Banking Series

Online Training : Panduan Cepat Budgeting dan Cost Control For Non-Finance

Dalam kondisi sulit , penyusunan budgeting dan cash flow  sangat diperlukan agar keuangan perusahaan dapat selamat. Budget merupakan suatu alat acuan yang penting dalam mengarahkan dan mengontrol jalannya perusahaan. Selain itu, Cost Control juga penting agar budget anda tidak lebihi target. Sayangnya banyak orang non keuangan yang tidak mengerti masalah ini dan seringkali menyalahkan orang finance sebagai pelit – tidak paham marketing dst. Apa solusinya?  Ajak teman non-finance ini utk ikut dalam mini workshop ini agar terbentuk teamwork yang serasi. Materi : Facilitator Daniel Saputro, MM., MBA. Daniel Saputro dan tim BusinessBuddy Int memiliki pengalaman 21 tahun dalam perbaikan kinerja perusahaan. Kami aktif memberikan pembekalan maupun konsultasi terutama di bidang transformasi dan manajemen perubahan di 4 area yakni: Business Model (termasuk Balanced Scorecard dan Strategy Map) – People Development – Process – Culture Internalization, yang mengarah ke Auto Pilot System. Nuqul Group (Yordania) dan Banpu (Thailand) adalah contoh perusahaan internasional yang telah menggunakan jasa konsultasinya. Di dalam negeri, Daniel menjadi konsultan bagi banyak perusahaan maupun institusi pemerintah. Di antaranya Jamsostek, Bea Cukai, Sekretariat DPR, Jasa Sarana BUMD Jabara, BioFarma Bandung, Kementerian Keuangan PUSINTEK, Pertamina, LPP BUMN di Jogja dan BTN. Perusahaan swasta nasional sering menunjuk Daniel sebagai konsultan. Sebut saja Indocement, Triputra, Bosowa (Makasar), Tunas Ridean Group, MusimMas (Medan), Capella (Medan), CPSSoft, ILP, Darya Varia, KPUC (Samarinda), Medifarma, Prafa. Indospring (Surabaya) dan Acer (Jakarta) , Infomedia dan Sentul City. Beliau juga aktif memberikan pelatihan di Chevron, Astra, Commonwealth Bank, TOTAL EP, Holcim dan banyak lainnya Di sisi lain, Daniel Saputro juga memiliki minat yang besar terhadap dunia pendidikan. Karena itu, kini, dia aktif menjadi fasilitator MiniMBA serta pengajar mata kuliah bisnis dan pemasaran di program S2. Daniel juga menggunakan tulisan sebagai sarana untuk membagikan ilmunya. Ia menjadi kontributor untuk Tabloid KONTAN, Swa, dan Jakarta Post. Untuk Family Business, kami membantu suksesi dan transformasi menuju perusahaan yang lebih professional. Dengan cara membentuk Leadership yang profesional dan menggunakan KPI berbasis balanced Scorecard.

Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU & PPT)

Objective Pelatihan APU PPT ini memberikan pemahaman tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme. Materi pelatihan berdasarkan pada POJK terbaru No 12/POJK.01/2017, UU No 8 Tahun 2010 serta UU No 9 Tahun 2013. Pelatihan ini bisa diikuti oleh kalangan perbankan maupun Industri Keuangan Non Bank (IKNB).  Dibawakan oleh praktisi keuangan yang sudah berpengalaman lebih dari 26 tahun dan memiliki sertifikasi internasional dalam GRC Professional. Outline Program Knowledge check Budaya sadar risiko Dampak Skandal keuangan global terhadap aktivitas pencucian uang dan pendanaan terorisme di sektor jasa keuangan. Peran dan fungsi petugas APU PPT Prinsip Customer Due Dilligence (CDD) Kewajiban mengimplementasikan prinsip CDD Proses CDD dan Penerapannya Hubungan antara CDD dan APU PPT Pemantauan profil nasabah/transaksi Pembuatan profil nasabah berdasarkan risiko Penanganan customer berisiko tinggi (high risk customer) Identifikasi aktifitas transaksi mencurigakan. Teknik Anti Money Laundering (AML) Teknik Penempatan (Placement) Teknik Penyamaran (Layering) Teknik Pengintegrasian (Integration) Tinjauan UU No 8 Tahun 2010 (Tindak Pidana Pencucian Uang di Indonesia) Tinjauan UU No 9 Tahun 2013 (Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme) POJK terbaru No 12/POJK.01/2017 (Program APU & PPT Sektor IKNB) Studi kasus Tujuan Pelatihan Menumbuhkan budaya sadar risiko aktivitas pencucian uang dan pendanaan terorisme pada setiap karyawan terutama petugas front liner. Menguasai teknik mitigasi risiko-risiko yang mungkin timbul pada area yang rentan dengan pencucian uang dan pendanaan terorisme sesuai dengan POJK dan UU terkait. Memberikan panduan pembuatan pedoman APU PPT sesuai POJK terbaru No.12/POJK.01/2017. Target Peserta Karyawan front liner. Middle management yang berhubungan dengan customer. Unit kerja atau pejabat yang bertanggung jawab atas penerapan program APU PPT. Divisi kepatuhan, dll. Facilitator Kurnia Hadi. Kurnia Hadi seorang profesional trainer yang pernah berkarir di 3 bank multinasional yakni, Korea Exchange Bank Danamon, Indonesia Dai-Ichi Kangyo Bank, dan HSBC selama lebih dari 20 tahun. Latar pendidikan beliau manajemen keuangan dari Universitas Indonesia. Beliau menjadi trainer profesional sejak tahun 2012 dan sejak itu telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 100 perusahaan. Bidang keahliannya antara lain retail banking and wealth management, trade & finance, sales & marketing, risk management, compliance, anti money laundering, quality assurance, dan micro banking. Kurnia Hadi menyandang sertifikat internasional dalam bidang manajemen risiko dan kepatuhan yang dikeluarkan oleh Open Compliance and Ethics Group (OCEG), sebuah lembaga global asal Amerika Serikat yang berfokus pada peningkatan governance, risk management, dan compliance.  Beliau sekaligus mendapat lisensi dari OCEG untuk menyelenggarakan pelatihan dan sertifikasi Governance Risk Compliance Professional (GRCP) dan Governance Risk Compliance Auditor (GRCA) di Indonesia. Di level internasional, beliau pernah menjadi pembicara dalam berbagai konferensi. Salah satunya dalam konferensi internasional “Commodity Trade and Finance World Asia” pada tahun 2012 di Singapura. Daftar klien yang pernah ditanganinya antara lain Bank Indonesia, Kementerian Keuangan RI, Bank Mandiri, Bank BTN, Bank BRI, Bank BNI, Bank Maybank Indonesia, Bank Woori, Bank CIMB Niaga, Bank Sahabat Sampoerna, Bank BTPN, Bank UOB Indonesia, BNI Life, Asia Finance, Sun Life Indonesia Services, Trihamas Finance, FIF Group, Maybank Kim Eng Securities, Mandiri Sekuritas, Astrido Pacific Finance, Intensif Multi Finance, PT Pos Indonesia, ndonesia Power, Mitra Energi Prima, Kalbe Internasional, Asahimas Chemical, Loreal Manufacturing Indonesia, KPEI, Telkomsigma, dll. Kurnia Hadi aktif menulis buku, beberapa bukunya yang telah diterbitkan antara lain: Menjaring Dolar Ala UKM (2016). Handbook: Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (2017).

Succesion Plan yang bikin pusing

            Kisah ini diambil dari pengalaman kami menangani bisnis keluarga di bumi Kalimantan (disamarkan untk pembelajaran). Ada keluarga  yang berbisnis batubara. Tentunya sukses besar. Sang anak – yang 4 tahun lalu dikirim ke UK untuk belajar bisnis – akhirnya kembali ke Indonesia (baca: kembali melanjutkan bisnis keluarga). Pastinya dengan membawa segudang ilmu manajemen yang mumpuni. Dengan motivasi menyala si pewaris tahta ini ingin segera menerapkan konsep-konsep teranyar yang dipelajarinya selama ngendon di bangku kuliah. Harapannya juga besar bahwa keluarga besarnya akan mendukung gagasannya untuk memodernisasi perusahaan. “Toh inilah alasan utama mengapa saya dikirim ke luar negeri,” pikirnya memotivasi diri.             Di benaknya saat diwisuda di kampus London sebagai 10 besar murid terbaik adalah: kembali dan mulai memodernisasi perusahaan jadul keluarga. Mimpinya besar yakni membawa bisnis keluarga ke “level yang lebih tinggi’. Rupanya ia sangat terinspirasi oleh gebrakan pak Sandiago Uno dan pebisnis besar lainnya yang walau masih muda tetapi sudah sukses. Terbayang di pelupuk matanya, langkah-langkah yang akan ia lakukan segera setelah mendarat kembali di Indonesia. Mulai dari menerapkan konsep-konsep anyar seperti Manajemen Modern, Strategic Planning, juga membuat struktur organisasi yang lebih professional. Sampai  membuat SOP dan KPI yang jelas agar tercipta Autopilot Business.             Setelah semua berjalan bagus, ia bermimpi untuk merubah WBAWI (what business are we in) – yang semula in Coal Mining Business – menjadi Investment Company. Di otaknya sudah tercetak jelas Road Map organisasi dalam 5 sampai 10 tahun mendatang. Juga strategy map dengan 4 perspective untuk mencapainya. Ia juga mulai mencoba berinovasi – mencoret sketsa di kertas – untuk menggabungkan Balanced Scorecard dengan Performance Prism yang dipelajarinya di UK. Tentunya – diawal – ia yakin benar bahwa keluarga besarnya akan mendukung gebrakannya dengan sepenuh hati. “Pasti ayah saya akan bangga dengan terobosan baru yang akan saya terapkan” pikirnya mantap.             Sang anak mulai terkejut ketika menyadari bahwa ide-ide yang ia lontarkan hanya mendapatkan tanggapan ringan dari ayahnya. Ide awal untuk merenovasi kantor agar tampak lebih representative, ternyata hanya mendapatkan jawaban “Ya, bagus. Nanti kita pikirkan” dari sang ayah. Ide menjalankan system KPI dan Scorecard dijawab dengan kalimat tegas namun menjatuhkan semangat sang anak: “Buat apa yang yang aneh-aneh. Toh begini saja kamu sudah bisa sekolah ke luar negeri”.             Awalnya memang sang anak sempat galau juga. Namun tekad dan semangat pantang menyerah warisan sang ibu ternyata masih membara. Sang anak berjuang terus meyakinkan ide-idenya. Setelah berbulan-bulan mencoba meyakinkan sang ayah, akhirnya sang ayah mulai luruh juga. Beberapa idenya mulai ‘disetujui”. Artinya boleh dilaksanakan – namun kalau soal dana – itu lain lagi urusannya. Ya, ini belum selesai lho. Karena walau disetujui oleh sang ayah, kas keuangan dipegang oleh sang “aunty” (adik dari sang ayah).  Cara berpikirnya juga bertolak belakang dengan sang anak yang ingin berinvestasi untuk tumbuh. Sang aunty lebih ke arah penghematan biaya.  Ini jawaban dari sang Aunty: “ Lha, ini khan biayanya besar. Buat apa dikerjakan. Toh buyer dari dulu juga datang terus. Sudahlah, jangan hanya bisa menghamburkan uang. Hemat …hemat. Anak jaman sekarang tidak tahu susahnya cari uang. Bisanya hanya foya-foya. Coba-coba yang tak jelas juntrungannya” kata sang aunty dengan “bijaksana”. Maka terdiamlah sang anak dengan wajah pucat pasi. Mana mungkin melawan kalimat bijaksana dari yang lebih tua. Bisa kualat ntar. Wah susah ya ternyata “mentransformasi” bisnis keluarga.             Apa yang pembaca rasakan? Tentunya kejadian diatas pernah terdengar oleh anda. Apa hal diatas perlu dikoreksi atau tetap dibiarkan saja? Toh tanpa transformasipun, bisnis keluarga ini memang berjalan mulus.             Dahulu, saat usaha masih kecil dan founder masih bisa bertemu dan berinteraksi langsung sampai ke pegawai yang paling bawah, maka cara-cara tradisional memang masih tetap OK. Pemikiran sang founder masih akan tetap sampai ke level operasional.             Sayangnya gaya ini masih dipertahankan terus saat perusahaan sudah mulai menggurita. Dengan banyaknya layer-layer yang terbentuk, maka pemikiran dan komunikasi antar founder dengan operasional semakin tidak intens. Seringkali terjadi salah komunikasi. Lagipula semakin tua seseorang maka semangat perubahannya mulai menyusut dan mulai mencari zona aman. Sebaliknya generasi muda dengan semangat menyala, ingin sekali mengadakan semangat pembaharuan.             Solusi terbaik untuk mengatasi hal ini adalah dengan: Pertama, mengundang pihak ketiga – yang dihormati oleh founder – untuk berbicara hati ke hati mengenai Succesion Plan yang baik. Toh umur tak dapat dicegah makin menua. Jadi cepat atau lambat, peralihan generasi akan terjadi. Lebih baik direncanakan dulu daripada mendadak founder harus menghadap penciptanya. Biasanya organisasi langsung kacau. Dalam beberapa kasus malah langsung kolaps. Kedua, memberikan kesempatan kepada generasi penerus melanjutkan usaha dengan cara bertahap.Posisikan saja anak anda di bagian Corporate Planning yang terletak di leher struktur organisasi. Jadi sang anak bisa belajar berbisnis sambil mendalami wisdom dari generasi senior. Perlahan berikan tanggung jawab yang lebih besar. Misalnya di tahun pertama, sang anak berhak membuat keputusan senilai 100 juta, di tahun kedua 500 juta dan seterusnya. Jadi dilepas pelan-pelan agar jangan langsung terjun bebas.             Ketiga, Profesional bisa dipilih jika 2 pilihan diatas sudah dicoba dan tidak berhasil. Beberapa founding father lebih memilih professional yang berlatar belakang perbankan karena dianggap lebih mengetahui banyak bisnis, sanggup mengelola resiko, relasi luas dan lebih prudent. Integitasnya juga tak diragukan. Namun sang profesionalpun bisa frustasi jikalau tidak ada pembagian yang jelas antara fungsi dan peran BOD dan BOC. Apalagi jikalau ada family member yang masuk di level manager, tetapi juga terdaftar di BOC. Bakal pusing si professional…. Karenanya perlu konsensus antar anggota keluarga, komitmen dalam jangka panjang dan bersedia mengeluarkan investasi untuk mempersiapkan system…. Penulis  : Daniel Saputro, MM., MBA. Senior Corporate Advisor Daniel Saputro dan tim BusinessBuddy Int memiliki pengalaman 21 tahun dalam perbaikan kinerja perusahaan. Kami aktif memberikan pembekalan maupun konsultasi terutama di bidang transformasi dan manajemen perubahan di 4 area yakni: Business Model (termasuk Balanced Scorecard dan Strategy Map)  – People Development  – Process – Culture Internalization, yang mengarah ke Auto Pilot System. Nuqul Group (Yordania) dan Banpu (Thailand) adalah contoh perusahaan internasional yang telah menggunakan jasa konsultasinya. Di dalam negeri, Daniel menjadi konsultan bagi banyak perusahaan maupun institusi pemerintah. Di antaranya Jamsostek, Bea Cukai, Sekretariat DPR, Jasa Sarana BUMD Jabara, BioFarma Bandung, Kementerian Keuangan PUSINTEK, Pertamina, LPP BUMN di

