Lingkup RSPO Dan ISPO, Manajemen Perkebunan, dan Manfaat RSPO Dan ISPO Pentingnya Peduli Dan PahamRSPO Dan ISPO 2 Penerapan  Persyaratan persyaratan RSPO & ISPO Prinsip Prinsip RSPO Dan ISPO , Pemahaman per Kriteria Dan Indiikator RSPO Dan ISPO , Integrasi antara RSPO dengan ISPO Pedoman Penerapan dan contoh penerapan pendekatan ISO 14001, OHSAS 18001, ISO 9001 dan PDCA, Sertifikasi RSPO Dan ISPO 3 Sistem Dokumentasi RSPO & ISPO Pengertian dokumentasi Pendekatan hirarki dokumentasi Persyaratan sistem dokumentasi Format Dan bentuk sistem dokumentasi Tahapan Dan metoda penyusunan dan penerapan  sistem dokumentasi Contoh contoh sistem dokumentasi 4 Pengenalan Peraturan dan Perundang-undangan terkait RSPO & ISPO Peraturan terkait Perijinan Peraturan terkait Pengelolaan Lingkungan Peraturan terkait Manajemen Kebun Peraturan Terkait K3 5 Tahapan dan Metoda Perancangan dan Penerapan RSPO & ISPO Tahapan Perancangan Metoda Perancangan Tahapan Penerapan Metoda Penerapan Hambatan  Hambatan Perancangan dan Penerapan RSPO & ISPO 6 Test Awal (pre test) Tujuan untuk mengetahui kondisi awal wawasan dan pengetahuan   peserta terhadap RSPO& ISPO  memahami tingkat pengetahuan awal setiap peserta, mengukur beberapa kesenjangan pengetahuan peserta, dimana dapat menjadi bahan pembahasan  selama pelatihan Diberikan soal berupa 10 soal, terdiri dari soal memilih (multiple Choice) dan soal essay (jawaban terbuka) 7 Test Akhir (Post test) Tujuan untuk mengetahui tingkat penerimaan peserta (penyerapan) terhadap materi pelatihan RSPO & ISPO   yang telah disampaikan  dan  tingkat efektivitas hasil pelatihan Diberikan soal berupa 20 soal, terdiri dari soal memilih (multiple Choice) dan soal essay (jawaban terbuka)   Agenda Pemahaman Penerapan Integrasi RSPO dan ISPO Pelatihan dilakukan selama 2 (dua) hari dengan jadwal pelatihan sebagai berikut :   Waktu   Agenda Pelatihan Hari Pertama 08.15 – 08.30 Pembukaan & Test awal Peserta Pelatihan 08.30 – 09.00 Dasar dasar RSPO & ISPO 09.00 – 10.00 Dasar Dasar RSPO & ISPO 10.00 – 10.15 Istirahat 10.15. – 11.00 Persyaratan persyaratan RSPO & ISPO 11.00 – 12.00 Persyaratan persyaratan RSPO & ISPO 12.00 – 13.00 Istirahat 13.00 – 14.00 Persyaratan persyaratan RSPO & ISPO 14.00 – 15.00 Workshop  studi kasus Persyaratan persyaratan RSPO & ISPO 15.00 – 15.15 Istirahat 15.00 – 16.30 Pengenalan Peraturan dan Perundang-undangan terkait RSPO & ISPO Hari kedua 08.15 – 08.30 review materi hari pertama 08.30 – 09.00 Persyaratan persyaratan RSPO & ISPO 09.00 – 10.00 Persyaratan persyaratan RSPO & ISPO 10.00 – 10.15 Istirahat 10.15. – 11.00 Sistem Dokumentasi RSPO & ISPO 11.00 – 12.00 Persyaratan persyaratan RSPO & ISPO 12.00 – 13.00 Istirahat 13.00 – 14.00 Persyaratan persyaratan RSPO & ISPO 14.00 – 15.00 Persyaratan persyaratan RSPO & ISPO 15.00 – 15.15 Istirahat 15.15 – 16.00 Tahapan dan Metoda Perancangan dan Penerapan RSPO & ISPO 16.00 – 16.30 Test Akhir/Post Test Fasilitator Thomas Hidayat Kurniawan, Ir, MM. Thomas Hidayat Kurniawan, Ir, MM. Seorang  Trainer dan konsultan yang Berpengalaman dalam Sistem Manajemen Mutu, Lingkungan dan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), RSPO, ISPO, COC FSC, SFM FSC, SCCS, dll selama 12 tahun. Pengalaman sebagai trainer dan konsultan telah   menangani berbagai perusahaan dan lembaga, baik swasta Nasional, Multinasional dan pemerintah, sebanyak lebih dari 80   perusahaan/Lembaga.  Perusahaan yang sudah ditangani sebagai trainer sebanyak lebih dari 80 perusahaan. Sebagai Konsultan sudah menangani  70 perusahaan. Untuk proses audit pernah melakukan audit pada 60 perusahaan. Selain itu memilki  jaringan dengan beberapa Lembaga Sertifikasi karena pernah melakukan proses audit   atas nama Lembaga Sertifikasi  BMTRADA,  Mutu Agung Lestari, TUV Rheinland International, Smartwood Rain Forest Alliance, BSI Management System (Verificator SOP RSPO).  Sebaga Auditor pernah bergabung di PT TUV Rheinland International,dan  PT Mutu Agung Lestari (BM Trada). Memiliki pengalaman bekerja dengan konsultan International South Pole Carbon Asset Management AG Swizerland , dalam proyek Crabon Trade REDD di Papua Nuigini dan Proyek AF RF di Philipina.Pendidikan formal S1 Dan S2 dari Institut Pertanian Bogor. Perusahaan yang pernah menjadi klien pelatihan diantaranya : PT Bakri Sumatera Plantation, PT Dharma Satya  Nusantara (Pam Oil and CPO), PT Swakarsa Sinar Sentosa (Palm Oil and CPO), PT BW Plantation, PT Sahabat Mewah Makmur PT ANJ AGRI, Belitung, PT Eramitra AGROLESTARI, PT Sumatera Bakrie Plantation, PT JAMBI AGRO WIJAYA,PT Sumatera Bakrie Plantation , PT Kalimantan Sawit Abadi, (Citra Borneo Indah Group), , PT Sawit Sumbermas sarana, (Citra Borneo Indah Group), PT Mitra Mendawai Sejati, (Citra Borneo Indah Group), PT Sawit Multi Utama, (Citra Borneo Indah Group), PT Tanjung Sawit abadi. (Citra Borneo Indah Group), PKS Sulung (Citra Borneo Indah Group), PKS Suayap (Citra Borneo Indah Group), PT PLN SEKTOR BUKITTINGG (PLTA Maninjau, PLTA Singkarak), PLTA Batang Agam), PT PLN Sektor Pandan Sibolga Sumatera Bagian Utara (PLTA Renun / Danau Toba, PLTA Sipan Sihaporas, 8 PLTM PLTM), PT Cipta Kridatama (Mining Company- Trakindo Group), PT BP Berau Ltd  ( LNG Gas), PT Total Kalimantan Timur  (Oil and Gas) , PT Kota Minyak Internusa (Oil and gas, PT Lematang Coal Industri (Mining), PT AKR Corporindo Tbk (Mining),   PT Angkasa Pura 2 (Pengelola Bandara ),PT PT Nike Indonesia, PT Nikomas Gemilang ,PT Pantjatunggal Knitting Mill,PT Trasindo Permai, (Transportaion service) , PT Grand Best (garment) , PT Gunung Garuda (Steel Manufacture) , Bank Resona Perdania (Bank) PT Cahaya Forx (Forex Trading), PT Garuda Indonesia (Air ways), PT Sucofindo (certification body, inspection), PT Tanjung Indah Plantation (sawit), PT Asuransi MSIG, (Insurance company),