Sentuhlah ia tepat di hatinya

Banyak terjadi miskomunikasi antara perusahaan dan pegawai. Bagaimana mencegahnya? Mari kita mulai dari kata dasar  “komunikasi” yang penuh dengan sejarah. Berasal dari bahasa Latin (communicare) – yang berarti memberi informasi atau bersama-sama memakai – kata ini masuk ke bahasa Inggris (common) di sekitar abad 14. Berkomunikasi berarti perusahaan dan karyawan harus mempunyai kesamaan makna (commonness) dalam mencapai tujuan perusahaan. Adanya kesamaaan dan kejelasan tujuan menciptakan sinergi antara karyawan dan perusahaan. Nah, kalau sekedar teori ini, banyak perusahaan yang sudah tahu…   Padahal masalah utama miskomunikasi terletak pada penerapannya, misalnya: Pertama, pendekatan berkomunikasi perusahaan terhadap karyawan biasanya terlalu ”anggap enteng”. Komunikasi perusahaan sebenarnya  dimulai dari VISI, MISI dan VALUES. Namun banyak perusahaan besar yang kami temui – terutama perusahaan keluarga – hanya mengandalkan komunikasi lisan dan tidak punya VISI, MISI atau VALUES yang tertulis. Perusahaan mengganggap bahwa karyawan sudah tahu tujuan perusahaan secara lisan, padahal karyawan sendiri hanya bengong jika ditanya. Dalam suatu sesi FGD yang dihadiri pemilik dan sekitar 150 karyawan, kami bertanya: ”Apa ya yang menjadi tujuan atau visi perusahaan ini di masa depan?”.Bisa ditebak, tak ada yang mampu menjawabnya kecuali si pemilik! Akibatnya? Perusahaan itu tidak maju-maju dan hanya sekedar bertahan, bahkan 2 tahun terakhir ini pasarnya mulai digerogoti pesaing. Untung – setelah diberi masukan secara halus – mereka mulai sadar dan mau berubah. Seringkali terjadi Visi, Misi dan Values juga terlalu abstrak, akibatnya susah dimengerti oleh lapisan bawah. Bagi lapisan ini, Visi-Misi dan Values adalah ”permainan” orang atas, bukan urusan mereka. Karenanya mereka hanya mengerjakan rutinitas sehari-hari, dan bukan bekerja dari hati. Tombol perasaan mereka tidak tersentuh oleh kalimat-kalimat bombastis yang diukir oleh pimpinan puncak. Kedua, kalaupun ada VISI MISI yang tertulis, itupun sekedar ditempel di dinding, namun tidak di internalisasikan. Efeknya: menjadi sekedar pajangan di dinding dan tidak mampu membuat karyawan bekerja ”dari hati”. Perusahaan ini baru panik jika ternyata produktifitas perusahaan menurun, mulai terjadi demo-demo dan disalip pesaing. Seandainya saja setiap perusahaan mempunyai cara  berpikir seperti grup Astra, Triputra dan akhir-akhir ini Tunas Group , maka kinerja yang signifikan tentunya dapat diperoleh. Grup yang disebutkan diatas, terutama Astra, mempunyai kinerja yang diatas rata-rata industry. Mengapa? Karena grup ini fokus pada people and culture development. Secara periodik, diadakan internalisasi Visi-Misi-Values dalam bentuk pelatihan-pelatihan dan corporate gathering. Sehingga secara bertahap, terjadilah transformasi perubahan perilaku. Secara khusus, kalau diobservasi, memang ”lulusan” dari Astra mempunyai perilaku yang berbeda. Rata-rata mereka mempunyai values yang sangat profesional.             Selain 2 masalah sebelumnya, ada juga masalah ketiga yakni:  komunikasi di ruang meeting umumnya jarang ditindaklanjuti dengan komunikasi informal yang sebenarnya justru jauh lebih efektif. Kumpul-kumpul dan diskusi sehabis Sholat Jumat jarang dilakukan karena pimpinan takut ”tak dihormati lagi oleh bawahan”. Sekedar menepuk bahu dan memuji ”good job my friend’ jarang dilakukan karena ada persepsi ”takut pada ngelunjak”. Padahal di saat sulit dan di masa perusahaan perlu perubahan, komunikasi informal ini terbukti paling efektif. Lihat saja langkah Luthfi Mardiansyah dalam membenahi PT Pfizer Indonesia (PI). Beliau meyakini bahwa tugas terpenting CEO adalah komunikasi. Selain komunikasi formal, juga harus ditambah komunikasi  informal. Saat kunjungan ke cabang, beliau makan malam bareng dengan karyawan di lesehan tepi jalan atau di warung kaki lima. Tidak perlu ke restoran mahal, karena intinya adalah: karyawan – sebagai orang kecil – ingin didengarkan suaranya. Hal ini juga beliau lakukan  saat acara main bulutangkis bareng. Tak heran, kini PI menjadi perusahaan farmasi asing terbesar di Indonesia. Kita juga bisa belajar dari PT INTI, dengan Irfan sebagai sang komandan yang juga melakukan informasi informal. Saat perombakan organisasi, 2-3 bulan pertama saat mulai menjabat sebagai CEO, ia turun ke bawah. Memang di lantai direksi disediakan ruang khusus yang disebut war room. Ada direksi yang mengawal, siaga menjawab setiap pertanyaan yang datang. Namun itu tidak cukup. Beliau juga melakukan komunikasi informal, medengarkan secara langsung keluhan dan masukan dari para karyawan setelah sembahyang Jumat. Sambil duduk di bawah pohon, beliau ngobrol-ngobrol sampai ke level yang paling bawah. Disinilah karyawan mendapatkan kedekatan emosional dengan pimpinannya. Nah, gampang bukan mendapatkan cara yang tepat untuk menggaet ”hati”  dan dukungan dari karyawan? Karena pada prinsipnya, semua manusia ingin didengar. Tepat apa yang dikatakan Dr Mike Teng dalam buku Corporate Turnaround: “Manage self with the head, manage others with the heart”. Ya memang menemukan tombol-tombol perasaan karyawan itu tidak gampang. Namun jika sang pemimpin bisa menemukannya, maka akan terjadilah peristiwa seperti yang dinyanyikan oleh Ari Lasso: ’Sentuhlah dia tepat di hatinya, maka dia akan menjadi milikmu …selamanya”. Hal yang sama juga pernah dipraktekkan oleh Emirsyah saat membenahi Garuda. Garuda ini dulunya pernah dikenal sebagai singkatan dari:  Good And Reliable Under Dutch Administration. Namun sekarang tentunya tidak lagi berkat tangan dinginnya Emirsyah. Setiap tiga bulan beliau turun langsung ke cabang-cabang mendengar aspirasi dan keluhan pekerja. Pertemuan tak hanya dengan manajer, tetapi semua pekerja. Tak heran Garuda bisa Go Public setelah lama didera kerugian. Namun tugas Emirsyah belum selesai. Pemogokan pilot dan tidak naiknya saham Garuda menjadi tantangan baru. Saran kami: mohon kiranya komunikasi internal digalakkan lagi ya pak Emir… Penulis  : Daniel Saputro, MM., MBA. Senior Corporate Advisor Daniel Saputro dan tim BusinessBuddy Int memiliki pengalaman 21 tahun dalam perbaikan kinerja perusahaan. Kami aktif memberikan pembekalan maupun konsultasi terutama di bidang transformasi dan manajemen perubahan di 4 area yakni: Business Model (termasuk Balanced Scorecard dan Strategy Map)  – People Development  – Process – Culture Internalization, yang mengarah ke Auto Pilot System. Nuqul Group (Yordania) dan Banpu (Thailand) adalah contoh perusahaan internasional yang telah menggunakan jasa konsultasinya. Di dalam negeri, Daniel menjadi konsultan bagi banyak perusahaan maupun institusi pemerintah. Di antaranya Jamsostek, Bea Cukai, Sekretariat DPR, Jasa Sarana BUMD Jabara, BioFarma Bandung, Kementerian Keuangan PUSINTEK, Pertamina, LPP BUMN di Jogja dan BTN. Perusahaan swasta nasional sering menunjuk Daniel sebagai konsultan. Sebut saja Indocement, Triputra, Bosowa (Makasar), Tunas Ridean Group, MusimMas (Medan), Capella (Medan), CPSSoft, ILP, Darya Varia, KPUC (Samarinda), Medifarma, Prafa. Indospring (Surabaya) dan Acer (Jakarta) , Infomedia dan Sentul City. Beliau juga aktif memberikan pelatihan di Chevron, Astra, Commonwealth Bank, TOTAL EP, Holcim dan banyak lainnya Di sisi lain, Daniel Saputro juga memiliki minat yang besar terhadap dunia pendidikan. Karena itu,

Merancang Struktur & Skala Upah (SSU)

Training Merancang Struktur & Skala Upah (SSU) mempelajari mengenai peraturan perundang-undangan yang terkait, mereview atas job analysis, job description, bagaimana metode evaluasi jabatan, bagaimana menyusun evaluasi jabatan, membahas mengenai job grading : Job Level, Job Classification, Grade, Step dan Range atau Spread, kaitannya  antara sistem kompensasi dengan performance management dan KPI, bagaimana cara konsep dasar penyusunan kebijakan paket remunerasi.(Struktur & Skala Upah) Deskripsi Organisasi kadang merasa sulit untuk menentukan besaran imbalan/kompensasi  harus diterima oleh pegawainya berdasarkan prinsip keadilan. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan upaya  sistematis dan objektif agar kompensasi/imbalan memenuhi prinsip keadilan bagi pegawai yaitu dengan melakukan evaluasi jabatan (job evaluation).(Struktur & Skala Upah) Evaluasi Jabatan merupakan bagian dari proses manajemen sumber daya manusia yang digunakan untuk membobot suatu jabatan untuk menghasilkan nilai jabatan (Job Value) dan kelas jabatan (Job Class) dengan menggunakan tolak ukur/kriteria telah ditetapkan.(Struktur & Skala Upah) Tujuan Evaluasi Jabatan adalah Untuk menentukan besaran kompensasi yang adil dan layak bagi pegawai sesuai dengan beban dan tanggungjawab pekerjaan.(Struktur & Skala Upah) Manfaat Evaluasi Jabatan yaitu Dasar yang logis dalam pemberian imbalan/kompensasi bagi pegawai Sebagai bentuk pengawasan dalam pemberian kompensasi/imbalan bagi pegawai Untuk menyusun tingkat jabatan sesuai dengan klasifikasinya Sebagai dasar orgaisasi dalam melakukan perpindahan/rotasi pegawai Manfaat utama dari evaluasi jabatan adalah adanya sistem kompensasi yang baik dan berkeadilan. Sistim kompensasi  adalah salah satu hal  penting  diperusahaan. Sistim yang baik adalah  workable serta dapat berfungsi secara adil bagi seluruh karyawan, dan sedapat mungkin tingkat penggajian perusahaan competitive dalam industri sejenis. Adanya tingkat penggajian yang baik akan memudahkan mencapai HRD objectives yaitu ”to attract, to motivate and to retain” karyawan.(Struktur & Skala Upah) Di samping itu , ketentuan tentang SSU (Struktur & Skala Upah)  tercantum dalam Pasal 92 dari UU 13/2003 telah cukup jelas diuraikan dalam Kepmen 49/2004 tentang Struktur dan Skala Upah. Karena kurang informasi dan tidak di-follow up, maka banyak perusahaan yang belum mau melaksanakannya. Umumnya sistim SSU ini hanya digunakan oleh para praktisi yang bekerja diperusahaan asing saja, karena sudah merupakan salah satu corporate policy-nya.(Struktur & Skala Upah) Karena belum diwajibkan, maka keluarlah PP 78/2015 yang mewajibkan semua perusahaan untuk melaksanakan sebagaimana tercantum pada Pasal 14 dari PP 78/2015 itu. Pada bulan Januari 2017 lalu KEMENAKER kemudian menerbitkan PERMEN 1/2017 dengan panduan lengkap mengenai teknik merancang SSU yang tidak jauh berbeda dengan KEPMEN 49/2004.(Struktur & Skala Upah) Management akan sangat berkepentingan untuk comply dengan peraturan yang ada mengenai SSU ini. HRD sebagai strategic partner dari Management dituntut untuk segera merancang SSU dan melaksanakannya sesuai dengan kondisi perusahaan.(Struktur & Skala Upah) SSU merupakan suatu alat dan teknik untuk pelaksanaan sistim remunerasi yang baik, yang mendukung terciptanya sistim remunerasi yang effective dan efficient untuk pengembangan dan pemberdayaan karyawan. Management memerlukan masukan yang tepat dari HRD agar sistim kompensasi kepada para karyawan dapat di-kelola  dengan baik, ada kejelasan dalam tingkat penggajian, lebih terbuka, mudah di-manage, effective, tidak menimbulkan kekecewaan karyawan, menciptakan ketenangan kerja, menghindari kecemburuan, pilih kasih dan diskriminasi.(Struktur & Skala Upah) Workshop Struktur & Skala Upah 2 hari ini akan membantu para peserta yang idealnya terdiri dari para Executive yang ikut menentukan kebijakan sistim penjenjangan kepangkatan dan jabatan diperusahaan dan para Staff Remunerasi yang melaksanakan payroll administration. Dalam membuat Job Grading dan SSU ini diperlukan beberapa teknik agar sinkron dengan leveling, grading, job description, bench marked positions dan salary scale. Training ini tidak akan effective apabila diberikan secara teoritis saja tanpa praktek langsung menggunakan rumus-rumus Excel.(Struktur & Skala Upah) Peserta akan dibimbing untuk  mampu mengerjakan sendiri Job Grading, Struktur Penggajian dan beberapa materi yang terkait dengan remunerasi. Dengan sistim yang baik, dimana ada kejelasan mengenai ”level, grade dan step” akan dapat menjawab pertanyaan berapa gaji seorang karyawan secara ”teoritis” berdasarkan masa kerjanya. Penentuan gaji  kepada calon karyawan juga akan lebih tepat tanpa harus menanyakan berapa expected atau present salary-nya. Juga akan diketahui dimana posisi gaji seseorang dalam skala gaji yang berlaku untuk golongannya. Semuanya akan sangat penting artinya dalam melaksanakan administrasi remunerasi diperusahaan.(Struktur & Skala Upah) Tujuan Pelatihan Setelah mengikuti peltihan ini peserta diharapkan; Staff HRD yang mengerjakan Payroll dan administrasi penggajian. Para Supervisor dan Manager yang memerlukan pengertian bagaimana gaji di-design dan bisa memahami bagaimana menentukan tingkat penggajian bagi karyawan. Para Executive yang punya tanggung jawab menentukan kebijakan Remuneration System. Para Internal Auditor yang memerlukan pengetahuan mengenai Remuneration Policy. Target Peserta Para Praktisi HRD, General Affair, Corporate Legal maupun peminat bidang tenaga kerja asing Outline Materi Peraturan perundang-undangan yang terkait Review atas Job Analysis, Job Description.  Beberapa metode Evaluasi Jabatan  Tahapan dalam menyusun beberapa metode Evaluasi Jabatan Metode ranking sederhana Metode 2 titik Metode point factor untuk perusahaan yang sudah beroperasi Metode point factor untuk perusahaan yang baru beroperasi Praktek / Latihan Menyusun Evaluasi Jabatan : Metode non analitis Metode analitis – point factor / value Job Grading : Job Level, Job Classification, Grade, Step dan Range atau Spread. Kaitan antara sistem kompensasi dengan Performance Management dan KPI . Konsep dasar Penyusunan kebijakan paket remunerasi Hal – hal yang perlu dipertimbangkan : Peraturan perundang-undangan pemerintah PP / PKB perusahaan Ketersediaan anggaran perusahaan Internal equity (keadilan internal) Upah / tunjangan / fasilitas dan kaitannya dengan peningkatan produktivitas karyawan Fasilitator Budhi Wirawan, SE, M.Si Magister Psikologi Terapan (SDM) , Fakultas Psikologi , UI Sarjana Manajamen, UNPAD Lebih dari 20 tahun sebagai praktisi bidang SDM di berbagai jenis perusahaan (industri manufaktur , industri dan pemasaran produk farmasi serta, jasa keuangan) , dengan posisi terakhir sebagai AVP pada HR Division. Pemegang sertifikat assesor kompetensi SDM . Memliki pengalaman sebagai narasumber / fasilitator / trainer di bidang SDM pada berbagai forum HRD, inhouse training maupun public training

Contract Management

Deskripsi Seberapa sering kita mendengar atau menyaksikan kejadian kejadian yang merugikan sebuah perusahaan baik berskala kecil maupun besar dikarenakan segala deal business, transaksi atau tindakan yang dilakukan perusahaan tidak didasari atau didukung oleh perjanjian tertulis atau yang dikenal sebagai kontrak ataupun jika ada kontrak yang mendasarinya, bukanlah merupakan sebuah kontrak yang baik dan benar yang dapat melindungi kepentingan perusahaan, sebuah kontrak yang menjamin kepastian hukum sehingga menghindari atau setidaknya meminimalisir munculnya konflik antara para pihak. Ketidakberadaan kontrak yang baik dan benar tersebut juga acapkali disebabkan oleh perusahaan sendiri yang mengabaikan adanya kontrak atau kalaupun ada, kontrak tidak cukup memadai untuk melindungi kepentingan-kepentingan perusahaan dikarenakan tidak cukup handalnya pihak di dalam perusahaan dalam memahami dan merancang kontrak. Tujuan Pelatihan Diharapkan setelah mengikuti pelatihan yang diberikan, maka peserta atau para peserta , bukan hanya personel dari legal department tetapi juga dari department lainnya, dapat memahami latar belakang dari pembentukan sebuah kontrak baik dari sudut pandang bisnis maupun legal, melakukan perancangan atau turut dalam melakukan perancangan sebuah kontrak yang baik dan benar, terutama bagaimana menuangkan kesepakatan bisnis ke dalam sebuah kontrak atau klausula-klausala umum yang perlu dituangkan dalam sebuah kontrak demi adanya kepastian hukum dalam sebuah kontrak sehingga dapat terlindunginya kepentingan perusahaan. Sekanjutnya, jika memang terjadi konflik antara para pihak dari sebuah kontrak, maka pelatihan ini juga akan memaparkan jalan keluar dan penyelesaian atas konflik, dispute atau sengketa tersebut, baik yang dilakukan antara para pihak itu sendiri, melalui pengadilan atau penyelesaian sengketa di luar pengadilan dengan menggunakan jasa pihak lain. Outline Materi CONTRACT MANAGEMENT. Transaksi / Deal Bisnis Seberapa Penting Penuangan Jual Beli / Transaksi Bisnis ke Dalam Kontrak dan Seberapa Sadar Sebuah Perusahaan Melakukannya ? Kontrak Bisnis Indikator Kontrak Domestik Indikator Kontrak Trans Nasional Tiga Unsur Kontrak Syarat Sah Kontrak Pandangan Keliru soal Materai Keberlakuakn Kontrak Anatomi Isi Kontrak Umum Khusus Proses Legal dan Contract Management Dalam Perusahaan Divisi Legal No Legal Division Contract Flow CONTRACT DOCUMENTS AND ATTACHMENTS. Sale and Purchase Agreement Three Keys Aspects Sample of SPA Attachments CONTRACT DRAFTING AND EVALUATION. Langkah Pesiapan Legal Compliance Tahapan Pembuatan Kontrak Bisnis Langkah Perancangan Langkah Terakhir Pilihan Hukum (Choice of Law) Pilihan Forum (Choice of Forum) Perubahan Terhadap Kontrak Pembatalan Kontrak Keterlibatan Konsultan Hukum Latihan Membuat Kontrak DISPUTE HANDLING, MEDIATION, ARBITRATION. Faktor Faktor Penyebab Terminasi Kontrak dan Dispute Bagaimana Penyelesaian Dispute di Luar Pengadilan Mediasi dan APS Keunggulan APS Mengapa APS lebih diminati ? Asas Asas yang Berlaku Posisi Mediator Roles and Funtions of Mediator Stages of Mediation Mediasi dan Arbitrase Pada Prakteknya Fasilitator Philip O. Leander, SH. Philip Octavianus Leander, berlatar belakang pendidikan hukum di Universitas Indonesia, Fakultas Hukum mengambil program kekhususan Hukum Perdata Internasional. Selanjutnya bekerja di beberapa jenis pekerjaan, dan menghabiskan sebagian besar dari waktunya sebagai Konsultan Hukum di beberapa Kantor Pengacara dengan durasi yang lebih dari sepuluh tahun lamanya. Pernah bekerja juga sebagai Legal Manager di sebuah perusahan pertambangan sehingga beliau sangat mengerti seluk beluk hukum mengenai korporasi atau perusahaan. Telah membawakan topik2 training Aspects of Contract, Hukum Kepailitan & Hukum Ketenagakerjaan selama beberapa tahun sehingga penguasaan akan materi training tersebut tidak diragukan lagi.