Pemahaman Penerapan Integrasi ISO 9001, SMK3, COC

Deskripsi Saat ini sertifikat ISO 9001, CoC (Chain Of Custody) FSC (Forest Stewardship Council) dan SMK3 (PP NO 50 2012) sudah menjadi persyaratan dari buyer jika perusahaan kayu ingin memperoleh kontrak atau order. Munculnya sikap konsumen tersebut berawal dari kesadaran bahwa kondisi lingkungan terutama hutan semakin memprihantinkan dimana jumlah hutan dan kualitas hutan sejaa tahun 1980an cenderung menurun. Hal tersebutlah yang membuat industri kayu harus menerapkan sistem manajemen Chain of Custody (CoC) standar FSC (Forest Stewardship Council), SMK3 Dan ISO 9001. Tujuan Pelatihan Setelah mengikuti Pelatihan Pemahaman Penerapan Integrasi ISO 9001, SMK3, COC ini, peserta diharapkan memiliki pengetahuan untuk: Memahami pentingnya COC FSC, ISO 9001  DAN SMK3 (PP 50 2012) Memahami persyaratan persyaratan COC FSC, ISO 9001  DAN SMK3 (PP 50 2012) Memahami tahapan dan teknik penerapan COC FSC, ISO 9001  DAN SMK3 (PP 50 2012) Memahami sistem dokumentasi COC FSC, ISO 9001  DAN SMK3 (PP 50 2012) Sasaran Pelatihan Setelah mengikuti Pelatihan Pemahaman Penerapan Integrasi ISO 9001, SMK3, COC ini, peserta diharapkan memiliki pengetahuan untuk: Peserta  memahami persyaran integrasi COC FSC, ISO 9001  dan SMK3 (PP 50 2012) Peserta memahami metoda dan tahapan Penerapan COC FSC, ISO 9001  dan SMK3 (PP 50 2012) Metode Pelatihan Training Pemahaman Penerapan Integrasi ISO 9001, SMK3, COC dilaksanakan dengan metode: Penyampaian materi Diskusi Contoh Penerapan Workshop/simulasi Outline Materi Materi training yang akan di bahas topik Pemahaman Penerapan Integrasi ISO 9001, SMK3, COC adalah : No Judul Materi Silabus 1 Pemahaman Dasar – dasar COC FSC, ISO 9001  DAN SMK3 (PP 50 2012) Kebutuhan Dan Masalah Perdagangan hasil Hutan Sejarah COC FSC, ISO 9001  DAN SMK3 (PP 50 2012) Definisi COC FSC, ISO 9001  DAN SMK3 (PP 50 2012) Lingkup COC FSC, ISO 9001  DAN SMK3 (PP 50 2012 Manfaat COC FSC, ISO 9001  DAN SMK3 (PP 50 2012) Pentingnya Peduli Dan Paham COC FSC, ISO 9001  DAN SMK3 (PP 50 2012) 2 Penerapan  Integrasi Persyaratan persyaratan COC FSC, ISO 9001  DAN SMK3 (PP 50 2012) Prinsip Prinsip COC FSC, ISO 9001  DAN SMK3 (PP 50 2012) Pemahaman per Kriteria,  Indiikator, Verifier  COC FSC, ISO 9001  DAN SMK3 (PP 50 2012) Integrasi antara COC FSC, ISO 9001  DAN SMK3 (PP 50 2012) Pedoman Penerapan dan contoh penerapan Sertifikasi COC FSC, ISO 9001  DAN SMK3 (PP 50 2012) 4 Sistem Dokumentasi COC FSC, ISO 9001  DAN SMK3 (PP 50 2012) Pengertian dokumentasi Pendekatan hirarki dokumentasi Persyaratan sistem dokumentasi Format Dan bentuk sistem dokumentasi Tahapan Dan metoda penyusunan dan penerapan  sistem dokumentasi Contoh contoh sistem dokumentasi 5 Pengenalan Peraturan dan Perundang-undangan terkait COC FSC, ISO 9001  dan  SMK3 (PP 50 2012) Peraturan terkait Perijinan Peraturan terkait Bahan baku Kayu Peraturan terkait Manajemen Pabrik Peraturan Terkait K3 6 Tahapan dan Metoda Perancangan dan Penerapan COC FSC, ISO 9001  dan SMK3 (PP 50 2012) Tahapan Perancangan Metoda Perancangan Tahapan Penerapan Metoda Penerapan Hambatan  Hambatan Perancangan dan Penerapan ISO 9001, CoC FSC dan SMK3 7 Test Awal (pre test) Tujuan untuk mengetahui kondisi awal wawasan dan pengetahuan   awal setiap peserta, mengukur beberapa kesenjangan pengetahuan peserta, dimana dapat menjadi bahan pembahasan  selama pelatihan Diberikan soal berupa 10 soal, terdiri dari soal memilih (multiple Choice) dan soal essay (jawaban terbuka) 8 Test Akhir (Post test) Tujuan untuk mengetahui tingkat penerimaan peserta (penyerapan) terhadap materi pelatihan yang telah disampaikan  dan  tingkat efektivitas hasil pelatihan Diberikan soal berupa 20 soal, terdiri dari soal memilih (multiple Choice) dan soal essay (jawaban terbuka) Agenda Pelatihan dilakukan selama 2 (dua) hari dengan jadwal pelatihan sebagai berikut :   Waktu   Agenda Pelatihan Hari Pertama 08.15 – 08.30 Pembukaan & Test awal Peserta Pelatihan 08.30 – 09.00 Dasar dasar COC FSC, ISO 9001  dan SMK3 (PP 50 2012) 09.00 – 10.00 Dasar Dasar COC FSC, ISO 9001  dan SMK3 (PP 50 2012) 10.00 – 10.15 Istirahat 10.15. – 11.00 Persyaratan persyaratan COC FSC, ISO 9001  dan SMK3 (PP 50 2012) 11.00 – 12.00 Persyaratan persyaratan COC FSC, ISO 9001  dan SMK3 (PP 50 2012) 12.00 – 13.00 Istirahat 13.00 – 14.00 Persyaratan persyaratan COC FSC, ISO 9001  dan SMK3 (PP 50 2012) 14.00 – 15.00 Workshop  studi kasus Persyaratan persyaratan COC FSC, ISO 9001  dan SMK3 (PP 50 2012) 15.00 – 15.15 Istirahat 15.00 – 16.30 Pengenalan Peraturan dan Perundang-undangan terkait COC FSC, ISO 9001  dan SMK3 (PP 50 2012) Hari kedua 08.15 – 08.30 review materi hari pertama 08.30 – 09.00 Persyaratan persyaratan COC FSC, ISO 9001  dan SMK3 (PP 50 2012) 09.00 – 10.00 Persyaratan persyaratan COC FSC, ISO 9001  dan SMK3 (PP 50 2012) 10.00 – 10.15 Istirahat 10.15. – 11.00 Sistem Dokumentasi COC FSC, ISO 9001  dan SMK3 (PP 50 2012) 11.00 – 12.00 Persyaratan persyaratan COC FSC, ISO 9001  dan SMK3 (PP 50 2012) 12.00 – 13.00 Istirahat 13.00 – 14.00 Persyaratan persyaratan COC FSC, ISO 9001  dan SMK3 (PP 50 2012) 14.00 – 15.00 Workshop  studi kasus Persyaratan persyaratan COC FSC, ISO 9001  dan SMK3 (PP 50 2012) 15.00 – 15.15 Istirahat 15.15 – 16.00 Tahapan dan Metoda Perancangan dan Penerapan COC FSC, ISO 9001  dan SMK3 (PP 50 2012) 16.00 – 16.30 Test Akhir/Post Test Fasilitator Thomas Hidayat Kurniawan, Ir, MM. Thomas Hidayat Kurniawan, Ir, MM. Seorang  Trainer dan konsultan yang Berpengalaman dalam Sistem Manajemen Mutu, Lingkungan dan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), RSPO, ISPO, COC FSC, SFM FSC, SCCS, dll selama 12 tahun. Pengalaman sebagai trainer dan konsultan telah   menangani berbagai perusahaan dan lembaga, baik swasta Nasional, Multinasional dan pemerintah, sebanyak lebih dari 80   perusahaan/Lembaga.  Perusahaan yang sudah ditangani sebagai trainer sebanyak lebih dari 80 perusahaan. Sebagai Konsultan sudah menangani  70 perusahaan. Untuk proses audit pernah melakukan audit pada 60 perusahaan. Selain itu memilki  jaringan dengan beberapa Lembaga Sertifikasi karena pernah melakukan proses audit   atas nama Lembaga Sertifikasi  BMTRADA,  Mutu Agung Lestari, TUV Rheinland International, Smartwood Rain Forest Alliance, BSI Management System (Verificator SOP RSPO).  Sebaga Auditor pernah bergabung di PT TUV Rheinland International,dan  PT Mutu Agung Lestari (BM Trada). Memiliki pengalaman bekerja dengan konsultan International South Pole Carbon Asset Management AG Swizerland , dalam proyek Crabon Trade REDD di Papua Nuigini dan Proyek AF RF di Philipina.Pendidikan