Essential IT for Non-IT Executives

Pendahuluan Bagi para pelaku bisnis, jajaran manajemen puncak, eksekutif, dengan latar belakang pendidikan ataupun pekerjaan non-teknis, Teknologi Informasi (TI) dapat menjadi salah satu sumber kefrustasian. Pelatihan Essential IT for Non-IT Executives berfokus pada elemen-elemen, konsep, praktek manajemen TI terpenting serta ditujukan untuk membantu organisasi dalam rangka mengembangkan bahasa yang sama bagi para manajer, pimpinan maupun pelaku usaha agar mereka dapat bekerja sama secara efisien, efektif , produktif. Selain itu, pelatihan Essential IT for Non-IT Executives juga didesain untuk membantu manajer senior terutama dari unit bisnis untuk bekerja, berkoordinasi, berkolaborasi ,mendapatkan manfaat, nilai dari fungsi maupun layanan TI untuk meningkatkan keuntungan kompetitif organisasinya, memenangkan persaingan. Tujuan Pada akhir pelatihan Essential IT for Non-IT Executives, peserta diharapkan untuk dapat: Memahami konsep dan praktek penting TI.(Essential IT for Non-IT Executives) Mengetahui tren dan perkembangan terbaru TI.(Essential IT for Non-IT Executives) Menyadari peran, kontribusi dan manfaat TI bagi organisasi.(Essential IT for Non-IT Executives) Berkoordinasi, berkolaborasi dengan fungsi, produk dan layanan TI. Memahami berbagai keterbatasan & kendala TI. Menguasai desain bisnis proses untuk dapat memanfaatkan TI secara lebih baik. Mengetahui cara mendorong dan melakukan transformasi digital. Mengetahui bagaimana TI dikelola. Materi Arsitektur Organisasi Rencana Strategis Portfolio, Program dan Proyek Business Case Proses Sumber Daya Manusia Budaya Organisasi Teknologi dan Sistem Informasi Tata Kelola Metodologi 40% waktu akan dialokasikan untuk konsep, teori penting, sementara 60% akan digunakan untuk sesi tanya jawab, diskusi, sharing, studi kasus. Target Peserta : Tren, Situasi, Kondisi Kejahatan Dunia Maya. Masalah, Sebab, Dampaknya Secara Bisnis. Kondisi Keamanan Saat Ini di berbagai Organisasi, Pemerintahan. Berbagai Jenis Resiko, Ancaman (Threat) Kejahatan Dunia Maya. Berbagai Jenis Kerentanan, Kelemahan (Vulnerabilities). Perencanaan, Strategi Cyber Resilience Pemahaman atas Standar ISO 27000 untuk Cyber Resilience, Cyber Security Pemahaman atas Framework NIST untuk Cyber Resilience, Cyber Security Tool, teknik sebagai Countermeasure terhadap Cyber Crime. Penyelia, Manajer, Manajer Senior, Manajer Umum, Kepala Seksi/Departemen/Divisi/Biro/Bagian non-TI yang tertarik untuk mendalami , memanfaatkan fungsi, produk, layanan TI serta sinergi, eselarasan antara bisnis , TI (Business and IT Alignment). Fasilitator Goutama Bachtiar Goutama Bachtiar adalah : Advisor, Auditor, Konsultan, Trainer, Courseware Designer,  Penulis bidang Teknologi,  Sistem Informasi selama 17 tahun terakhir dengan spesialisasi di ranah IT Governance, Risk, Security, Assurance, Audit, IT Management. Saat ini beliau menjabat sebagai advisor beberapa perusahaan, organisasi, Subject Matter Expert, Program Mentor, Editorial Journal Reviewer, Certification Exam (CISA, CGEIT, CISM, CRISC),  Study Materials Developer di ISACA International Chapter, Subject Matter Expert,  Program Evaluator di PMI International Chapter, IASA, SABSA,  Open Group Global Working Group Member, Reviewer Panel di International Institute of Business Analysis (IIBA), Dosen Tamu di program pasca sarjana beberapa universitas di AS dan Indonesia (UTB, UI, IPB dan Binus), serta moderator, panelis, pembicara di sejumlah konferensi, workshop, seminar. Sebagai auditor dan konsultan, telah memberikan layanan tersebut kepada 35 perusahaan dan organisasi. Puluhan sertifikasi internasional sudah diperolehnya sampai dengan saat ini. Selain itu, beliau juga telah mengadakan dan memberikan pelatihan, perkuliahan, seminar, konferensi dan workshop sebanyak lebih dari 230 sesi dan 5500 jam lebih kepada sekitar 7500 peserta di Indonesia maupun luar negeri kepada lebih dari 70 perusahaan dan organisasi. Sebagai penulis, sudah mengarang 2 buku dan 22 courseware serta sudah menulis, melakukan review dan editing atas 300 artikel, manuskrip, paper dan white paper seputar Telematika dan Manajemen di lebih dari 20 media, publikasi, organisasi, jurnal dan konferensi.

Asset Liability Management

Hari Pertama Asset Liability Management Training:Receivable Management Konsep Kontrol Piutang, Kinerja Collection  Definisi piutang & dampaknya terhadap Arus Kas Analisa Aging Schedule yang menyeluruh Kecurangan dalam Receivable Control Receivable Pengaruh mata uang asing pada receivable & penangulangannya Mengukur kinerja collection Corporate Collection Manajemen  Meningkatkan Teknikberkomunikasi Teknikkomunikasidenganpihak lain &  grup Memahami posisi tawar menawar dalam menentukan strategy collection Konsep serta Aplikasi dalam menjalankan collection process Teknik dalam menghadapi customer yang ”nakal” Teknik mencapai kesepakatan Teknik,  strategi dalam menutup negosiasi Tanya Jawab, Diskusi Interaktif    Hari 2: jam 09.00 – 16.00  Hari Kedua Asset Liability Management Training: Payable Management Teknik pengelolaan invoice supplier  Three way matching (Invoice Supplier, PO dan Good Receive) Dokumen-dokumen pendukung dan arus dokumen Flow invoice Journal- journal yang berkaitan dengan invoice Teknik menghindari kesalahan, kelebihan pembayaran, invoice yang hilang  Membuat kebijakan Account Payable  Kebijakan Down Payment Kebijakan Expenses Personal Kebijakan Approval Kebijakan waktu pembayaran  dll. Laporan – laporan erkait Account Payable  Memanfaatkan teknologi dalam mengelola Account Payable  Tanya Jawab &Diskusi Interaktif  Fasilitator Daniel Saputro, MM., MBA. Daniel Saputro & tim BusinessBuddy Int memiliki pengalaman 21 tahun dalam perbaikan kinerja perusahaan. Kami aktif memberikan pembekalan maupun konsultasi terutama di bidang transformasi, manajemen perubahan di 4 area yakni: Business Model (termasuk Balanced Scorecard dan Strategy Map)  – People Development  – Process – Culture Internalization, yang mengarah ke Auto Pilot System. Nuqul Group (Yordania) dan Banpu (Thailand) adalah contoh perusahaan internasional yang telah menggunakan jasa konsultasinya. Di dalam negeri, Daniel menjadi konsultan bagi banyak perusahaan maupun institusi pemerintah. Di antaranya Jamsostek, Bea Cukai, Sekretariat DPR, Jasa Sarana BUMD Jabara, BioFarma Bandung, Kementerian Keuangan PUSINTEK, Pertamina, LPP BUMN di Jogja dan BTN. Perusahaan swasta nasional sering menunjuk Daniel sebagai konsultan. Sebut saja Indocement, Triputra, Bosowa (Makasar), Tunas Ridean Group, MusimMas (Medan), Capella (Medan), CPSSoft, ILP, Darya Varia, KPUC (Samarinda), Medifarma, Prafa. Indospring (Surabaya), Acer (Jakarta) , Infomedia, Sentul City. Beliau juga aktif memberikan pelatihan di Chevron, Astra, Commonwealth Bank, TOTAL EP, Holcim dll. Di sisi lain, Daniel Saputro juga memiliki minat yang besar terhadap dunia pendidikan. Karena itu, kini, dia aktif menjadi fasilitator MiniMBA serta pengajar mata kuliah bisnis, pemasaran di program S2. Daniel juga menggunakan tulisan sebagai sarana untuk membagikan ilmunya. Ia menjadi kontributor untuk Tabloid KONTAN, Swa,  Jakarta Post. Untuk Family Business, kami membantu suksesi, transformasi menuju  perusahaan yang lebih professional. Dengan cara membentuk Leadership yang profesional, menggunakan KPI  berbasis balanced Scorecard. 

SOP For Banks

Training SOP for Banks mempelajari mengenai apa bedanya prosedur dengan SOP, instruksi kerja, pedoman kerja, protap, juklak, juknis, user/operating manual dll?, mengenai bagaimana membedakan dan membuat pedoman dan panduan? dan hal lainnya terkait SOP for Banks. Deskripsi Kurangnya pelatihan tentang teknik dan metode penulisan SOP menjadi penyebab para Penyusun/ Penulis SOP tidak memahami dengan benar bagaimana membuat SOP yang efektif. SOP yang dapat diartikan sebagai Who Does What and How merupakan salah satu metode kerja yang dibuat sebagai panduan untuk memastikan bahwa proses bisnis berjalan sesuai rencana, standar dan aturan untuk kepuasan pelanggan—baik internal maupun eksternal. SOP yang mudah dipahami terbukti meningkatkan produktifitas kerja dan dapat meningkatkan hubungan kerja yang harmonis antar bagian/ proses. Namun, apabila SOP tidak mudah dipahami dan menimbulkan multi tafsir dapat membuat kesalahan kerja dan pada akhirnya merugikan pelanggan. Keefektifan sebuah SOP dapat dilihat dari a) sejauh mana ia digunakan dan memberi nilai tambah b) sejauhmana ia digunakan dan dapat menyamakan persepsi antar bagian/departemen c) sejauhmana ia dapat berfungsi sebagai pengendali dan pemantau kinerja proses. Apabila SOP ditempat kerja anda tidak demikian, anda wajib meninjau ulang SOP atau bahkan menulis ulang SOP yang ada. Outline Materi Apa bedanya Prosedur dengan SOP, Istruksi Kerja, Pedoman Kerja, Protap, Juklak, Juknis, User/operating manual dll? Bagaimana membedakan dan membuat Pedoman dan Panduan? Mengapa Prosedur Penulisan Prosedur harus dibuat terlebih dahulu, dan bagaimana membuatnya? Bagaimana membuat Prosedur berbasis Proses? Mengapa SOP Teknis sudah tidak disyaratkan lagi oleh ISO 9000, dan apakah 6 Prosedur manajemen yang diwajibkan? Bagaimana mengantisipasi Prosedur yang dinamis oleh karena Peraturan Bank Indonesia yang sering bertambah dan berubah? Bagaimana membuat hirarki dokumen dari PBI hingga Prosedur dan Instruksi kerja? Apakah  3 anatomi SOP yang mendasar (Format, Elemen dan Atribut)? Mengapa SOP tidak boleh dibuat atas dasar ”Write what you do”? Bagaimana merubah fungsi SOP sebagai alat pandu menjadi alat pandu dan alat ukur, alat kendali, alat audit, alat reward and punish? Bagaimana membuat SOP dengan dua macam profil pengguna (Pemula dan Ahli)? Kapan harus menambahkan masa berlaku SOP? Mengapa Flowchart tidak dimulai dengan ”Start” atau ”Mulai”? Bagaimana mengintegrasikan SOP dengan Risk Management, Key Performance Indicator dan Service Level Agreement? Mengapa kebanyakan Penulis hanya menggunakan format Narration dan Flowchart, dan tidak tahu bahwa Anotated Pictorial atau Video sering kali lebih efektif? Bagaimana mengendalikan SOP dengan Document control dan Master lists? Mengapa SOP yang dibuat berbasis Struktur dan Uraian Kerja tidak sehandal apabila dibuat berbasis Process Business Map? Mengapa SOP harus berbatas waktu (SOP Lifecycle)? Bilamana SOP diberi tanda (distempel) ”Controlled”, ”Uncontrolled”, ”Archieved” atau ”Obsolete”? Workshop kit berisi: Worksheet, buku latihan Buku Pedoman Penyusunan SOP Prosedur Penyusunan Prosedur Contoh Prosedur dalam bentuk Video (Video SOP) Contoh Prosedur pada sebuah Bank umum Sertifikat Konsultasi via telepon Membership dalam Forum System Procedure CD berisi file-file pada butir 1, 2, 3, 4 Facilitator Ady A Subagya Ady A. Subagya adalah seorang praktisi standar mutu Internasional. Konsultan manajemen mutu ISO 9000, 14000, OHSAS 18001 dan telah membantu puluhan organisasi dalam merancang ulang business process, prosedur dan instruksi kerja. Ia juga seorang praktisi standar mutu Internasional, telah bersertifikat dari IRCA UK (ISO/TS 16949, ISO 9000 dan OHSAS 18001). Ady A. Subagya pernah bekerja di Mercedes Benz Indonesia dan Siemens Lightings Indonesia dengan pengalaman dibidang pelatihan dan sistem manajemen mutu dan K3 Materi pelatihan pengembangan pelatih yang dirancangnya berjudul Accelerated Learning, Creativity for Training, Training Visualisation, Sizzling Powerpoint, Mental Fitness (Juggling 3 Balls), 20 Games Trainers Must Modify and Play. Beberapa perusahaan yang pernah Ia bantu untuk program Inhouse, diantaranya: Mercedes Benz (Daimler Chrysler), Kelompok Kompas Gramedia, Pos Indonesia, Indosat, Berca Hardaya Perkasa, Aisin Indonesia, Multibintang Indonesia, Mandom Indonesia, United Tractors dsb.