Pelatihan Pemahaman Penerapan Integrasi CoC dan SVLK

Deskripsi Saat ini sertifikat CoC FSC Dan VLK sudah menjadi persyaratan dari pembeli jika ingin kayu untuk mendapatkan kontrak atau pesanan .. Munculnya keinginan konsumen ini untuk kebutuhan lingkungan Hutan semakin memprihantinkan tentang jumlah hutan dan kualitas hutan sejaa tahun 1980an yang semakin meningkat. Hal tersebutlah yang membuat industri kayu harus menerapkan sistem manajemen Standar Penelusuran (CoC) FSC (Forest Stewardship Council) dan SVLK Peraturan Menteri Kehutanan. Tujuan Pelatihan Setelah mengikuti Pelatihan CoC dan SVLK ini, peserta diharapkan memiliki pengetahuan untuk: Memahami pentingnya COC FSC DAN SVLK Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Memahami persyaratan COC FSC DAN SVLK Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Memahami tahap dan teknik penerapan CoC dan VLK Memahami sistem dokumentasi CoC dan VLK Metode Pelatihan Pelatihan CoC dan SVLK dilaksanakan dengan metode: Diskusi Contoh Penerapan Workshop / simulasi Peserta mempertimbangkan CoC FSC Dan SVLK Partisipasi metoda dan tahapan Penerapan CoC FSC dan SVLK Pemahaman Dasar – dasar COC FSC Dan SVLK METODA Pelatihan dijalankan dengan metoda: HASIL AKHIR Dari Program yang dijalankan diharapkan hasil yang akan dicapai adalah: Outline Materi Materi Pelatihan CoC dan SVLK yang akan dibahas adalah: Kebutuhan Dan Masalah Perdagangan hasil Hutan Sejarah CoC FSC Dan SVLK Definisi CoC FSC Dan SVLK Lingkup CoC FSC Dan SVLK, Manfaat CoC FSC Dan SVLK Pentingnya Peduli Dan Paham CoC FSCdan VLK Penerapan Persyaratan RSPO & ISPO Prinsip Prinsip CoC, FSC Dan SVLK Pemahaman per Kriteria, Indikator, Verifikasi CoC FSC Dan SVLK Integrasi antara CoC FSC dengan SVLK Pedoman Penerapan dan contoh penerapan Sertifikasi RSPO Dan ISPO Sistem Dokumentasi CoC FSC dan SVLK Pengertian dokumentasi Pendaftaran hirarki dokumentasi Persyaratan sistem Format Dan bentuk sistem dokumentasi Tahapan Dan metoda persiapan dan penerapan sistem dokumentasi Contoh contoh sistem dokumentasi Pengenalan Peraturan dan Perundang-undangan terkait CoC FSC dan SVLK Peraturan Terkait Perijinan Peraturan Terkait Bahan baku Kayu Peraturan Terkait Manajemen Pabrik Peraturan Terkait K3 Tahapan dan Metoda Perancangan dan Penerapan CoC FSC dan SVLK Tahapan Perancangan Metoda Perancangan Tahapan Penerapan Penerapan Metoda Hambatan Hambatan Perancangan dan Penerapan CoC FSC dan SVLK Tes Awal (pre test) Tujuan untuk mengetahui kondisi awal dan pengetahuan awal setiap peserta, mengukur beberapa pengetahuan peserta, dimana dapat menjadi bahan pembahasan selama pelatihan Diberikan soal terdiri 10 soal, terdiri dari soal memilih (pilihan ganda) dan soal esai (jawaban terbuka) Test Akhir (Post test) Tujuan untuk mengetahui tingkat penerimaan peserta (undangan) terhadap materi pelatihan yang telah disampaikan dan tingkat bantuan hasil pelatihan Diberikan soal terdiri dari 20 soal, terdiri dari soal memilih (pilihan ganda) dan soal esai (jawaban terbuka) Fasilitator Thomas Hidayat Kurniawan, Ir, MM. Thomas Hidayat Kurniawan, Ir, MM. Seorang Trainer dan konsultan yang Berpengalaman dalam Sistem Manajemen Mutu, Lingkungan dan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), RSPO, ISPO, COC FSC, SFM FSC, SCCS, dll selama 12 tahun. Pengalaman sebagai pelatih dan konsultan memiliki berbagai perusahaan dan lembaga, baik swasta Nasional, Multinasional dan pemerintah, lebih dari 80 perusahaan / Lembaga. Perusahaan yang telah menerima pelatih sebanyak lebih dari 80 perusahaan. Sebagai Konsultan yang sudah diselesaikan 70 perusahaan. Untuk proses audit pernah melakukan audit pada 60 perusahaan. Selain itu memilki jaringan dengan beberapa Lembaga Sertifikasi karena pernah melakukan proses audit atas nama Lembaga Sertifikasi BMTRADA, Mutu Agung Lestari, TUV Rheinland Internasional, Aliansi Hutan Hujan Smartwood, Sistem Manajemen BSI (Verificator SOP RSPO). Sebaga Auditor pernah bergabung di PT TUV Rheinland International, dan PT Mutu Agung Lestari (BM Trada). Memiliki pengalaman bekerja dengan konsultan Manajemen Aset Karbon Internasional Kutub Selatan AG Swizerland, dalam proyek Crabon Perdagangan REDD di Papua Nuigini dan Proyek AF RF di Philipina.Pendidikan formal S1 Dan S2 dari Institut Pertanian Bogor. Perusahaan yang pernah menjadi klien pelatihan: PT Bakri Sumatera Plantation, PT Dharma Satya Nusantara (Pam Oil dan CPO), PT Swakarsa Sinar Sentosa (Kelapa Sawit dan CPO), PT BW Plantation, PT Sahabat Mewah Makmur PT ANJ AGRI, Belitung, PT Eramitra AGROLESTARI, PT Sumatera Bakrie Plantation, PT JAMBI AGRO WIJAYA, PT Sumatera Bakrie Plantation, PT Kalimantan Sawit Abadi, (Grup Citra Borneo Indah),, PT Sawit Sumbermas sarana, (Grup Citra Borneo Indah), PT Mitra Mendawai Sejati, (Grup Citra Borneo Indah), PT Sawit Multi Utama, (Grup Citra Borneo Indah), PT Tanjung Sawit abadi. (Grup Citra Borneo Indah), PKS Sulung (Grup Citra Borneo Indah), PKS Suayap (Grup Citra Borneo Indah), PT PLN SEKTOR BUKITTINGG (PLTA Maninjau, PLTA Singkarak), PLTA Batang Agam), PT PLN Sektor Pandan Sibolga Sumatera Utara (PLTA Renun / Danau Toba, PLTA Sipan Sihaporas, 8 PLTM PLTM), PT Cipta Kridatama (Perusahaan Tambang – Grup Trakindo), PT BP Berau Ltd (Gas LNG), PT Total Kalimantan Timur (Minyak dan Gas), PT Kota Minyak Internusa (Minyak dan gas, PT Lematang Coal Industri (Penambangan), PT AKR Corporindo Tbk (Penambangan), PT Angkasa Pura 2 (Pengelola Bandara), PT PT Nike Indonesia, PT Nikomas Gemilang, PT Pabrik Rajut Pantjatunggal, PT Trasindo Permai, (Transportaion) layanan)

Operational Excellence with Lean Manufacturing

Sementara para pesaing di seluruh dunia masih berjuang untuk menjadi organisasi dalam era pasca industri (information wave), Toyota bergerak maju. Dalam semua ukuran—kesetiaan pelanggan, kualitas kendaraan, profit, jumlah keluaran (output), model baru terlaris, dan inovasi.