Strategi Anti Fraud & Proses Eskalasi

Mengapa & Bagaimana Strategi Anti Fraud dan Proses Eskalasi Diterapkan di Bank/ Perusahaan ? Deskripsi Salah-satu resiko bisnis yang patut diantisipasi perusahaan adalah terjadinya fraud atau kecurangan. Kerentanan akan fraud dapat dialami oleh perusahaan manapun, walau kerap terjadi di perusahaan kecil. Perusahaan besar pada umumnya sudah memiliki manajemen anti-fraud, karena ketersediaan dana dan juga karyawan yang bisa melakukan fungsi pengawasan secara optimal. Namun, kerentanan ini tidak bisa dihilangkan begitu saja. Fraud adalah sebuah istilah yang artinya sebuah perbuatan kecurangan yang melanggar hukum (illegal-acts) yang dilakukan secara sengaja & sifatnya dapat merugikan pihak lain. Istilah keseharian adalah kecurangan diberi nama yang berlainan seperti pencurian, penyerobotan, pemerasan, penjiplakan langsung dan/atau tidak langsung merugikan pihak lain. Dampak dari praktek-praktek tersebut sangat beragam, tetapi secara umum dapat dikatakan bahwa ciri daripada fraud adalah adanya keuntungan yang tidak wajar dari para pelakunya, baik individu, kelompok atau organisasi/perusahaan, yang tentu saja di imbangi dengan adannya kerugian dari pihak lain. Untuk mencegah terjadinya tindakan fraud harus dilakukan di setiap lini transaksi dan untuk itu setiap karyawan harus memahami potensi risiko munculnya tindakan fraud dan dampaknya bagi bank / perusahaan jika terjadi tindakan fraud serta mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan jika terjadi fraud, salah satunya adalah dengan menjalankan prosedur eskalasi. Tujuan Pelatihan Dengan mengikuti training ini peserta diharapkan dapat: Memahami definisi fraud. Mengetahui factor-factor pemicu tindakan fraud. Mengetahui dampak fraud. Melakukan tindakan pencegahan fraud. Memahami proses dan prosedur eskalasi Outline Materi 1st day : Strategi Anti Fraud : Definisi Fraud Faktor-factor pemicu terjadinya Fraud Dampak Fraud Pencegahan Fraud Mengapa & Bagaimana Strategi Pencegahan Penerapan di bank/ perusahaan Action Plan Jika terjadi Fraud 2nd day : Proses Eskalasi : Tujuan Eskalasi Kondisi / kriteria kapan eskalasi dilakukan Media Approval Prosedur Eskalasi Output Peserta Peserta memiliki awareness terkait potensi terjadinya tindakan fraud Peserta lebih mengetahui dampak fraud Peserta memiliki kemampuan untuk menentukan langkah jika telah terjadi tindakan fraud  untuk meminimalisir terjadinya dampak yang lebih luas Peserta memahami prosedur & pentingnya proses eskalasi dilakukan Fasilitator Luh Putu Puji Trisnawati, SE, M.Si Beliau seorang praktisi perbankan selama 23 tahun dan terakhir bekerja sebagai Unit Operation Risk Manager di Bank Swasta Nasional. Saat ini disamping mengajar dikampus juga beliau mengajar profesional di sebuah lembaga pendidikan profesi. Beliau lulus sertifikasi sebagai trainer tersertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi. Topik yang dikuasai antara lain : KPI – Strategic Management – Leadership – Marketing – Finance dan lainnya. Metoda yang beliau terapkan adalah: studi kasus – game yang menunjang teori – diskusi – sharing experience – dan lainnya sehingga membuat peserta sangat puas. Dalam workshop ini peserta akan mendapatkan terbaik dari yang terbaik.

Control Management & Audit Satisfactory

Deskripsi Suatu usaha yang dilakukan oleh perusahaan yang mencakup metode, prosedur, strategi dan cara-cara untuk memastikan dipenuhi dan dipatuhinya kebijakan manajemen perusahaan agar tercapai tujuan perusahaan. Dengan demikian dapat meningkatkan pemahaman para Manager Lini terhadap konsep Control Management di seluruh level dan meningkatkan kemampuan para Manager Lini dalam melakukan pengelolaan unit secara baik dan benar serta meningkatkan kemampuan para Manager Lini dalam menyiapkan unit terhadap proses Assurance (Audit internal / external, OJK dan lain-lain) sehingga hasil audit satisfactory. Pelaksaan assurance bisa meliputi bentuk pemahaman kebijakan, prosedur, proses, risiko, analisa data, wawancara dan observasi. Untuk mencapai audit satisfactory diperlukan persiapan unit dalam proses assurance, seperti memahami acuan pemeriksaan, interaksi yang harus dikelola dan panduan implementasi serta monitoring temuan dari assurance sebelumnya. Tujuan & Manfaat Dengan mengikuti training ini peserta diharapkan dapat: Meningkatkan pemahaman para Manager Lini terhadap konsep Control Management di seluruh level. Meningkatkan kemampuan para Manager Lini dalam melakukan pengelolaan unit secara baik dan benar serta efektif dan efisien. Meningkatkan kemampuan para Manager Lini dalam menyiapkan unit terhadap proses Assurance (Audit internal / External, OJK dan lain-lain) sehingga mencapai hasil yang baik (audit satisfactory) Outline Materi 1st day : Control Management : Latar belakang Control Management Skema dari Control Management Identifikasi Unsur & Elemen dari Control Management People Proses System Risk Infrastruktur Bagaimana menjalankan di unit Tools implementasi 2nd day : Persiapan Unit menuju Audit Satisfactory : Acuan pemeriksaan Interaksi yang harus dikelola Panduan Implementasi Output Peserta Peserta memahami metoda, prosedur dan strategi management perusahaan agar tercapai tujuan perusahaan Peserta lebih terampil dalam mengelola unit secara baik dan benar serta efektif dan efisien Peserta memiliki kemampuan dalam menyiapkan unit terhadap proses assurance (audit internal, external dan ojk) untuk mencapai hasil audit satisfactory Fasilitator Luh Putu Puji Trisnawati, SE, M.Si Beliau seorang praktisi perbankan selama 23 tahun dan terakhir bekerja sebagai Unit Operation Risk Manager di Bank Swasta Nasional. Saat ini disamping mengajar dikampus juga beliau mengajar profesional di sebuah lembaga pendidikan profesi. Beliau lulus sertifikasi sebagai trainer tersertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi. Topik yang dikuasai antara lain : KPI – Strategic Management – Leadership – Marketing – Finance dan lainnya. Metoda yang beliau terapkan adalah: studi kasus – game yang menunjang teori – diskusi – sharing experience – dan lainnya sehingga membuat peserta sangat puas. Dalam workshop ini peserta akan mendapatkan terbaik dari yang terbaik.

Operational Risk Management & Assurance Framework (ORMAF)

Deskripsi TECHNICAL OPERATIONAL RISK MANAGEMENT (ORM) : ORM FRAMEWORK, KEY RISK INDICATOR & LOSS DATA MANAGEMENT  “Dalam perspektif manajemen risiko,paradigma High Risk High Return tidak lagi relevan… Karena sesungguhnya yang berlaku adalah HIGH RISK HIGH CAPITAL…” Kata risiko banyak dipergunakan dalam berbagai pengertian dan sudah biasa dipakai dalam percakapan sehari-hari oleh kebanyakan orang. Risiko dapat dikatakan merupakan akibat atau penyimpangan realisasi dan rencana yang mungkin terjadi secara tak terduga. Risiko diartikan sebagai ketidakpastian yang ditimbulkan oleh adanya berbagai hal. Faktor ketidakpastian inilah yang akhirnya menyebabkan timbulnya risiko pada suatu kegiatan. Sedangkan dari sudut pandang bisnis, secara umum risiko  dapat didefinisikan sebagai potensi atau kemungkinan  terhadap suatu kejadian yang dapat berpengaruh secara negatif terhadap pendapatan dan modal. Memahami konsep risiko secara luas, merupakan dasar yang esensial untuk memahami konsep dan teknik manajemen risiko. Kegagalan dalam mengelola risiko dapat menyebabkan kerugian yang significant atau kemungkinan terburuk  dapat menyebabkan kebangkrutan. Risiko operasional adalah risiko yang timbul pada aktifitas seluruh unit kerja di perusahaan. Risiko operasional disebabkan tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau problem eksternal yang mempengaruhi operasional Perusahaan / Bank. Untuk mengelola risiko operasional diperlukan alat control yaitu tools assessment yang diimplementasikan secara periodic, general assessment atau pun bisnis assessment yang dilakukan pada masing-masing unit kerja. Tujuan & Manfaat Dengan mengikuti training ini peserta diharapkan dapat: 1.Mengidentifikasi risiko yang timbul pada unit kerja masing-masing dengan   menggunakan Proses Risk Analysis (PRA).2.Menyusun tools assessment control standard baik Generic Control Assessment  maupun Business Control Assessment (G/BKCSA).3.Membuat Key Risk Indicator (KRI) dan Business Continuity Plan scenario (BCP) & Call Tree.4.Mengimplementasikan Basic Control.5.Membuat laporan Risk Profile sesuai 7 Type Risiko Menurut Basel untuk perbankan.6.Memastikan tercapainya kontrol atas proses yang dijalankannya terselenggara dengan efektif dan efisien, melalui Management Control. Outline Pelatihan 1st day : Basic Philosophy Operational Risk : Operational Risk Management & Assurance Framework Proses Risk Analysis (PRA) Generic Key Control Standard Assessment (GKCSA) GKCSA for HR GKCSA for IT/ Security Management GKCSA for Compliance GKCSA for Finance GKCSA for Building Management Business Key Control Standard Assessment (BKCSA) Risk Control Worksheet 2nd day : Key Risk Indicator & Business Continuity Plan : Key Risk Indicator Penetapan Treshold (ambang batas) Identifikasi Indikator Risiko (Green-Amber-Red) Business Continuity Plan (BCP) scenario & Call tree Basic Control (Manual & Automacy) Risk Profile Report (7 Risk Type – Basel II) Output Peserta Peserta memiliki awareness terkait risiko operasional dari setiap aktivitas yang dijalankan Bank / Perusahaan Peserta lebih terampil dalam mengelola, mengukur dan melaporkan terjadinya kerugian operasional menggunakan berbagai Risk Assessment tools peserta Peserta memiliki kemampuan untuk menentukan langkah mitigasi untuk meminimalisir terjadinya kerugian atas operasional Bank/ Perusahaan Fasilitator Luh Putu Puji Trisnawati, SE, M.Si Beliau seorang praktisi perbankan selama 23 tahun dan terakhir bekerja sebagai Unit Operation Risk Manager di Bank Swasta Nasional. Saat ini disamping mengajar dikampus juga beliau mengajar profesional di sebuah lembaga pendidikan profesi. Beliau lulus sertifikasi sebagai trainer tersertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi. Topik yang dikuasai antara lain : KPI – Strategic Management – Leadership – Marketing – Finance dan lainnya. Metoda yang beliau terapkan adalah: studi kasus – game yang menunjang teori – diskusi – sharing experience – dan lainnya sehingga membuat peserta sangat puas. Dalam workshop ini peserta akan mendapatkan terbaik dari yang terbaik .