Training Operational Cost Reduction

Pendahuluan Krisis ekonomi global yang saat ini terjadi membuat perusahaan harus merancang suatu strategi “bertahan” sekaligus memenangkan persaingan. Untuk itu, strategi persaingan tidak hanya fokus pada faktor ekternal, seperti peta persaingan yang sengit, juga yang bagaimana merancang strategi bersaingan melalui keunggulan operasional (operational excellence) di dalam.

Modern HSE Management System

Sebagaimana yang tertuang di dalam Permenaker 05/Men/1996, Health Safety Environment atau K3 merupakan suatu hal yang wajib untuk dilaksanakan diseluruh industri yang memiliki tingkat bahaya yang potensial baik manufaktur; garment, shoes, electric equipt, dll.

Training Measuring Manufacturing Success

Training Measuring Manufacturing Success – Para manager professional dibidang industri/manufacturing sering melakukan improvement untuk meningkatkan daya saing. Merekapun banyak memilki ide yang brilian untuk melakukan perbaikan proses. Bagaimanakah improvement tersebut dimata top management? Sebab top management tidak memperhatikan lead time, inventory turnover, i quality improvement. Mereka focus pada “top line” dan  “bottom line”, apakah ada profit dari improvement itu. Sehingga perlu suatu metode pengukuran sebagai jembatan antara manufacturing dan top management dalam berkomunikasi masalah improvement.

Measuring & Achieving Real Inventory Accuracy

Tingkat akurasi inventory (Inventory Record Accuracy) sangat penting dalam menjaga kepuasan pelanggan. Untuk mendapatkan IRA yang dapat dipercaya, perusahaan harus mengukur apakah inventorynya dapat menunjang kebutuhan customer, baik itu untuk kebutuhan master schedule maupun delivery finish good. Bisa saja tingkat IRA mencapai 99 % tapi tidak menjamin bahwa material / item penting tersedia untuk produksi. Pelatihan ini akan memberikan anda pengetahuan mengenai basic inventory management, inventory integrity, proses cycle counting yang akurat.