Compliance Management Training as an internalization in Good Corporate Governance

Deskripsi Compliance Management atau Manajemen Kepatuhan terbentuk sebagai kelanjutan pemahamam Good Corporate Governance atau Tata Kelolola Perusahaan yang Baik, dimana Perusahaan /Instansi sedari mula beroperasi berdasarkan Visi Misi (kemudian Nilai dan Etika – Code of Conduct yang merupakan filosofi utama) menjadi fondasi penting.(Compliance Management) Pelatihan Compliance Management Training as an internalization in Good Corporate Governance membahasa topik tersebut kemudian lebih mendalami Compliance Management.  GCG atau Tata kelola Perusahaan yang Baik merupakan “Conditio sine Quanon” bagi perusahaan/organisasi bisnis maupun instansi pemerintahan, baik di bidang finasial/perbankan/asuransi maupun industri manufaktur menghadapi globalisasi dan tuntutan masyarakat serta peraturan pemerintah. (Compliance Management) Good Corporate Governance (GCG) memiliki arti yang sangat penting dalam menjalankan suatu organisasi profesional, baik di sektor pemerintahan maupun di industri swasta. Mengerti dan memanfaatkan GCG dapat berdaya guna: Meningkatkan kinerja perusahaan melalui proses pengambilan keputusan yang lebih baik. (Compliance Management) Meningkatkan efisiensi operasionil perusahaan sekaligus memberikan perhatian dan pelayanan kepada stake holders. Meningkatkan kepercayaan shares holders.(Compliance Management) Meningkatkan corporate image, dan lebih penting corporate value serta berlanjut menjadikan corporate reputation yang bagus. (Compliance Management) Organisasi/Perusahaan dapat bekerja lebih baik karena berdasarkan best practices. (Compliance Management) Tercapainya employee satisfaction dan stake holder satisfaction. (Compliance Management) GCG dibentuk dan dijalankan untuk tercapainya kinerja diatas, dan mencegah atau paling tidak mengeliminasi dan mengkoreksi kesalahan tindakan dalam proses menjalankan suatu perusahaan secara professional, antara lain melalui road map: Dari Visi, Misi dan Value ke Corporate Culture Pembinaan Corporate Culture  ke Good Corporate Governance Best Practice Code of Conduct sebagai pelaksanaan GCG Ketidak-patuhan karyawan, juga nasabah atau pelanggan  baik terhadap peraturan perusahaan maupun peraturan hukum yang berlaku bisa berakibat fatal bagi perusahaan. Tuntutan hokum untuk penyelesaian masalahtidakmemenuhi atau melanggar compliance rules memakan waktu dan usaha yang meleahkan.  Tidak hanya perusahaan bisa mengalami kerugian besar secara finansial, tetapi reputasi perusahaan bisa rusak. (Compliance Management) Hal inilah yang terjadi pada beberapa perusahaan seperti Siemens, Halliburton, Alcatel Lucent, dan lain-lain. Oleh karena itu, Good Corporate Governance sangat penting untuk memastikan bahwa perusahaan mencapai tujuan bisnis dan melindungi para pemegang saham dengan mematuhi semua peraturan yang berlaku. Kepatuhan berarti sesuai dengan persyaratan yang diberlakukan, pada tingkat organisasi, hal ini dapat dicapai melalui proses manajemen yang mengidentifikasi persyaratan yang berlaku (misalnya undang-undang, peraturan, kontrak, strategi dan kebijakan), menilai keadaan kepatuhan, menilai risiko dan potensi biaya akibat ketidakpatuhan sehingga memprioritaskan tindakan tindakan korektif yang dianggap perlu. (Compliance Management) Compliance Management Training ini akan memberikan pengertian dan alat-alat yang terbukti efektif dalam meminimalkan risiko dan mencapai Good Corporate Governance yang berkelanjutan hingga pemahaman pentingnya Whistle Blower Management. (Compliance Management) Sasaran Pelatihan Menjelaskan tujuan dan fungsi Compliance dan Good Corporate Governance Menciptakan Good Corporate Governance yang berkelanjutan di perusahaan. Mempelajari Studi Kasus perusahaan yang melaksanakan GCG dengan berhasil sangat baik Bagaimana mengikuti Compliance Rules and Regulations Menjelaskan tujuan dan dampak manajemen risiko. Menjabarkan tahap-tahap dalam mengidentifikasi, menilai, dan mengelola risiko perusahaan Perlunya Manajemen Wistle Blower Menjelaskan bagaimana membuat alat monitor (monitoring tool) untuk meminimalkan resiko dan meningkatkan kepatuhan. Definisi dan Tujuan Penerapan Corporate Compliance dan Good Corporate Governance Contoh-contoh kasus dan dampak pelanggaran Compliance Peran Manajemen dalam Manajemen Risiko Mencari Cara dan Alat efektif untuk mengoptimalkan Compliance Internal Audit dan Self-Assessment tool Compliance Monitoring Tool Target Peserta Direksi, Pucuk Pimpinan, Company Secretary Compliance Manager dan anak-buahnya Manajemen Level 1 dan 2 Manajemen Pelaksana dan Supervisors Level Metode Pelatihan Presentasi power point dan video pemahaman dan  GCG/Risk Management/Code of Conduct dan Compliance Management  berstandar Internasional dan penerapannya dalam praktek bisnis/pengelolaan pemerintahan dalam implimentasi di berbagai sektor industri. Trainer dan Co-Trainer adalah akademisi Ilmu Manajemen Bisnis, praktisi Mananjemen Perusahaan dan Ahli Ilmu Komunikasi yang berpengalaman dalam pelatihan secarta interaktif. Peserta diajag berdiskusi dan memperdalam pengertian Compliance Management, memahami proses kerja mengusulkan dan memutuskan tindakan terbaik. Mempelajari studi kasus, menarik manfaat yang terbaik dan memberi arahan apa yang tidak harus terjadi. Pada akhir pelatihan diharapkan peserta siap memperkaya materi dan penyelesaian masalah   dan memimpin pelaksanaan Compliance Management yang efektif bagi organisasi atau perusahaan/instansi. Metode Pelatihan interaktif melibatkan sharing program dan presentasi dari berbagai peserta dari instansi/industri berbeda agar memperkaya pengetahuan dan saling mengisi. Peserta diajag berdialog/berdiskusi dan memecahkan masalah – problem solving – serta saling menularkan ilmu dan pengetahuan praktis. Arahan utama pelatihan adalah: result oriented. Outline Materi Setelah mengikuti pelatihan pada ini, peserta diharapkan: Memastikan para PBO dapat menemukan peluang penjualan disetiap saat. Memastikan para PBO kompeten dalam mengolah peluang kedalam penjualan yang paling sesuai Memastikan PBO dapat melakukan percakapan cross selling & up selling. Facilitator Drs. Ludwig Suparmo, MSi Beliau berpengalaman 36 tahun sebagai supervisor, Manager, General Manager hingga Account Director. Dosen Ilmu Komunikasi, Integrated Marketing Communication,  Opini Publik, Corporate Social Responsibility, Corporate Ethics & Culture, Issue & Crisis Management. Menulis buku referensi akademik, aktif menulis Jurnal Ilmiah. Berpengalaman 10 tahun sebagai trainer, termasuk untuk institusi pemerintah dan BUMN. Ludwig Suparmo: mendapat undangan presentasi untuk BI Jawa Tengah di Magelang; membahas kasus Ibu Miranda Gultom sebagai imbas Issue komunikasi; turut serta sebagai pelatih berkomunikasi dengan baik bagi wajib pajak di Dirjen Pajak Pusat ketika sosialisasi kesadaran bagi wajib pajak. September 2017, memberikan problem solving dalam mengajag karyawan dalam pelaksaan Code of Conduct; beberapa kali membuat presentasi Kode Etik pelayanan Asuransi.

Peranan Pengendalian Internal Terkait Penerapan Program APU & PPT Di Sektor Perbankan Berbasis POJK 2017

Deskripsi Otoritas Jasa Keuangan telah mengeluarkan POJK terbaru No 12/POJK.01/2017 terkait dengan penerapan program APU dan PPT di sektor jasa keuangan. Semakin berkembangnya kompleksitas produk dan layanan jasa bank termasuk pemasarannya (multi channel marketing), serta semakin meningkatnya penggunaan teknologi informasi pada industri jasa keuangan maka semakin tinggi risiko bank digunakan sebagai sarana pencucian uang dan/atau pendanaan terorisme.   Pelatihan ini akan memberikan panduan bagi bank dalam menerapkan program APU & PPT dengan mengoptimalkan peranan fungsi pengendalian internal bank sehingga penerapannya dapat berjalan secara sistematis dan terstruktur dan dapat mendeteksi risiko-risiko pencucian uang dan pendanaan terorisme secara dini.  Pelatihan akan membahas studi kasus pencucian uang dan pendanaan terorisme baik domestik maupun internasional serta bagaimana peranan pengendalian internal untuk mengendalikan risiko APU & PPT. Sasaran Pelatihan Memberikan skill dan pengetahuan bagi para karyawan yang berhubungan dengan customer pada khususnya dan para karyawan pada umumnya untuk hal-hal sbb: Pengetahuan mengenai model pengendalian internal efektif yang dapat memitigasi risiko-risiko berdasarkan pendekatan risiko (risk based approach) yang mungkin timbul pada area/servis/produk/profil/delivery  channel yang rentan dengan pencucian uang dan pendanaan terorisme sesuai dengan POJK,  dan UU terkait Target Peserta Karyawan front liner, middle management yang berhubungan dengan customer, unit kerja atau pejabat yang bertanggung jawab atas penerapan program APU-PPT, legal, GCG, corporate secretary, audit internal, divisi kepatuhan, petugas front liner, dll di sektor perbankan. Outline Materi Overview kasus  dan trend financial crime terkini terkait pencucian uang dan pendanaan terorisme Overview PBI No 12/POJK.01/2017 Overview UU No 8 Tahun 2010 dan UU No 9 Tahun 2013 Overview Peraturan Presiden No 13 Tahun 2018 Peran dan fungsi petugas UKK (Unit Kerja Khusus) dalam Peranan Penerapan CDD berbasis risiko Pemahaman definisi-definisi terkait RBA (Risk Bases Approach) APU & PPT Sebagai Dasar Pengendalian Internal : Risk Appetite, Risk Tolerance, Risk Capacity, Inherent Risk, Residual Risk Pemahaman pengendalian internal (internal control) Kaitan pengendalian internal dengan manajemen risiko APU & PPT Elemen-elemen utama pengendalian internal Model dan mekanisme 3 Lines of Defense untuk pengendalian internal penerapan APU & PPT Hambatan dalam Pengendalalian Internal penerapan APU & PPT                                                                   Fasilitator Kurnia Hadi Profesional trainer yang pernah berkarir di 3 bank multinasional (Korea Exchange Bank Danamon, Indonesia Dai-Ichi Kangyo Bank, HSBC) lebih dari 19 tahun dengan spesialisasi Trade Finance, Corporate & Institutional Banking, Cash Management, Wealth Management, Personal Financial Services, Payroll, Quality Assurance, dan Micro Banking.  Konsultan manajemen, bisnis, dan keuangan dari 2012 Pembicara dalam konferensi tingkat internasional “Commodity Trade and Finance World Asia 2012” di Marina Bay Sand hotel  di Singapore pada tanggal 28-29 Maret 2012. Fasilitator Public dan In House Training sejak tahun 2012 untuk berbagai topik manajemen, banking & finance, sales/marketing, operation, risk, dan management yang sudah membawakan lebih dari 90 kelas public dan in house training untuk perusahaan-perusahaan terkemuka di Indonesia di berbagai sektor usaha. Berpengalaman sejak 2013 memberikan pelatihan  mengenai APU-PPT, KYC/CDD dan Anti Money Laundering sebanyak 12 kelas in house dan 10 kelas public training.