Mastering QC 7 Tools for Problem Solving & Improvement

Training Mastering QC 7 Tools for Problem Solving & Improvement  mempelajari bagaimana menggunakan fungsi-fungsi dalam QC 7 Tools , bagaimana melakukan pengamatan terhadap suatu masalah dengan menggunakan metode 3-Gen d, bagaiamana mengolah hasil pengamatan ke dalam bentuk Pareto Chart dan hal – hal lain terkait Mastering QC 7 Tools for Problem Solving & Improvement . Deskripsi QC 7 Tools adalah alat yang sangat berguna sekali dan merupakan alat yang sangat ampuh untuk menyelesaikan suatu yang terkait dalam suatu proses (produksi / manufaktur). Dengan menggunakan QC 7 Tools menantang akan dapat diselesaikan dengan terstruktur, tepat, akurat dan cepat. Dalam sebuah industri manufaktur, terdapat 2 bagian besar yaitu proses pembuatan suatu produk dan produk yang dihasilkan itu sendiri. Satu hal yang sama di dalam 2 bagian besar tesebut adalah kedua-duanya dapat menghasilkan “Masalah”. Dimana masalah yang dihasilkan dalam proses pembuatan akan mengeluarkan biaya produksi dan masalah yang dihasilkan dari suatu produk akan menurunkan kinerja dari produk tersebut. Dengan menggunakan QC 7 Tools , masalah-masalah tersebut dapat diatasi. Dalam perkembangannya, QC 7 Tools tidak hanya digunakan sebagai alat untuk menyelesaikan masalah tetapi juga dapat digunakan sebagai alat dalam proses peningkatan suatu proses / produk. Target Peserta Pelatihan Mastering QC 7 Tools untuk Pemecahan Masalah & Perbaikan ini ditujukan untuk para: Teknisi, Supervisor, Foreman Maintenance / Engineering, Line Leader, Kepala Regu, Supervisor Produksi, Manager Maintenance, Produksi dan lain-lain. Metode Pelatihan Pelatihan Menguasai QC 7 Tools untuk Pemecahan Masalah & Peningkatan yang dilakukan dengan metode: Dialog Interaktif / Berbagi / Diskusi Grup Latihan di Kelas Studi Kasus Outline Materi Materi pelatihan yang akan membahas topik Menguasai QC 7 Tools untuk Pemecahan Masalah & Peningkatan adalah: Peserta pelatihan QC 7 Tools dapat menggunakan fungsi-fungsi dalam QC 7 Tools untuk memecahkan suatu masalah dan dapat membuat suatu perbaikan untuk menghasilkan hasil yang lebih baik. Peserta pelatihan QC 7 Tools dapat melakukan pengamatan terhadap suatu masalah dengan menggunakan metode 3-Gen dan dapat membuat Grafik (Alat ke-1) sebagai hasil dari pengamatan tersebut. Peserta pelatihan QC 7 Tools dapat mengolah hasil pengamatan ke dalam bentuk Pareto Chart (Alat ke-2). Dengan alat yang kedua ini, penanganan beberapa masalah akan dapat diselesaikan dengan cepat, tepat dan akurat serta dapat diselesaikan hingga 80% dengan tindakan yang hanya 20%. Dengan metode analisa 4M (Manusia, Bahan, Metode, Mesin) melalui Fish Bond Analysis (alat ke-3), kesepakatan yang telah ditentukan melalui tabel pareto dapat ditangani dengan tepat sasaran. Peserta pelatihan QC 7 Tools juga akan membahas bagaimana situasi ideal (“Kondisi Ideal”) melalui mesin / proses “Memburuk Alami” dan “Kerusakan Paksa” membuat kerusakan / masalah yang terjadi tidak akan terulang lagi. Peserta pelatihan QC 7 Tools juga akan membahas konsep 2-Gen (Fungsi Fundamental dan Kondisi Fundamental) sebagai fungsi dari masing-masing bagian dari setiap mesin / peralatan yang dapat digunakan secara maksimal dan tepat guna Peserta pelatihan QC 7 Tools, melalui pemahaman Scatter Diagram (alat ke-4) akan dapat memilah-milah apakah suatu keadaan terkait dengan masalah atau tidak. Peserta pelatihan QC 7 Tools juga akan mempelajari fungsi dari Lembar Periksa (alat ke-5) yang berguna untuk mengumpulkan data secara praktis. Suatu proses pembuatan pasti akan menghasilkan keluaran yang tidak seragam, padahal idealnya keluaran yang dihasilkan harus memiliki keseragaman yang tinggi. Dengan menggunakan Histogram (tools ke-6), “Kualitas Produk” akan selalu terkontrol di level yang tinggi. Control Chart (alat ke-7), merupakan alat yang mengatur seluruh hasil kerja. Dengan adanya alat penyimpangan yang terjadi akan dapat diketahui dengan cepat untuk dilakukan perbaikan. Ketujuh alat dalam QC 7 Alat juga dapat diimplementasikan sebagai alat dalam perbaikan. Untuk itu peserta pelatihan QC 7 Tools juga akan membahas prinsip-prinsip peningkatan, Prinsip harus melakukan perbaikan proyek. Perbaikan pada dasarnya adalah mengeliminasi pemborosan. Untuk itu peserta pelatihan juga akan membahas jenis-jenis pemborosan. Facilitator Indro Agung Handoko, ST. Dia telah berkecimpung di dunia industri kurang dari 15 tahun. Maintenanance dan Produktifitas, 2 hal yang sangat relevan dan saling menunjang telah dikembangkan menjadi sinergi yang hebat dalam pembuatan sistem. Sejak tahun 1999 telah menerbitkan dan mengetrapkan Konsep TPM dan Kaizen di dalam suatu industri. Kelebihan dan kekurangan dari implementasi TPM dan Kaizen ini telah dikenali dan diketemukan solusinya. Awal tahun 2003, mendapatkan Sertifikat TPM Basic dari Jepang dan disusul dengan penerimaan Sertifikat TPM Advance juga dari Jepang pada akhir tahun 2004. Sertifikat penerimaan ini tidak diperoleh secara resmi tetapi juga dengan bantuan di Lapangan. Tidak ketinggalan juga, Sertifikat Kaizen Basic dan Advance juga telah diperoleh pada tahun 2001 dan 2005. Berbekal pengalaman yang berhasil dan sertifikat yang diperoleh, berbagai macam proyek harus berhasil dilakukan dan berhasil dengan sukses. Proyek tersebut antara lain: Kembangkan / latih 25 kelompok TPM dengan masing-masing kelompok beranggotakan 5-8 orang dari tahun 2003 – 2006. Secara keseluruhan dengan TPM berhasil menurunkan Breakdown-rata 15%, bahkan ada yang mencapai 40%. Mengembangkan / melatih 8 kelompok Kaizen dengan masing-masing kelompok beranggotakan 5-8 orang dari tahun 2001 – 2006. Secara keseluruhan dengan Kaizen, produktivitas dapat ditingkatkan rata-rata 20%. Presentasi tentang Keberhasilan TPM di Jepang pada tahun 2005. Pada November 2006 mendapat Medali Perak pada ICQCC, sebuah konvensi internasional tentang QCC / SGA. Pada Februari 2007 menjadi pemenang ke-2 dalam lomba Kompetisi Praktik Terbaik yang diselenggarakan oleh Omron Head Quarter di Kyoto-Jepang. Sekarang sudah bergabung dengan ISSI Training dan Selnajaya Training sebagai Ascociate Trainer dan Consultant Consultant.

Mastering Operational Risk Management for HR Executive

Seiring dengan berkembangnya Perusahaan, maka semakin bertambah pula peluang dan tantangan bisnis yang dihadapi. Stabilitas dan kelangsungan hidup (sustainability) Perusahaan akan sangat bergantung pada kejelian para eksekutif dalam melihat peluang (opportunity) dan keseriusan dalam mengelola setiap risiko bisnis yang dihadapi.

Manufacturing Management

Deskripsi Dalam bisnis manufakur, sasaran partisipasi adalah (menghasilkan lebih banyak dengan lebih sedikit dan lebih sedikit.) Dengan kata lain menghasilkan hasil sebanyak-banyaknya melalui input (sumber daya) yang seminimum mungkin dalam waktu, mencari sumber daya. Manajemen Produksi (Manajemen Produksi) merupakan rangkaian teknik yang memanajemeni proses produksi mulai dari pemilihan, desain, penanganan, pengendalian dan peningkatan sistem produksi. Manajemen Manufaktur kian hari kian berkembang sesuai permintaan pelanggan yang menginginkan kualitas yang tinggi, pelayanan yang cepat, persetujuan, dan tentu saja biaya yang murah. Untuk program ini dirancang untuk dapat diterapkan secara praktis oleh para pimpinan di operasi dan manajemen produksi. Sasaran Pelatihan Setelah Mengikuti Pelatihan Manajemen Pabrikan ini, peserta diharapkan memiliki pengetahuan untuk: Memahami Konsep dasar Manajemen Produksi Memahami Teknik Peningkatan dalam Manajemen Produksi Membangun Keunggulan Manufaktur Sistem Manajemen Harian (DMS) Target Peserta Manajer, Supervisor / Staf di distribusi Operasi dan Manajemen Produksi Metode Pelatihan Pelatihan Manajemen Pabrikasi dilaksanakan dengan metode: Ceramah, diskusi, latihan, simulasi dan presentasi video Outline Materi Materi pelatihan yang akan di bahas topik Manajemen Manufaktur adalah: Dasar-dasar Manajemen Produksi Masalah Strategis dalam Manajemen Produksi Teknik Peningkatan dalam Manajemen Produksi Keunggulan Manufaktur Sistem Manajemen Harian (DMS) Fasilitator Selamat Walmanto Hia, MSc.Eng.,SSMBB.,CLA Pengalaman lebih dari 10 tahun sebagai praktisi dan konsultan dalam bidang proses improvement di perusahaan nasional maupun multinasional. Lulus dari teknik mesin UI dan Master of Engineering dari NTUST Taiwan. Mendapatkan sertifikasi Six Sigma Master Black Belt dari IQF-USA, Certified Lead Auditor IRCA-UK, Certified BSCM dari APICS-USA. Ia telah membantu berbagai perusahaan dalam menerapkan improvement baik dalam konsultasi dan mendeliver berbagai topik training di bidang proses improvement dan management system. Beberapa clien yang telah dibantu dari berbagai jenis industri seperti Electronic, automotif, FMCG, pharmaceutical, cigaret paper, fertilizer, mining, banking, construction, university.