Penerapan Risk Based Approach (RBA) Terkait Program APU & PPT Sektor Perbankan Berbasis POJK 2017

Training Penerapan Risk Based Approach (RBA)  mempelajari mengenai Knowledge Check, budaya sadar risiko “financial crime”, bagaimana overview kasus, trend financial crime terkini terkait pencucian uang,pendanaan terorisme, bagaimana overview PBI No 12/POJK.01/2017, bagaimana overview UU No 8 Tahun 2010 dan UU No 9 Tahun 2013 dan hal – hal lain terkaitPenerapan Risk Based Approach (RBA). Deskripsi Otoritas Jasa Keuangan telah mengeluarkan POJK terbaru No 12/POJK.01/2017 terkait dengan penerapan program APU, PPT di sektor jasa keuangan. Semakin berkembangnya kompleksitas produk, layanan jasa bank termasuk pemasarannya (multi channel marketing), serta semakin meningkatnya penggunaan teknologi informasi pada industri jasa keuangan maka semakin tinggi risiko bank digunakan sebagai sarana pencucian uang dan/atau pendanaan terorisme.  (RBA) Pelatihan ini akan memberikan panduan bagi bank dalam pembuatan pedoman & standard operating procedure (SOP) berbasis risiko (RBA) , serta pembuatan laporan terkait program anti pencucian uang & pencegahan pendanaan terorisme (APU & PPT) dengan teknis pelaksanaannya yang sistematis dan terstruktur sehingga dapat mendeteksi risiko-risiko pencucian uang, pendanaan terorisme secara dini.  Pelatihan Penerapan Risk Based Approach (RBA)akan membahas studi kasus pencucian uang, pendanaan terorisme baik domestik maupun internasional. (RBA) Sasaran Pelatihan Memberikan skill dan pengetahuan bagi para karyawan yang berhubungan dengan customer pada khususnya dan para karyawan pada umumnya untuk hal-hal sbb: budaya sadar risiko pencucian uang, pendanaan terorisme pada setiap karyawan terutama petugas marketing, account officer, front liner (teller, customer service), dan operation. (RBA) teknik mitigasi risiko-risiko berdasarkan pendekatan risiko (risk based approach) yang mungkin timbul pada area yang rentan dengan pencucian uang dan pendanaan terorisme sesuai dengan POJK,  dan UU terkait. (RBA) memberikan panduan penerapan prinsip customer due diligence (CDD) yang applicable dan dibutuhkan oleh sektor perbankan sekarang ini. (RBA) Target Peserta Karyawan front liner, middle management yang berhubungan dengan customer, unit kerja atau pejabat yang bertanggung jawab atas penerapan program APU-PPT, legal, GCG, corporate secretary, audit internal, divisi kepatuhan, petugas front liner, dll di sektor perbankan. (RBA) Outline Materi Otoritas Jasa Keuangan telah mengeluarkan POJK terbaru No 12/POJK.01/2017 terkait dengan penerapan program APU dan PPT di sektor jasa keuangan. Semakin berkembangnya kompleksitas produk, layanan jasa bank termasuk pemasarannya (multi channel marketing), serta semakin meningkatnya penggunaan teknologi informasi pada industri jasa keuangan maka semakin tinggi risiko bank digunakan sebagai sarana pencucian uang dan/atau pendanaan terorisme. (RBA) Pelatihan Penerapan Risk Based Approach (RBA) akan memberikan panduan bagi bank dalam pembuatan pedoman & standard operating procedure (SOP) berbasis risiko (RBA) , serta pembuatan laporan terkait program anti pencucian uang & pencegahan pendanaan terorisme (APU & PPT) dengan teknis pelaksanaannya yang sistematis dan terstruktur sehingga dapat mendeteksi risiko-risiko pencucian uang dan pendanaan terorisme secara dini.  Pelatihan Penerapan Risk Based Approach (RBA) akan membahas studi kasus pencucian uang, pendanaan terorisme baik domestik maupun internasional. (RBA) Knowledge Check Budaya sadar risiko “financial crime” Overview kasus  dan trend financial crime terkini terkait pencucian uang, pendanaan terorisme.(RBA) Overview PBI No 12/POJK.01/2017.(RBA) Overview UU No 8 Tahun 2010 dan UU No 9 Tahun 2013.(RBA) Overview Peraturan Presiden No 13 Tahun 2018 Peran, fungsi petugas UKK (Unit Kerja Khusus) dalam Peranan Penerapan CDD berbasis risiko.(RBA) Prinsip Customer Due Dilligence (CDD) Kewajiban mengimplementasikan Prinsip CDD Jenis CDD Proses CDD, Penerapannya Hubungan antara CDD dan APU-PPT Pemantauan profil nasabah/transaksi nasabah Pembuatan Profil Nasabah Berdasarkan Risiko (RBA) dengan Pendekatan 4 Faktor Risiko Utama nasabah; negara/area geografis/yurisdiksi; produk/jasa/transaksi; atau jaringan distribusi (delivery channels) Pemahaman Definisi-Definisi Terkait RBA : Risk Appetite, Risk Tolerance, Risk Capacity, Inherent Risk, Residual Risk Enam (6) Tahap Siklus Pendekatan Berbasis Risiko (RBA) Penanganan customer berisiko tinggi (high risk customer). (RBA) Teknik Identifikasi Aktifitas Transaksi Mencurigakan (TKM) Berbagai teknis money laundering (ML) dan pendanaan terorisme dengan menggunakan berbagai produk sektor perbankan.(RBA) Latihan pembuatan matrix risiko (likelihood dan impact) nasabah berbasis RBA dan penerapannya terhadap pemantauan TKM dan pengkinian data.(RBA) Fasilitator Kurnia Hadi Profesional trainer yang pernah berkarir di 3 bank multinasional (Korea Exchange Bank Danamon, Indonesia Dai-Ichi Kangyo Bank, HSBC) lebih dari 19 tahun dengan spesialisasi Trade Finance, Corporate & Institutional Banking, Cash Management, Wealth Management, Personal Financial Services, Payroll, Quality Assurance, Micro Banking. Konsultan manajemen, bisnis,  keuangan dari 2012 Pembicara dalam konferensi tingkat internasional “Commodity Trade and Finance World Asia 2012” di Marina Bay Sand hotel  di Singapore pada tanggal 28-29 Maret 2012. Fasilitator Public,In House Training sejak tahun 2012 untuk berbagai topik manajemen, banking & finance, sales/marketing, operation, risk,management yang sudah membawakan lebih dari 90 kelas public, in house training untuk perusahaan-perusahaan terkemuka di Indonesia di berbagai sektor usaha. Berpengalaman sejak 2013 memberikan pelatihan  mengenai APU-PPT, KYC/CDD, Anti Money Laundering sebanyak 12 kelas in house dan 10 kelas public training.

Mitigasi Risiko Pencucian Uang Dan Pendanaan Terorisme Terkait Transaksi Keuangan Luar Negeri

Deskripsi Mitigasi Risiko Pencucian Uang Dan Pendanaan Terorisme Terkait Transaksi Keuangan Luar Negeri – Bank devisa memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap aktivitas pencucian uang dan pendanaan terorisme dibandingkan dengan bank non devisa. Hal ini dikarenakan adanya transaksi-transaksi keuangan yang berhubungan dengan pihak luar yurisdiksi Indonesia, seperti Letter of Credit, Standby Letter of Credit, Bank Garansi, Telegraphic Transfer. Pelaku kejahatan keuangan tersebut bukan saja dari dalam negeri (WNI) tetapi juga melibatkan pihak luar negeri (WNA) sehingga diperlukan skill KHUSUS dalam proses identifikasi, verifikasi, dan pemantauan transaksi keuangan mencurigakan (TKM). Bank devisa perlu menyadari bahwa proses pencucian uang seperti placement, layering, dan integration akan lebih mudah jika menggunakan transaksi luar negeri. Fakta-fakta telah membuktikan bank-bank devisa global dunia juga masih terlibat transaksi pencucian uang dan pendanaan terorisme yang berdampak bukan saja merugikan bank secara finansial tetapi juga telah merusak REPUTASI bank. Bank devisa memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap aktivitas pencucian uang dan pendanaan terorisme dibandingkan dengan bank non devisa. Hal ini dikarenakan adanya transaksi-transaksi keuangan yang berhubungan dengan pihak luar yurisdiksi Indonesia, seperti Letter of Credit, Standby Letter of Credit, Bank Garansi, Telegraphic Transfer. Pelaku kejahatan keuangan tersebut bukan saja dari dalam negeri (WNI) tetapi juga melibatkan pihak luar negeri (WNA) sehingga diperlukan skill KHUSUS dalam proses identifikasi, verifikasi, dan pemantauan transaksi keuangan mencurigakan (TKM). Bank devisa perlu menyadari bahwa proses pencucian uang seperti placement, layering, dan integration akan lebih mudah jika menggunakan transaksi luar negeri. Fakta-fakta telah membuktikan bank-bank devisa global dunia juga masih terlibat transaksi pencucian uang dan pendanaan terorisme yang berdampak bukan saja merugikan bank secara finansial tetapi juga telah merusak REPUTASI bank. Pelatihan ini akan memberikan pengetahuan dan pemahaman cara memitigasi risiko bank terhadap pencucian uang dan pendanaan terorisme terkait transaksi keuangan luar negeri. Berbagai skema kasus pencucian uang dan pendanaan terorisme akan dikupas sehingga dapat menjadi pembelajaran yang baik. Berbagai BEST PRACTICES strategi mitigasi risiko pencucian uang dan pendanaan terorisme akan didiskusikan juga. Manfaat Pelatihan Memiliki budaya sadar akan risiko pencucian uang dan pendanaan terorisme terkait transaksi keuangan lar negeri pada khususnya. Memahami teknik melakukan identifikasi, verifikasi dari calon nasabah korporasi Memahami teknik pemantauan transaksi keuangan luar negeri dengan melakukan risk assessment Memahami panduan dan best practice penerapan KYC terkait transaksi keuangan luar negeri. Profile Peserta Karyawan frontline, pemasar, analis kredit, internal audit, treasury, koresponden, akuntansi, manajemen risiko kepatuhan, dll. Outline Materi Knowledge Check APU dan PPT Budaya sadar risiko pencucian uang dan pendanaan terorisme Overview kasus  dan trend financial crime terkini terkait pencucian uang dan pendanaan terorisme dengan media transaksi keuangan luar negeri Overview PBI No 12/POJK.01/2017, SEOJK No 32/SEOJK.03/2017 Overview UU No 8 Tahun 2010 dan UU No 9 Tahun 2013 Overview Peraturan Presiden No 13 Tahun 2018 Proses KYC, KYCC, KYN, KYB, KYBO Pemahaman berbagai produk dan jasa terkait transaksi keuangan luar negeri Letter of Credit, Bank Garansi, Telegraphic Transfer, Collection Risk Based CDD Bank Koresponden Memahami peringkat bank koresponden dan bank-bank terlibat dalam transaksi keuangan internasional Indikator Bank Koresponden berpotensi melakukan aktivitas transaksi pencucian uang dan pendanaan terorisme Risiko-risiko potensial dan mitigasinya dari pihak-pihak terlibat dalam transaksi keuangan perdagangan terkait Letter of Credit, SKBDN, Bank Garansi Risiko Applicant Risiko Beneficiary Risiko Issuing Bank Risiko Advising Bank Risiko Confirming Bank Risiko Nominated Bank Pembahasan studi kasus modus pencucian uang dan pendanaan terorisme dalam transaksi keuangan luar negeri Fasilitator Kurnia Hadi Profesional trainer yang pernah berkarir di 3 bank multinasional (Korea Exchange Bank Danamon, Indonesia Dai-Ichi Kangyo Bank, HSBC) lebih dari 19 tahun dengan spesialisasi Trade Finance, Corporate & Institutional Banking, Cash Management, Wealth Management, Personal Financial Services, Payroll, Quality Assurance, dan Micro Banking. Konsultan manajemen, bisnis, dan keuangan dari 2012 Pembicara dalam konferensi tingkat internasional “Commodity Trade and Finance World Asia 2012” di Marina Bay Sand hotel  di Singapore pada tanggal 28-29 Maret 2012. Fasilitator Public dan In House Training sejak tahun 2012 untuk berbagai topik manajemen, banking & finance, sales/marketing, operation, risk, dan management yang sudah membawakan lebih dari 90 kelas public dan in house training untuk perusahaan-perusahaan terkemuka di Indonesia di berbagai sektor usaha. Berpengalaman sejak 2013 memberikan pelatihan  mengenai APU-PPT, KYC/CDD dan Anti Money Laundering sebanyak 12 kelas in house dan 10 kelas public training.