Manajemen Risiko Operasional Bank

Pelatihan Manajemen Risiko Operasional Bank mempelajari bagaimana pengertian tentang risiko dan risiko operasional, mengenai kasus-kasus perbankan terkait risiko operasional, bagaimana mengenali jenis-jenis kegagalan Operasional Bank, dan hal – hal lainnya. Deskripsi Dalam pelatihan ini bertujuan agar anda dapat meningkatkan pemahaman dan kemampuan praktis peserta dalam penerapannya. Ancaman yang muncul dari dan terhadap kegiatan operasional bank dapat dipicu oleh berbagai faktor baik internal maupun ekstenal.  Peristiwa potensial seperti penyalahgunaan wewenang (fraud), kegagalan sistem teknologi informasi, standar proses operasi yang belum sesuai dengan peraturan/regulasi yang berlaku, dan kejahatan pihak eksternal terhadap bank jika tidak identifikasi dan dikelola dengan baik dapat menimbulkan permasalahan yang berat bahkan bencana bagi bank. Risiko operasional sebenarnya lazim dihadapi berbagai lembaga keuangan termasuk bank, namun jenis risiko ini baru mendapatkan perhatian luas setelah dimasukan ke dalam kerangka regulasi Basel II. Manajemen risiko yang terkait dengan risiko operasional ini dikenal sebagai manajemen risiko operasional.  Seiring dengan itu, terdapat kebutuhan akan pemahaman yang memadai dan komprehensif mengenai manajemen risiko operasional. Tujuan Pelatihan Setelah mengikuti Pelatihan Manajemen Risiko Operasional Bank ini, peserta diharapkan memiliki pengetahuan untuk: Workshop dua hari ini dirancang untuk menjawab kebutuhan tersebut di atas dengan tujuan dapat meningkatkan pemahaman dan kemampuan praktis peserta dalam penerapan manajemen risiko operasional. Outline Materi Materi training yang akan di bahas topik Manajemen Risiko Operasional Bank adalah : Pengertian tentang Risiko dan Risiko Operasional Kasus-kasus Perbankan terkait Risiko Operasional Mengenali Jenis-jenis Kegagalan Operasional Bank: people risk, process risk (model, transaksi, dan kegiatan operasional), system and technology risk, external party risk, dan natural disaster risk. Elemen-elemen Utama Manajemen Risiko Operasional: Kebijakan, identifikasi, proses bisnis, metode pengukuran, manajemen eksposur, pelaporan, analisis risiko, dan economic capital. Risiko Operasional dan Risk Capital. Model-model Risiko Operasional berbasis Basel II: Basic Indicator, Standardized Approach, dan Advanced Measurement Approach (AMA). Value-at-Risk (VAR) for Operational Risk Risk and Control Self-Assessment (RCSA): Arti penting, pendekatan, dan pelaksanaan RCSA yang efektif Strategi Mitigasi Risiko Operasional: risk prevention dan risk reduction program. Operational risk reporting and profiling Fasilitator Drs. Deddy Jacobus, CIR, CCSA Deddy Jacobus adalah pendiri dari Center for Risk Management and Decision Making, anggota Executive Committee pada Professional Risk Managers International Association (PRMIA) Indonesia Chapter (www.prmia.org) sebuah organisasi professional manajemen risiko yang berkantor pusat di Chicago, USA. Beliau Eksekutif pada Indonesian Risk Professional Association (IRPA) (2007-2009). Beliau berpengalaman luas sebagai konsultan maupun pembicara dalam bidang manajemen risiko, good corporate governance dan internal control dan sejak tahun 2004 beliau terus berkontribusi bagi sejumlah besar kliennya yang berasal dari berbagai BUMN maupun perusahaan swasta di sektor finansial maupun non-finansial. Beliau mendapatkan sertifikasi internasional di bidang manajemen risiko dan pengendalian internal (Certified in Control Self-Assessment/CCSA) pada tahun 2007 dari the Institute of Internal Auditors (IIA) yang berkedudukan di Florida, USA. Pengalaman dalam konsultansi implementasi manajemen risiko termasuk inhouse di berbagai perusahaan berikut: Semen Gresik Group, PJB (Persero), PT Pupuk Kaltim, Kaltim Industrial Estate, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, Reasuransi Nasional, Sucofindo, Jamsostek, Pegadaian, Badan Sertifikasi Manajemen Risiko (BSMR), PLN Batam, Dana Pensiun Telkom, Dana Pensiun Pertamina, Dana Pensiun Perkebunan, PLN Holding (Kantor Pusat), BFI Finance. Samudera Indonesia, Indosat, BRI, Bank Mandiri, Bukopin, Pupuk Kujang, Krakatau Steel, Pos Indonesia, Reasuransi Indonesia, Dirgantara Indonesia, PT KAI, Pertamina Holding, Telkomsel, Astra Internasional, Astraventura, dan banyak lainnya. Pendidikan: S1 Universitas Gadjah Mada (1994), S2 Risk Management  Universitas Gadjah Mada (2008-), Certified Investor Relations (CIR) EDP-STAN (2004), Certified In Control Self-Assessment (CCSA) (2007), Institute of Internal Auditors, Florida, USA.

Training Managing Master Schedule

Latar Belakang Sistem penjadwalan yang akurat menentukan ketepatan waktu pengiriman dan cost yang efektif. Pelatihan ini memberikan anda metode pembuatan master schedule yang akurat menggunakan parameter seperti demand time fence, planning time fence & safety stock. Peserta akan mempelari bagaimana konsep ini akan berpengaruh terhadap perencanaan demand & capacity plan, inventory & stock out rate.

Management Operating System through RACI Concept

Pelatihan Management Operating System through RACI Concept adalah pelatihan yang mempelajari mengenai peran dan tanggung jawab dalam suatu Organisasi, apa itu pengertian RACI, bagaimana konsep RACI, apa manfaat dan tujuan RACI, bagaimana peta / matrix peran dan , mengenai tanggung jawab, lembar peranan RACI dan langkah-langkah dalam pelaksanaan RACI. Deskripsi Terdapat sebuah cerita tentang 4 orang bernama Setiap Orang, Seseorang, Siapapun,  Tak seorangpun. (RACI) Kemudian…, muncullah sebuah tugas penting yang harus diselesaikan. Setiap Orang diminta untuk melakukannya. Setiap Orang yakin Seseorang akan melakukannya, karena Siapapun dapat melakukannya, tetapi Tak Seorangpun yang melakukannya.(RACI) Seseorang marah sebab itu adalah tugas Setiap Orang. Setiap Orang berfikir Seseorang dapat melakukannya, tetapi Tak Seorangpun menyadari bahwa Setiap Orang tidak akan melakukannya.(RACI) Cerita ini berakhir dengan Setiap Orang menyalahkan Seseorang ketika Tak Seorangpun mengerjakan yang seharusnya Siapapun dapat mengerjakanya.(RACI) Apakah anda pernah mengalami hal serupa di kantor / perusahaan anda….??? Dalam training ini akan di paparkan secara terstruktur apa peran, tanggung jawab setiap personel yang berada di dalam suatu organisasi, sehingga setiap orang akan menyadari, menerima apa yang menjadi tanggung jawabnya (Responsibility). Siapa yang akan menanggung beban dari tanggung jawab yang ia emban (Accountibility). Kepada siapa ia mengkonsultasikan apa yang berlangsung di dalam pekerjaannya (Consulted) akhirnya kepada siapa ia harus melaporkan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya (Informed). Target Peserta Pelatihan Management Operating System through RACI Concept ini ditujukan untuk para: Manager, Supervisor, Leader serta person yang berhubungan dengan pelaksanaan management operational Metode Pelatihan Training Management Operating System through RACI Concept dilaksanakan dengan metode: Seminar / In Class Training / In house Training Dialog Interaktif / Sharing.(RACI) Diskusi Grup.(RACI) Latihan di kelas & Case Study.(RACI) Outline Materi Materi training yang akan di bahas topik Management Operating System through RACI Concept adalah : Peran dan Tanggung Jawab dalam suatu Organisasi Pengertian RACI Konsep RACI Manfaat dan Tujuan RACI Peta / Matrix Peran dan Tanggung Jawab Lembar Peranan RACI Langkah-langkah dalam pelaksanaan RACI Definisi dan pengertian GOALS Mengapa harus ada GOALS dalam suatu perusahaan Manfaat RACI dalam pencapaian GOALS Durasi : Seminar / In Class Training >>> 1 hari (7 jam) Management Operating System through RACI Concept Facilitator Indro Agung Handoko, ST. Beliau telah berkecimpung di dalam dunia industri kurang lebih 15 tahun. Maintenanance dan Produktifitas, 2 hal yang sangat berkaitan, saling menunjang telah dikembangkan menjadi suatu sinergi yang hebat dalam suatu sistem manufacture. Sejak tahun 1999 telah mempelajari dan mengetrapkan Konsep TPM, Kaizen di dalam suatu industri. Kelebihan dan kekurangan dari implementasi TPM dan Kaizen ini telah dikenali dan diketemukan solusinya. Awal tahun 2003, mendapatkan Sertificate TPM Basic dari Jepang,  disusul dengan penerimaan Sertificate TPM Advance juga dari Jepang pada akhir tahun 2004. Penerimaan sertificate tersebut tidak diperoleh secara teoritis saja tetapi juga dengan implementasi di Lapangan. Tidak ketinggalan juga, Sertificate Kaizen Basic dan Advance juga telah diperoleh pada tahun 2001 dan 2005. Berbekal pengalaman yang mendalam dan sertificate yang diperoleh, berbagai macam project telah berhasil dikerjakan,  berhasil dengan sukses. Project tersebut antara lain: Develop / training 25 group TPM dengan masing-masing group beranggotakan 5-8 orang dari tahun 2003 – 2006. Secara overall dengan TPM berhasil menurunkan Break Down rata-rata 15%, bahkan ada yang mencapai 40%. Develop / training 8 group Kaizen dengan masing-masing group beranggotakan 5-8 orang dari tahun 2001 – 2006. Secara overall dengan Kaizen, produktifitas dapat ditingkatkan rata-rata 20%. Presentasi tentang Keberhasilan TPM di Jepang pada tahun 2005. Pada November 2006 mendapat Medali Perak pada ICQCC, suatu konvensi international tentang QCC / SGA. Pada Februari 2007 menjadi pemenang ke-2 dalam lomba Best Practice Competition yang diselenggarakan oleh Omron Head Quarter di Kyoto-Japan. Sekarang sudah bergabung dengan ISSI Training dan Selnajaya Training sebagai Ascociate Trainer dan Productivity Consultant.