Membangun Budaya Risiko Di Sektor Jasa Keuangan

Deskripsi Intensitas transaksi keuangan yang semakin meningkat, persaingan bisnis yang semakin ketat di sektor Jasa Keuangan, serta belum pulihnya pelemahan ekonomi global maupun domestik Indonesia harus disikapi dengan bijaksana oleh PJK (Penyedia Jasa Keuangan). Semakin banyak cabang dan produk PJK akan meningkatkan potensi risiko PJK. Berbagai kasus financial crime seperti cyber crime, money laundering, terrorist financing, fraud kredit, serta meningkatnya NPF perlu diwaspadai dengan cermat. PJK harus memiliki budaya risiko yang sesuai dengan visi dan misi organisasi. Budaya risiko bukan hanya tanggung jawab divisi Manajemen Risiko saja tetapi adalah tanggung jawab bersama semua stakeholders dalam organisasi PJK. Organisasi PJK tanpa budaya risiko yang kuat dapat menimbulkan masalah di kemudian hari. Pelatihan ini akan memberikan panduan bagi PJK dalam membangun budaya risiko yang sesuai dengan visi dan misi organisasi. Para peserta akan diberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai risiko, cara mengidentifikasi risiko, dan mengelola risiko, hambatan-hambatan didalam penerapan budaya risiko, serta strategi membangun budaya risiko efektif dan terukur. Berbagai kasus terkait budaya risiko akan dibahas untuk menambah wawasan peserta. Sasaran Pelatihan Memberikan skill dan pengetahuan bagi para karyawan yang berhubungan dengan customer pada khususnya dan para karyawan pada umumnya untuk hal-hal sbb: budaya sadar risiko terkait dengan bisnis PJK seperti fraud, pencucian uang, pendanaan terorisme pada setiap karyawan terutama petugas marketing, account officer, front liner (teller, customer service), dan operation. teknik mitigasi risiko-risiko berdasarkan pendekatan risiko (risk based approach) yang mungkin timbul pada area yang rentan dengan aktivitas fraud, pencucian uang dan pendanaan terorisme sesuai dengan POJK,  dan UU terkait. memberikan panduan penerapan prinsip customer due diligence (CDD) yang applicable dan dibutuhkan oleh PJK sekarang ini. Target Peserta Karyawan front liner, middle management yang berhubungan dengan customer, unit kerja atau pejabat yang bertanggung jawab atas penerapan program APU-PPT, legal, GCG, corporate secretary, audit internal, divisi kepatuhan, petugas front liner, dll di sektor jasa keuangan. Outline Materi Day 1 : 08.30 – 09.00       Knowledge Check 09.00 – 10.00       Overview Berbagai Kasus di Sektor Jasa Keuangan Domestik dan Global 10.00 – 10.15       Coffee Break 10.15 – 12.00       Budaya Risiko                                 •  Pengertian                                 •  Tujuan                                 •  Hambatan & Tantangan Budaya Risiko                                 •  Elemen Kunci dari Budaya Risiko yang Kuat 12.00 – 13.00       Lunch 13.00 – 15.00       Manajemen Risiko                                 •  Pengertian dan tujuan                                 •  Pemahaman Risk Appetite, Risk Tolerance, Risk Capacity                                 •  Pemahaman Inherent Risk dan Residual Risk 15.00 – 15.15       Coffee Break 15.15 – 16.00       Studi Kasus 1 Day 2: 08.30 – 10.00       Langkah-Langkah Membangun Budaya Risiko 10.00 – 10.15       Coffee Break 10.15 – 12.00       Meningkatkan Budaya Risiko dengan Pendekatan RBA (Risk Based Approach)                                 •  Pengertian RBA                                 •  Hubungan RBA dengan Budaya Risiko 12.00 – 13.00       Lunch 13.00 – 15.00       Penerapan Budaya Risiko dengan 3 Lines of Defense                                 •  Pengertian dan Tujuan 3 Lines of Defense                                 •  Kunci Sukses 3 Lines of Defense dalam Mengelola Risiko 15.00 – 15.15       Coffee Break 15.15 – 16.00       Studi Kasus 2 Fasilitator Kurnia Hadi Profesional trainer yang pernah berkarir di 3 bank multinasional (Korea Exchange Bank Danamon, Indonesia Dai-Ichi Kangyo Bank, HSBC) lebih dari 19 tahun dengan spesialisasi Trade Finance, Corporate & Institutional Banking, Cash Management, Wealth Management, Personal Financial Services, Payroll, Quality Assurance, dan Micro Banking. Konsultan manajemen, bisnis, dan keuangan dari 2012 Pembicara dalam konferensi tingkat internasional “Commodity Trade and Finance World Asia 2012” di Marina Bay Sand hotel  di Singapore pada tanggal 28-29 Maret 2012. Fasilitator Public dan In House Training sejak tahun 2012 untuk berbagai topik manajemen, banking & finance, sales/marketing, operation, risk, dan management yang sudah membawakan lebih dari 90 kelas public dan in house training untuk perusahaan-perusahaan terkemuka di Indonesia di berbagai sektor usaha. Berpengalaman sejak 2013 memberikan pelatihan  mengenai APU-PPT, KYC/CDD dan Anti Money Laundering sebanyak 12 kelas in house dan 10 kelas public training.

Investigasi Fraud (Protecting Company Asset and Reputation)

Deskripsi Investigasi Fraud (Protecting Company Asset and Reputation) – Kasus-kasus fraud semakin beragam modus dan pelakunya (fraudster).  Hal ini tidak terjadi di organisasi kecil yang minim pengawasan dan pengendalian internalnya tetapi juga terjadi di organisasi menengah besar.  Bisa dikatakan kasus fraud tidak melihat jenis kelamin, pangkat, jabatan tetapi pada umumnya adanya kesempatan, pembenaran diri, dan tekananlah yang menjadi factor-faktor utama terjadinya fraud. Kemampuan organisasi didalam melakukan investasi fraud harus menjadi suatu kebutuhan dalam organisasi untuk melindungi asset dan reputasi organisasi. Pelatihan ini akan memberikan langkah-langkah investigasi dan audit fraud serta mitigasi manajemen risiko fraud yang disusun secara sistematis sehingga dapat membantu perusahaan dalam meminimalisir potensi-potensi fraud terjadi.  Pelatihan ini juga akan mengupas kasus-kasus fraud baik domestik maupun internasional. Sasaran Pelatihan Training ini disusun untuk membantu perusahaan dalam upaya meningkatkan kemampuan para karyawan untuk melakukan investigasi dan audit fraud serta mampu mendeteksi, mencegah terjadinya fraud di tempat kerja sehingga membantu perusahaan dalam menjaga aset dan reputasinya. Target Peserta Para karyawan di semua departemen khususnya bagian Risk, Internal Audit, Kepatuhan, HRD. Metode Pelatihan : Ceramah Diskusi Kelompok Studi Kasus Outline Materi : verview Kasus dan Faktor Penyebab Fraud diberbagai lembaga keuangan bank dan non bank (asuransi, multifinance) Investigasi Fraud Definisi dan berbagai tipe fraud 6 Sifat dari Fraudster Pengertian dan tujuan investigasi fraud Aktivitas investigasi fraud Hambatan melakukan investigasi fraud Bagaimana mengevaluasi hasil temuan investigasi fraud? Pihak yang wajib dilaporkan hasil investigasi fraud Berbagai pendekatan investigasi fraud Prinsip 3 C dari Manajemen Investigasi Fraud Dasar Perencanaan Investigasi Fraud 5 Langkah Proses Investigasi Fraud Berbagai Jenis Evidence (Bukti) Berbagai Sumber Dokumen Manajemen Dokumen Evidence (Bukti) Proses Pembuktian Logika argumentasi Jenis argumentasi 6. Strategi Interview Investigasi Fraud Persiapan Interview Tips efektif Interview Memahami berbagai hambatan dalam interview 7. Pembuatan Laporan Investigasi Fraud Komponen penting dari laporan investigasi Struktur ideal dari isi laporan investigasi Fasilitator Kurnia Hadi Profesional trainer yang pernah berkarir di 3 bank multinasional (Korea Exchange Bank Danamon, Indonesia Dai-Ichi Kangyo Bank, HSBC) lebih dari 19 tahun dengan spesialisasi Trade Finance, Corporate & Institutional Banking, Cash Management, Wealth Management, Personal Financial Services, Payroll, Quality Assurance, dan Micro Banking.  Konsultan manajemen, bisnis, dan keuangan dari 2012 Pembicara dalam konferensi tingkat internasional “Commodity Trade and Finance World Asia 2012” di Marina Bay Sand hotel  di Singapore pada tanggal 28-29 Maret 2012. Fasilitator Public dan In House Training sejak tahun 2012 untuk berbagai topik manajemen, banking & finance, sales/marketing, operation, risk, dan management yang sudah membawakan lebih dari 90 kelas public dan in house training untuk perusahaan-perusahaan terkemuka di Indonesia di berbagai sektor usaha. Berpengalaman sejak 2013 memberikan pelatihan  mengenai APU-PPT, KYC/CDD dan Anti Money Laundering sebanyak 12 kelas in house dan 10 kelas public training.

Implementasi Anti Fraud Awareness Di Sektor Asuransi Berbasis SEOJK No 46/SEOJK.05/2017

Deskripsi Implementasi Anti Fraud Awareness Di Sektor Asuransi – Kasus-kasus fraud di perusahaan asuransi telah merugikan biaya miliaran dolar per tahun di seluruh dunia seperti di Amerika Serikat (lebih dari USD40 miliar per tahun), Di Inggris ditemukan lebih dari 130 klaim palsu senilai USD1,7 miliar pada tahun 2015 (sumber: Asosiasi Penanggung Inggris).  Aktivitas fraud adalah pintu masuk untuk aktivitas keuangan lanjutan seperti pencucian uang dan pendanaan terorisme. Teknik fraud di sektor asuransi pun semakin canggih mengikuti kemajuan teknologi dan lemahnya pengawasan internal.  Internal dan eksternal fraudsters semakin kreatif dalam membobol perusahaan asuransi yang lemah dalam implementasi dan pengawasan aktivitas fraud.  Oleh karena itu diperlukan pemahaman dan strategi anti fraud yang sesuai dengan kompleksitas bisnis perusahaan asuransi sebagaimana diminta oleh OJK dalam SEOJK No 46/SEOJK.05/2017. Sasaran Pelatihan Training Implementasi Anti Fraud Awareness Di Sektor Asuransi disusun untuk membantu perusahaan dalam upaya meningkatkan kemampuan para karyawan untuk memahami dan mampu mendeteksi, mencegah terjadinya fraud di tempat kerja sehingga membantu perusahaan dalam menjaga aset dan reputasinya. Target Peserta Para karyawan di semua departemen khususnya bagian Kepatuhan, Risk, Internal Audit, Sales/Marketing, Finance, Operation, HRD. Metode Pelatihan Ceramah Diskusi Kelompok Studi Kasus Outline Materi Hari Pertama: 09.00 – 09.30            Knowledge Check 09.30 – 10.00 Overview Penerapan Anti Fraud di Sektor Asuransi Overview SEOJK No 46/SEOJK.05/2017 10.00 – 10.15            Coffee Break 10.15 – 11.00 Pengertian Fraud Faktor- Faktor  Pemicu Terjadinya Fraud 11.00 – 12.00            Identifikasi Internal dan External Fraudsters 12.00 – 13.00            Lunch 13.00 –  14.00            Sepuluh (10)  Tipe Fraud Umum di Sektor Asuransi 14.00 – 15.00            Enam (6) Langkah Pencegahan Fraud Di Sektor Asuransi 15.00 – 15.15            Coffee break 15.15 – 16.00            Case Study 1 Hari Kedua: 09.00 – 10.00            Langkah-langkah Penerapan Anti Fraud (Pencegahan, Deteksi, Investigasi, dan Tindak Lanjut fraud) 10.00 – 10.15            Coffee break 10.15 – 11.15            Penerapan Proses Pencegahan & Deteksi 11.15 – 12.00            Penerapan Proses Investigasi dan Tindak Lanjut 12.00 – 13.00            Lunch 13.00 – 15.00            Whistle Blower System sebagai Kunci Sukses Penerapan Anti Fraud Awareness Terintegrasi 15.00 – 15.15            Coffee break 15.15 – 16.00            Case Study 2 Fasilitator Kurnia Hadi Profesional trainer yang pernah berkarir di 3 bank multinasional (Korea Exchange Bank Danamon, Indonesia Dai-Ichi Kangyo Bank, HSBC) lebih dari 19 tahun dengan spesialisasi Trade Finance, Corporate & Institutional Banking, Cash Management, Wealth Management, Personal Financial Services, Payroll, Quality Assurance, dan Micro Banking.  Konsultan manajemen, bisnis, dan keuangan dari 2012 Pembicara dalam konferensi tingkat internasional “Commodity Trade and Finance World Asia 2012” di Marina Bay Sand hotel  di Singapore pada tanggal 28-29 Maret 2012. Fasilitator Public dan In House Training sejak tahun 2012 untuk berbagai topik manajemen, banking & finance, sales/marketing, operation, risk, dan management yang sudah membawakan lebih dari 90 kelas public dan in house training untuk perusahaan-perusahaan terkemuka di Indonesia di berbagai sektor usaha. Berpengalaman sejak 2013 memberikan pelatihan  mengenai APU-PPT, KYC/CDD dan Anti Money Laundering sebanyak 12 kelas in house dan 10 kelas public training.